Jakarta, IDN Times – Perang di Ukraina membawa keuntungan ekonomi tak terduga bagi Korea Utara (Korut), dengan pendapatan terkait sektor militer sepanjang 2022-2025 diperkirakan menembus 14 miliar dolar AS (sekular Rp251,58 triliun). Bloomberg Economics memperkirakan pemasukan tersebut menjadi bagian dari total pendapatan luar negeri Pyongyang yang mencapai 22 miliar dolar AS (sekitar Rp395,34 triliun), mencakup kesepakatan senjata, pengiriman pasukan ke Rusia, perdagangan dengan China, serta tenaga kerja di luar negeri.
Peningkatan pendapatan yang sangat signifikan ini terjadi di tengah berlakunya sanksi ketat dari dunia internasional. Kenaikan pendapatan yang hampir empat kali lipat dibandingkan empat tahun sebelumnya berlangsung ketika sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) masih berlaku, sementara Ukraina memperkirakan Korut memasok sekitar separuh peluru artileri 122 mm dan 152 mm yang dipakai Rusia di garis depan pada 2024 dan 2025.
Pasokan tersebut mencakup meriam gerak sendiri, peluncur roket ganda, dan rudal balistik, sedangkan sekitar 16 ribu hingga 22 ribu tentara Pyongyang telah beroperasi bersama pasukan Rusia di wilayah Kursk dengan kemungkinan tambahan pengerahan hingga 50 ribu prajurit menurut Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Langkah ini semakin mempertegas perluasan peran militer Pyongyang dalam konflik regional tersebut.
