Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

PBB Ungkap Lebih dari 95 Persen Tawanan Perang Ukraina Disiksa Rusia

PBB Ungkap Lebih dari 95 Persen Tawanan Perang Ukraina Disiksa Rusia
ilustrasi bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (Makaristos, Public Domain, via Wikimedia Commons)

  • OHCHR melaporkan lebih dari 95 persen tawanan perang Ukraina mengalami penyiksaan di tahanan Rusia, termasuk 129 eksekusi setelah penangkapan dan 48 kematian dalam penahanan.
  • Lebih dari separuh tawanan yang diwawancarai mengaku mengalami kekerasan seksual; sidang juga menyoroti penahanan ilegal lebih dari 16.000 warga sipil Ukraina dan kesaksian penyintas.
  • Rusia membantah tuduhan, sementara PBB mencatat perlakuan buruk terhadap tawanan Rusia oleh Ukraina pada tahap awal penangkapan; akses pemeriksaan dan penanganan pelanggaran disebut berbeda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times — Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) memaparkan laporan mengerikan mengenai nasib tawanan perang asal Ukraina dalam sidang informal Dewan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat, pada Senin (10/8/2026). Laporan tersebut menyebutkan bahwa lebih dari 95 persen tawanan perang Ukraina mengalami penyiksaan kejam dan perlakuan tidak manusiawi selama berada di dalam tahanan militer Rusia.

Sidang berformat Arria-formula yang diprakarsai oleh Latvia dan Inggris serta didukung oleh Ukraina ini digelar untuk mengungkap pelanggaran hukum kemanusiaan internasional secara sistematis. Dalam pertemuan tersebut, beberapa mantan tawanan perang dan penyintas sipil Ukraina hadir langsung untuk memberikan kesaksian mengenai kekejaman fisik dan mental yang mereka alami.

  1. 1. Penyiksaan sistematis dan kekerasan seksual yang meluas

    ilustrasi kekerasan seksual
    ilustrasi kekerasan seksual (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Hak Asasi Manusia, Claudia Fuentes Julio, menyatakan bahwa pelanggaran tersebut terjadi secara masif. OHCHR mencatat adanya eksekusi mati terhadap 129 tawanan perang Ukraina sesaat setelah mereka ditangkap, serta 48 tahanan tewas di dalam tempat penahanan akibat penyiksaan parah atau ketiadaan akses medis.

    Laporan PBB juga menyoroti kebrutalan fisik yang melampaui batas kemanusiaan. Lebih dari separuh tawanan perang yang diwawancarai mengaku menjadi korban kekerasan seksual di penjara Rusia. Para korban dipaksa telanjang, dipukuli pada bagian vital, hingga disengat aliran listrik pada alat kelamin dan puting.

    Selain militer, sidang PBB menyoroti nasib lebih dari 16.000 warga sipil Ukraina yang ditahan secara ilegal. Salah satu penyintas sipil, Leniie Umerova (aktivis Tatar Crimea), bersaksi bahwa dirinya diculik pada Desember 2022 saat hendak menjenguk ayahnya yang sakit keras. Selama 21 bulan ditahan sebelum akhirnya ditukar, Umerova sengaja dipindahkan ke tujuh fasilitas tahanan berbeda dalam enam bulan pertama untuk mengisolasinya dari keluarga dan pengacara.

  2. 2. Kesaksian pilu veteran Azovstal

    ilustrasi tentara
    ilustrasi tentara (pexels.com/Pixabay)

    Seorang tentara aktif Ukraina, Juan Alberto Leyva Garcia, membagikan kisah kelamnya selama 1.183 hari berada di penjara Rusia. Dilansir The Strait Times, Garcia, yang merupakan veteran pertahanan Pabrik Baja Azovstal dan memiliki darah keturunan Kuba-Ukraina, menuturkan bahwa penjaga Rusia secara khusus menargetkannya karena latar belakang keturunan Kuba dan nama Latin miliknya. Penjaga Rusia murka melihat seorang warga berdarah Kuba bertempur membela Ukraina, sehingga menyiksanya dan menuduhnya sebagai tentara bayaran serta mata-mata.

    "Ya, saya disiksa," ungkap Garcia kepada wartawan pascapertemuan tersebut. Ia bersaksi mengalami pukulan harian, sengatan listrik, hingga latihan fisik berlebih di suhu minus 30 derajat Celsius. Garcia juga harus menyaksikan dua rekannya dipukuli hingga tewas di kamp tahanan wilayah Donetsk.

  3. 3. Bantahan Rusia dan ketegasan akuntabilitas hukum

    ilustrasi bendera Rusia
    ilustrasi bendera Rusia (pexels.com/Сергей Велов)

    Pemerintah Rusia membantah keras seluruh tuduhan tersebut. Wakil Perwakilan Rusia untuk PBB, Maria Zabolotskaya, menyebut laporan itu sebagai kampanye disinformasi dan balik menuding bahwa tentara Rusia yang ditawan Ukraina juga mengalami kekerasan.

    Temuan PBB sendiri memang mencatat sekitar separuh dari tawanan perang Rusia yang diwawancarai mengalami perlakuan buruk pada tahap awal penangkapan oleh Ukraina. Namun, PBB dan penasihat hukum Ukraina menegaskan reaksinya jauh berbeda. Ukraina membuka akses penuh bagi Palang Merah Internasional (ICRC) dan lembaga PBB untuk memeriksa kamp tahanan mereka, serta secara terbuka melakukan penyelidikan kriminal terhadap tentaranya sendiri jika terbukti melanggar. Sebaliknya, Rusia memblokir akses ICRC ke lebih dari 300 lokasi tahanan rahasia mereka.

    Wakil Perwakilan Tetap Ukraina untuk PBB, Volodymyr Pavlichenko, mendesak komunitas internasional untuk meningkatkan tekanan diplomatik kepada Moskow guna menegakkan akuntabilitas hukum dan menyelamatkan ribuan warga Ukraina yang masih terisolasi di penjara-penjara Rusia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More