Ukraina Usulkan Gencatan Senjata dengan Rusia di Laut Hitam Demi Jaga Pangan Global

- Ukraina mengusulkan penghentian serangan terhadap kapal sipil di Laut Hitam untuk membuka kembali jalur ekspor pangan, saat musim panen dimulai dan pengiriman dari pelabuhannya hampir terhenti.
- Serangan maritim dan pelabuhan mengganggu perdagangan gandum kedua negara: ekspor Rusia diperkirakan turun, sementara pelabuhan Ukraina yang menangani mayoritas pengiriman gandum dan bunga matahari turut diserang.
- Usulan muncul setelah serangan Ukraina ke pangkalan Novorossiysk dan terminal gandum Rusia; Moskow menuduh Kiev mengacaukan pasar pangan global, tetapi menyatakan belum menerima proposal resmi.
Jakarta, IDN Times – Ukraina mengusulkan kesepakatan dengan Rusia untuk menghentikan serangan terhadap kapal sipil di Laut Hitam. Kedua negara memperingatkan bahwa serangkaian serangan terhadap kapal dan pelabuhan yang semakin intensif dalam beberapa pekan terakhir telah mengancam jalur perdagangan serta pasokan pangan global.
Dilansir The Guardian, usulan Kiev bertujuan membuka kembali jalur pelayaran yang penting bagi ekspor pangan kedua negara. Langkah tersebut muncul saat musim panen Ukraina dimulai, sementara aktivitas pengiriman dari pelabuhan negara tersebut hampir terhenti.
Ukraina dan Rusia sebelumnya menandatangani kesepakatan yang dimediasi oleh Turki dan PBB untuk menghentikan serangan maritim. Inisiatif biji-bijian Laut Hitam tersebut berlangsung sejak Juli 2022 hingga Juli 2023 sebelum Kremlin menolak memperpanjangnya dengan alasan sanksi Barat yang merugikan sektor pertanian Rusia.
1. Laut Hitam menjadi jalur penting ekspor pangan Ukraina dan Rusia

ilustrasi kapal (unsplash.com/Anthanasios Papazacharias) Laut Hitam merupakan jalur utama perdagangan bagi Ukraina dan Rusia, khususnya untuk mengirim gandum serta komoditas pangan penting ke berbagai negara. Sejak Juli, Kiev secara efektif menutup jalur tersebut bagi pelayaran komersial Rusia dan melancarkan serangan drone yang menghantam hampir 220 kapal sipil di Laut Azov dan Laut Hitam.
Kondisi tersebut berdampak pada ekspor gandum Rusia. Konsultan pertanian, SovEcon, memperkirakan Negara Beruang Merah itu hanya akan mengekspor sekitar 3 hingga 3,4 juta ton gandum pada Agustus. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata ekspor Agustus selama lima tahun terakhir yang mencapai sekitar 5 juta ton, serta berpotensi menjadi yang terendah sejak musim pertanian 2016-2017.
Di sisi lain, Moskow juga meningkatkan serangan terhadap sejumlah pelabuhan di wilayah selatan Ukraina. Sekitar 90 persen pengiriman gandum dan bunga matahari Ukraina berangkat dari Odesa serta pelabuhan terdekat, Chornomorsk dan Pivdenne.
Ekspor Kiev, terutama gandum, memiliki peran penting bagi sejumlah negara di Asia dan Afrika. Data Uni Eropa menunjukkan bahwa sejumlah negara Asia dan Afrika menerima sekitar 92 persen gandum Ukraina pada periode 2016-2021, sebelum invasi penuh Rusia dimulai pada awal 2022, mengutip CNBC.
2. Ukraina serang pangkalan armada Laut Hitam Rusia

ilustrasi tentara Ukraina (pixabay.com/LukasJohnns) Usulan gencatan senjata muncul setelah Kiev melancarkan serangan besar ke Novorossiysk, salah satu pangkalan armada Laut Hitam Rusia. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, pada Rabu mengatakan serangan tersebut melibatkan roket, pesawat, dan drone laut. Dia mengklaim serangannya dapat dibenarkan karena merespons perang yang dilancarkan oleh Moskow.
Zelenskyy mengatakan pihaknya sukses menghancurkan sejumlah kapal perang Rusia, termasuk dua fregat, sebuah kapal pendarat besar, korvet, dan kapal lainnya. Menurutnya, kapal-kapal tersebut sebelumnya bersembunyi di Teluk Novorossiysk.
Dua terminal ekspor gandum utama juga dilaporkan menjadi sasaran Ukraina. Sementara itu, pejabat Rusia mengatakan bahwa tiga orang, termasuk seorang anak, tewas dalam serangan tersebut.
Sebagian besar armada Laut Hitam Rusia sebelumnya dipindahkan dari pelabuhan Sevastopol di Krimea yang diduduki Rusia menuju Novorossiysk. Pemindahan dilakukan setelah drone laut Ukraina menyerang kapal-kapal tersebut di bagian barat laut Laut Hitam.
3. Rusia tuduh Ukraina picu kekacauan pasar pangan global

bendera Rusia (pexels.com/Сергей Велов) Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menuduh Ukraina berusaha memicu kekacauan di pasar pangan global. Dia mengatakan bahwa tindakan tersebut menguntungkan sejumlah negara Barat, meski tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Menurut Zakharova, situasi tersebut dapat memperburuk kekurangan gandum dan pupuk serta menaikkan harga pangan global. Kondisi itu turut mengakibatkan peningkatan beban biaya bagi negara-negara berkembang dan sejumlah negara Timur.
Dilaporkan oleh CNA, Rusia belum memberikan tanggapan terkait usulan gencatan senjata yang diajukan oleh Ukraina. Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri, Alexander Grushko, mengatakan bahwa Moskow belum menerima proposal resmi terkait gencatan senjata tersebut.



















