Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Suku Bunga BI Mendekati Puncak, Obligasi Dinilai Menarik

Suku Bunga BI Mendekati Puncak, Obligasi Dinilai Menarik
WM Business Development & Market Research Head CIMB Niaga, Lanjar Nafi dalam Wealth Xpo 2026: Kelas Jurnalisme Inspiratif di Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (26/8/2026). (IDN Times/Trio Hamdani)
  • Obligasi dinilai menarik saat suku bunga acuan BI mulai mendekati puncak karena yield masih tinggi.
  • Lanjar Nafi menilai harga obligasi dapat naik ketika suku bunga melandai dan turun.
  • CIMB Niaga bersikap netral terhadap ekuitas dan emas, sementara obligasi pemerintah serta korporasi dinilai berpeluang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Obligasi dinilai menjadi instrumen investasi yang menarik saat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) mulai mendekati puncak. Kondisi tersebut dinilai menjadi momentum untuk mengunci imbal hasil atau yield obligasi yang masih tinggi.

WM Business Development & Market Research Head CIMB Niaga, Lanjar Nafi, mengatakan instrumen pasar uang seperti deposito dan reksa dana pasar uang cenderung memiliki risiko rendah dan likuid. Namun, tingkat imbal hasilnya stabil dan terbatas.

Menurut dia, imbal hasil deposito dan reksa dana pasar uang masih tinggi karena BI rate berada di level tinggi. Namun, ketika BI rate mulai mendekati puncak, imbal hasil instrumen tersebut berpotensi tertahan dibandingkan dengan instrumen investasi lain.

Berbeda dengan instrumen pasar uang, Lanjar menilai obligasi pemerintah, obligasi korporasi, dan reksa dana pendapatan tetap memiliki peluang lebih menarik.

"Ya, di saat suku bunga sudah mulai melandai dan turun, harga obligasinya naik. Dan kita masih mendapatkan harga yang relatif murah kalau kita entry saat ini," katanya dalam Wealth Xpo 2026: Kelas Jurnalisme Inspiratif di Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (26/8/2026).

  1. 1. Obligasi dinilai bisa rebound lebih cepat

    ilustrasi obligasi
    ilustrasi obligasi (vecteezy.com/Aman Ansari)

    Lanjar menjelaskan obligasi memang tetap memiliki volatilitas. Namun, instrumen tersebut dinilai dapat mengalami rebound lebih cepat ketika suku bunga sudah mencapai puncak.

    "Kenapa? Yang tadi saya bilang, di saat suku bunga sudah sampai puncaknya, orang-orang sudah mulai menganggap harga obligasi sudah murah dengan imbal hasil yang tinggi. Makanya banyak sekali orang sudah mulai akumulasi," ujarnya.

    Sementara itu, Lanjar menilai saham memiliki volatilitas paling tinggi dalam jangka pendek. Meski demikian, saham dalam jangka panjang dinilai mampu mengalahkan inflasi.

    CIMB Niaga menempatkan ekuitas pada posisi netral karena beban utang korporasi masih menjadi faktor yang menahan valuasi saham sekalipun pergerakan saham dalam setahun terakhir tercatat sembilan persen.

    "Tapi ya, kita melihat beban bunga ini masih menjadi bayangan kita sehingga kita netral dulu, selektiflah. Kalau teman-teman mau beli saham saat ini diharapkan selektif untuk saham-saham big cap, ya. Begitu pun reksa dana," ujar dia.

  2. 2. Emas hanya alternatif di tengah volatilitas

    ilustrasi koleksi batangan dan koin emas berkilauan yang melambangkan kekayaan dan investasi
    ilustrasi koleksi batangan dan koin emas berkilauan yang melambangkan kekayaan dan investasi (pexels.com/Zlaťáky.cz)

    Untuk aset alternatif, Lanjar menilai emas berada dalam posisi netral. Emas tetap berfungsi sebagai safe haven ketika terjadi ketidakpastian ekonomi. Namun, imbal hasil emas saat ini dinilai mulai tertahan dan kalah dibandingkan sejumlah instrumen investasi lain.

    Menurut Lanjar, kenaikan harga emas yang tinggi pada tahun sebelumnya tidak terlepas dari aksi pembelian emas oleh Bank of China, People's Bank of China, serta sejumlah bank di Asia. Kenaikan cadangan emas bank-bank tersebut ikut mendorong harga emas.

    Setelah itu, ketegangan geopolitik pada awal tahun membuat harga emas sempat turun dan bergerak terbatas. Meski kinerja harga emas dalam setahun mencapai 36 persen, Lanjar menilai emas tetap berfungsi sebagai alternatif saja.

    "Kita melihat harga emas enggak akan ke mana-mana dan tetap akan menjadi aset safe haven yang hanya melindungi nilai kekayaan dari volatilitas yang ada, ya. Jadi sebagai alternatif aja sebenarnya untuk emas," ujar Lanjar.

  3. 3. Saatnya akumulasi obligasi?

    Ilustrasi obligasi sebagai instrumen investasi dan surat utang untuk menggambarkan pembahasan keuangan.
    ilustrasi obligasi (pexels.com/AlphaTradeZone)

    Lanjar menilai saat ini menjadi waktu yang tepat untuk mengakumulasi obligasi pemerintah maupun obligasi korporasi. Menurut dia, harga obligasi sudah turun signifikan sehingga yield meningkat. Sementara itu, BI rate diperkirakan hanya naik satu kali lagi. Kondisi tersebut didukung oleh rupiah yang mulai stabil dan inflasi yang dinilai masih rendah.

    "Kesimpulannya dari instrumen investasi dan prospek ini, saya mau kasih gambaran: sekarang itu waktu yang tepat untuk kita mengakumulasi obligasi pemerintah ataupun korporasi. Karena harga obligasinya sudah turun signifikan, yield obligasinya itu sudah naik," kata dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More