Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kejar Target BBM E20, Danantara Ditugaskan Bangun Industrinya

3 min read
Kejar Target BBM E20, Danantara Ditugaskan Bangun Industrinya
Wisma Danantara Indonesia (IDN Times/Vadhia Lidyana)
  • Pemerintah menargetkan produksi BBM E20 tercapai dalam dua tahun dengan Danantara membangun industri pendukung.
  • Ketersediaan lahan menjadi kendala utama, dengan potensi sekitar 2 juta hektare dipetakan di sejumlah wilayah.
  • Tebu dipilih sebagai bahan baku bioetanol, sementara kebutuhan etanol E20 ditargetkan seluruhnya dari produksi dalam negeri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah menargetkan produksi bahan bakar minyak (BBM) campuran etanol 20 persen atau E20 dapat tercapai dalam dua tahun. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) akan berperan membangun industri yang dibutuhkan untuk mendukung target tersebut.

Hal itu disampaikan Menteri Koordinator (Menko) Pangan Zulkifli Hasan setelah mengikuti rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, pemerintah perlu bekerja keras agar target E20 dapat tercapai dalam dua tahun mendatang.

"Danantara yang akan membangun industrinya. Dalam 2 tahun kita harus bekerja keras melihat perkembangan dunia sekarang, kita harus mampu untuk menghasilkan E20," katanya kepada jurnalis di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (16/9/2026).

  1. 1. Pemerintah siapkan 2 juta hektare lahan

    Ilustrasi tanaman tebu yang menyimpan cadangan makanan di batang (pixabay.com/joaolimafotografias)
    Ilustrasi tanaman tebu yang menyimpan cadangan makanan di batang (pixabay.com/joaolimafotografias)

    Zulhas mengatakan ketersediaan lahan menjadi kendala utama dalam menyiapkan bahan baku E20. Pemerintah telah memetakan potensi lahan yang tersebar di sejumlah wilayah, mulai dari Kalimantan, Sumatra, Jawa, hingga Papua.

    Pemerintah menargetkan dapat menyiapkan sekitar 2 juta hektare lahan. Menurut Zulhas, ketersediaan lahan tersebut diperlukan agar kebutuhan E20 dalam dua tahun mendatang dapat dipenuhi.

    "Memang yang menjadi titik bottleneck adalah lahan. Tapi setelah dibahas tadi, ada dari Kalimantan, ada dari Sumatra, ada dari Jawa, dan ada dari Papua, kita bisa dapatkan 2 juta. Kalau kita dapatkan 2 juta tuh ya Insya Allah nanti yang E20 ini bisa kita penuhi dalam 2 tahun mendatang," ujar dia.

  2. 2. Tebu jadi pilihan bahan baku bioetanol

    ilustrasi etanol (pexels.com/ThamKC)
    ilustrasi etanol (pexels.com/ThamKC)

    Mantan Menteri Perdagangan (Mendag) itu mengatakan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman diminta menyiapkan rencana terkait lahan untuk mendukung produksi bahan baku bioetanol.

    Dari sejumlah pilihan bahan baku, pemerintah menilai tebu menjadi sumber yang paling memungkinkan untuk dikembangkan. Lahan untuk tanaman tebu akan disiapkan di sejumlah wilayah, baik di dalam maupun luar Jawa.

    "Tadi sudah dihitung kalau jagung tidak masuk hitungannya. Kalau singkong juga dihitung-hitung itu tidak mudah, tidak mudah panennya, dan seterusnya karena tidak bisa mekanisasi. Ketemu tebu," tuturnya.

  3. 3. Pemerintah tak mau impor bahan baku E20

    ilustrasi tempat penyulingan etanol (pexels.com/JJ Gouin)
    ilustrasi tempat penyulingan etanol (pexels.com/JJ Gouin)

    Zulhas mengatakan seluruh kebutuhan etanol untuk E20 ditargetkan berasal dari produksi dalam negeri. Pemerintah akan menjalankan penerapan E20 sebagai tahap awal sebelum meningkatkan kadar campuran etanol secara bertahap.

    Dalam jangka panjang, pemerintah menargetkan campuran etanol dapat mencapai E50, sebagaimana penerapan B50 pada bahan bakar diesel.

    "Iya, E20 dalam negeri semuanya. Bertahap kita akan menuju E50 seperti B50, tapi yang pertama ini E20. Jangka panjang akan menuju E50. Untuk tahap pertama tadi itu 2 juta, bottleneck-nya lahan, ya. Tapi setelah dipetakan, ditugaskan kepada BUMN dan Pak Mentan tadi dipetakan, kemungkinan kita akan dapat 2 juta itu," katanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More