Ilustrasi keuangan rumah tangga (Shutterstock/makistock)
Sementara itu, harapan konsumen terhadap kondisi ekonomi dalam enam bulan mendatang juga menunjukkan peningkatan. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) pada Januari 2026 tercatat 138,8, naik dari 135,6 pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh ekspektasi yang lebih baik terhadap penghasilan serta prospek kegiatan usaha, dengan Indeks Ekspektasi Penghasilan (IEP) mencapai 146,0 dan Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha (IEKU) tercatat 135,3.
Di sisi perilaku konsumsi, proporsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) tercatat turun menjadi 72,3 persen, dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 74,3 persen.
"Meski demikian, proporsi untuk pembayaran cicilan/utang (debt installment to income ratio) tetap stabil di angka 11,2 persen," ungkapnya.
Sementara itu, tabungan konsumen menunjukkan tren positif, dengan proporsi pendapatan yang disimpan meningkat menjadi 16,5 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 14,9 persen. Hal ini menunjukkan adanya kehati-hatian dalam pola konsumsi, di mana konsumen mulai lebih fokus untuk menyisihkan pendapatan mereka.
Pada segmen pendidikan, ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja enam bulan ke depan meningkat pada responden berpendidikan sarjana dan pascasarjana, dengan indeks masing-masing mencapai 145,2 dan 150,7. Peningkatan ini juga tercatat pada kelompok usia 20–40 tahun dan di atas 60 tahun, sementara kelompok usia 41–60 tahun mengalami penurunan dalam indeks ekspektasi lapangan kerja.
Secara keseluruhan, meskipun ada ketidakmerataan dalam persepsi berdasarkan pengeluaran, usia, dan pendidikan, data ini menunjukkan bahwa konsumen Indonesia pada awal tahun 2026 lebih optimistis terhadap kondisi ekonomi yang lebih baik, dengan harapan yang lebih tinggi terhadap prospek penghasilan dan lapangan kerja.