ilustrasi truk logistik.(pexels.com/CARLOSCRUZ ARTEGRAFIA)
Di sisi lain, biaya pengadaan kendaraan listrik masih menjadi kendala bagi perusahaan logistik yang ingin beralih ke operasional rendah emisi. Netty berharap pemerintah meninjau kembali tarif bea masuk truk listrik yang disebut mencapai 40 persen.
Menurut dia, tingginya biaya tersebut membuat perusahaan kesulitan melakukan investasi untuk mengganti armada konvensional dengan kendaraan listrik.
“Kalau bisa dari Kementerian Keuangan atau Kemenko Perekonomian, meninjau ulang tarif 40 persen biaya masuk truk listrik. Kami sangat terkendala dengan harga. Tetapi kami ingin berubah menjadi hijau,” tuturnya.
Sementara itu, Presiden UN Global Compact Network Indonesia (IGCN), Y. W. Junardy, menilai keberlanjutan lingkungan perlu masuk dalam strategi utama perusahaan. Sektor logistik, menurut dia, tidak hanya menghadapi persoalan emisi, tetapi juga harus memperhatikan keselamatan, efisiensi operasional, dan kepercayaan para pemangku kepentingan.
“Kalau kita tidak ada sustainability strategy, itu perlu embedded masuk ke dalam satu strategi perusahaan, bukan sebuah yang terpisah,” ujar Junardy.
Junardy mengatakan perusahaan perlu memiliki target keberlanjutan yang jelas dan bisa diukur. Pelaku usaha juga perlu mengetahui dampak terbesar dari kegiatan operasionalnya, menentukan target pengurangan emisi, serta menyampaikan perkembangan pencapaiannya secara terbuka.
Dia menilai asosiasi dapat membantu perusahaan meningkatkan pemahaman mengenai pengukuran dan pelaporan emisi, penggunaan teknologi, hingga akses pembiayaan untuk transisi energi. Pengurangan emisi juga perlu diikuti dengan peningkatan standar keselamatan pekerja dan pengguna jasa.
Dewan Penasihat FOLU Net Sink 2030 Kementerian Kehutanan, Agus Justianto, turut menyoroti pentingnya penerapan praktik logistik hijau di lapangan. Menurut dia, pembahasan mengenai logistik ramah lingkungan perlu dilanjutkan dengan tindakan nyata oleh pelaku industri.
Green Logistics Talk yang digelar secara berkala menjadi salah satu forum untuk membahas penerapan tersebut. Dua edisi sebelumnya mengangkat pengukuran, pengurangan, dan pengelolaan jejak karbon logistik serta ekonomi kehutanan dan logistik hijau.
“Jadi forum ini adalah forum yang konkret. Bukan hanya kita dialog, tapi ayo kita sudah mulai,” kata Agus.
Pada edisi ketiga, forum tersebut mengangkat tema Accelerating Green Logistics Indonesia sekaligus menjadi momentum peluncuran APGLI.