Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bos OJK Soroti Proyeksi IMF soal Ekonomi Global Bakal Lesu

Bos OJK Soroti Proyeksi IMF soal Ekonomi Global Bakal Lesu
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi. (dok. YouTobe OJK)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah gejolak ekonomi global.
  • IMF merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3 persen akibat perang yang berkepanjangan.
  • Tekanan geopolitik, tarif AS, dan kondisi manufaktur dunia dibahas bersama investasi AI sebagai penyeimbang prospek global.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah gejolak perekonomian global. Meski demikian, OJK menyoroti tingginya tekanan ekonomi global yang memicu penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi alias Kiki mengatakan, proyeksi pertumbuhan ekonomi global mengalami koreksi menyusul memanasnya konflik geopolitik di berbagai wilayah, dan kebijakan perdagangan negara maju.

"Pada Juli 2026, IMF merevisi ke bawah outlook pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3 persen sebagai dampak perang yang berkepanjangan," kata Kiki dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK, Selasa (4/8/2026).

1. Konflik geopolitik dan tarif baru AS picu premi risiko global

Konflik di Timur Tengah.
ilustrasi konflik di Timur Tengah (pexels.com/Ahmed akacha)

Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat usai gagalnya gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada awal Juli 2026. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak serta menaikkan tekanan di pasar energi dunia.

Selain konflik geopolitik, AS juga memberlakukan kebijakan tarif baru terhadap 60 negara mitra dagang untuk menggantikan tarif sementara yang berakhir pada 24 Juli 2024.

"Naiknya tekanan di pasar energi global serta pengenaan tarif baru membuat premi risiko global tetap tinggi dan volatilitas harga komoditas berpotensi berlanjut," ujar Kiki.

Dia menambahkan, kondisi ini menyebabkan outflow nonresiden di pasar keuangan global kembali terjadi, meskipun intensitasnya mulai menunjukkan moderasi.

2. Pertumbuhan manufaktur negara berkembang masih terbatas

ilustrasi produksi manufaktur
ilustrasi produksi manufaktur (pexels.com/Freek Wolsink)

Indikator perekonomian dunia menunjukkan ketimpangan (divergensi) antarwilayah. Aktivitas manufaktur di negara-negara maju mencatatkan perbaikan yang lebih kuat, sedangkan pertumbuhan manufaktur di negara berkembang cenderung terbatas.

Di AS, inflasi bergerak termoderasi dengan aktivitas ekonomi yang relatif stabil. Tren penurunan inflasi juga terjadi di kawasan Eropa dan Inggris.

Kiki juga menyampaikan, kondisi perekonomian di China yang masih ditopang oleh kinerja ekspor, sementara konsumsi dan investasi belum sepenuhnya pulih.

"Rilis data kuartal II menunjukkan level pertumbuhan ekonomi terendah sejak akhir 2022 dengan konsumsi dan investasi swasta yang masih lemah dan ekspor tetap menjadi penopang utama," katanya.

3. Investasi AI jadi pendorong penyeimbang ekonomi dunia

Tangan robot dan tangan manusia menunjuk tulisan AI pada latar sirkuit berwarna biru
Ilustrasi manusia dan kecerdasan buatan (Igor Omilaev / Unsplash.com)

Di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan pasar komoditas, sektor teknologi memberikan sinyal positif bagi prospek pertumbuhan global. Kiki mengungkapkan masifnya arus investasi pada teknologi akal imitasi (artificial intelligence/AI) menjadi faktor penahan pelemahan ekonomi yang lebih dalam.

"Namun, perkembangan investasi AI menjadi upside risk yang menyeimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi global," ucap dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More