Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bukan Negara Kaya, Ini Dia Juara Tingkat Kepemilikan Rumah di Dunia

Bukan Negara Kaya, Ini Dia Juara Tingkat Kepemilikan Rumah di Dunia
ilustrasi properti, perumahan (unsplash.com/Breno Assis)
Intinya Sih
  • Slovakia memimpin tingkat kepemilikan rumah dunia dengan 93,5 persen, disusul Romania dan Kroasia, menunjukkan dominasi negara-negara Eropa Timur dalam daftar ini.
  • Tingginya kepemilikan rumah di Eropa Timur dipengaruhi kebijakan pasca-komunis yang menjual rumah milik negara kepada warga dengan harga murah, menciptakan warisan aset lintas generasi.
  • Data global menegaskan bahwa kebijakan perumahan jangka panjang lebih berpengaruh terhadap kepemilikan rumah dibanding tingkat kekayaan nasional atau pendapatan masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Memiliki rumah sendiri sering dianggap sebagai salah satu tanda bahwa kondisi finansial seseorang sudah mapan. Karena anggapan itu, banyak orang mengira negara-negara terkaya pasti memiliki tingkat kepemilikan rumah tertinggi di dunia.

Namun, data terbaru justru menunjukkan fakta yang cukup mengejutkan, lho. Beberapa negara dengan persentase pemilik rumah terbesar ternyata bukan berasal dari kelompok ekonomi paling kaya.

Data dari OECD Affordable Housing Database dan penelitian mengenai kepemilikan rumah di China memperlihatkan bahwa kebijakan perumahan dalam jangka panjang ternyata punya pengaruh yang jauh lebih besar dibanding sekadar tingkat pendapatan masyarakat. Karena itu, menarik untuk melihat negara-negara mana saja yang berhasil mencatat tingkat kepemilikan rumah tertinggi beserta faktor yang mendorongnya.

1. Slovakia jadi negara dengan tingkat kepemilikan rumah tertinggi

ilustrasi Slovakia, Eropa
ilustrasi Slovakia, Eropa (unsplash.com/Laura)

Kalau kamu mengira Amerika Serikat, Jerman, atau Swiss berada di posisi teratas, hasilnya justru berbeda. Slovakia menempati peringkat pertama dengan tingkat kepemilikan rumah mencapai 93,5 persen. Artinya, hampir seluruh rumah tangga di negara tersebut tinggal di rumah milik sendiri, baik yang sudah lunas maupun masih memiliki cicilan.

Di bawah Slovakia ada Romania dengan angka 92,8 persen dan Kroasia sebesar 90,4 persen. China berada di posisi keempat dengan tingkat kepemilikan rumah mencapai 90 persen, disusul Lithuania sebesar 86,9 persen. Menariknya lagi, delapan dari sepuluh besar negara dengan tingkat kepemilikan rumah tertinggi merupakan negara yang saat ini atau sebelumnya pernah berada di bawah sistem komunis.

2. Warisan kebijakan lama masih memengaruhi kepemilikan rumah

ilustrasi Polandia, Eropa
ilustrasi Polandia, Eropa (unsplash.com/Sebastian Huber)

Tingginya angka kepemilikan rumah di Eropa Timur ternyata bukan terjadi begitu saja. Setelah runtuhnya sistem komunis, banyak rumah yang sebelumnya dimiliki negara dijual kepada para penghuninya dengan harga yang sangat murah. Kebijakan tersebut membuat jutaan keluarga akhirnya bisa memiliki rumah sendiri dalam waktu relatif singkat.

Kondisi itu masih terasa hingga sekarang karena rumah-rumah tersebut tetap menjadi aset milik keluarga yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Akibatnya, negara-negara seperti Lithuania, Bulgaria, Polandia, dan Latvia masih mempertahankan tingkat kepemilikan rumah yang sangat tinggi hingga saat ini. Data tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah puluhan tahun lalu masih memberikan dampak besar terhadap kondisi perumahan saat ini.

3. Reformasi perumahan China menciptakan jutaan pemilik rumah

ilustrasi China
ilustrasi China (pexels.com/Yudi Ding)

China juga menjadi contoh menarik dalam daftar ini. Negara tersebut mencatat tingkat kepemilikan rumah sebesar 90 persen, bahkan lebih tinggi dibanding banyak negara maju lainnya. Menurut penelitian dalam Journal of Housing and the Built Environment, salah satu faktor yang mendorong tingginya angka tersebut adalah reformasi perumahan yang mulai diterapkan pemerintah pada era 1990-an.

Saat itu, pemerintah menjual banyak apartemen milik negara kepada para penghuninya dengan harga yang mendapat subsidi. Kebijakan tersebut mempercepat pertumbuhan kepemilikan rumah di seluruh negeri. Kini, properti menjadi salah satu bentuk kekayaan terbesar bagi banyak keluarga di China dan memiliki peran penting dalam perekonomian negara tersebut.

4. Negara kaya belum tentu memiliki banyak pemilik rumah

ilustrasi Jerman, Eropa
ilustrasi Jerman, Eropa (pexels.com/Сокіл Sokil)

Fakta lain yang gak kalah menarik adalah posisi beberapa negara maju dalam daftar ini. Jerman hanya memiliki tingkat kepemilikan rumah sebesar 41 persen, sedangkan Swiss bahkan lebih rendah lagi, yaitu 38,2 persen. Angka tersebut menjadi yang terendah di antara seluruh negara yang masuk dalam pemeringkatan.

Bukan berarti masyarakat di kedua negara tersebut kesulitan membeli rumah, ya. Justru, pasar sewa di sana berkembang sangat baik dengan perlindungan hukum yang kuat bagi penyewa. Banyak orang memilih menyewa rumah dalam jangka panjang karena tetap memberikan rasa aman dan biaya yang relatif terjangkau dibanding harus membeli properti.

5. Kebijakan perumahan lebih menentukan daripada kekayaan negara

ilustrasi Australia
ilustrasi Australia (pexels.com/John Simmons)

Jika melihat keseluruhan data, terlihat bahwa tingkat kekayaan sebuah negara bukan satu-satunya faktor yang menentukan banyaknya masyarakat yang memiliki rumah sendiri. Rata-rata tingkat kepemilikan rumah di negara anggota OECD berada di angka 70,1 persen. Sementara itu, negara-negara seperti Kanada, Amerika Serikat, Australia, hingga Prancis justru berada di sekitar atau bahkan di bawah rata-rata tersebut.

Data ini memperlihatkan bahwa kebijakan perumahan, sistem pembiayaan, hingga kualitas pasar sewa memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keputusan masyarakat untuk membeli rumah. Negara yang mampu menyediakan akses kepemilikan rumah melalui kebijakan jangka panjang sering kali menghasilkan tingkat kepemilikan rumah yang lebih tinggi, meski pendapatan per kapitanya gak selalu menjadi yang terbesar di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa kesempatan memiliki rumah lebih banyak ditentukan oleh kebijakan yang tepat daripada sekadar tingkat kemakmuran suatu negara.

Data mengenai kepemilikan rumah di berbagai negara membuktikan bahwa menjadi negara kaya bukan jaminan memiliki persentase pemilik rumah paling tinggi. Faktor sejarah, kebijakan pemerintah, sistem pembiayaan, hingga kondisi pasar sewa ternyata memainkan peran yang jauh lebih besar dalam membentuk pola kepemilikan rumah.

Karena itu, ketika melihat angka kepemilikan rumah suatu negara, kamu juga perlu memahami latar belakang kebijakan yang membentuknya. Dengan begitu, kamu bisa melihat bahwa keberhasilan sektor perumahan bukan hanya soal besarnya pendapatan masyarakat, tapi juga hasil dari strategi yang dibangun selama puluhan tahun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More