ilustrasi Australia (pexels.com/John Simmons)
Jika melihat keseluruhan data, terlihat bahwa tingkat kekayaan sebuah negara bukan satu-satunya faktor yang menentukan banyaknya masyarakat yang memiliki rumah sendiri. Rata-rata tingkat kepemilikan rumah di negara anggota OECD berada di angka 70,1 persen. Sementara itu, negara-negara seperti Kanada, Amerika Serikat, Australia, hingga Prancis justru berada di sekitar atau bahkan di bawah rata-rata tersebut.
Data ini memperlihatkan bahwa kebijakan perumahan, sistem pembiayaan, hingga kualitas pasar sewa memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keputusan masyarakat untuk membeli rumah. Negara yang mampu menyediakan akses kepemilikan rumah melalui kebijakan jangka panjang sering kali menghasilkan tingkat kepemilikan rumah yang lebih tinggi, meski pendapatan per kapitanya gak selalu menjadi yang terbesar di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa kesempatan memiliki rumah lebih banyak ditentukan oleh kebijakan yang tepat daripada sekadar tingkat kemakmuran suatu negara.
Data mengenai kepemilikan rumah di berbagai negara membuktikan bahwa menjadi negara kaya bukan jaminan memiliki persentase pemilik rumah paling tinggi. Faktor sejarah, kebijakan pemerintah, sistem pembiayaan, hingga kondisi pasar sewa ternyata memainkan peran yang jauh lebih besar dalam membentuk pola kepemilikan rumah.
Karena itu, ketika melihat angka kepemilikan rumah suatu negara, kamu juga perlu memahami latar belakang kebijakan yang membentuknya. Dengan begitu, kamu bisa melihat bahwa keberhasilan sektor perumahan bukan hanya soal besarnya pendapatan masyarakat, tapi juga hasil dari strategi yang dibangun selama puluhan tahun.