Korea Utara Bantah Tuduhan AS soal Peretasan Kripto Binance

- Korea Utara membantah tuduhan FBI bahwa kelompok TraderTraitor berada di balik peretasan Binance, dengan Kim Yo Jong menyebutnya provokasi politik dan upaya merusak citra negaranya.
- Peretasan Binance pada 29 Oktober 2026 melibatkan sekitar 12 ribu dompet dan lebih dari 40 ribu transaksi; Elliptic menghitung aset curian mencapai 6,43 miliar dolar AS.
- Binance sempat menghentikan penarikan, lalu membukanya bertahap; perusahaan menyatakan menanggung sekitar 95 persen aset terdampak, sementara 2,85 miliar dolar AS telah dibekukan atau disita.
Jakarta, IDN Times - Korea Utara (Korut) membantah tuduhan Amerika Serikat (AS) terkait keterlibatan mereka dalam pencurian aset kripto senilai 6,3 miliar dolar AS (sekitar Rp114,3 triliun) dari bursa kripto terbesar di dunia, Binance, pada Selasa (3/11/2026). Kim Yo Jong, pejabat tinggi partai berkuasa sekaligus adik pemimpin tertinggi Korut Kim Jong Un, menilai tudingan tersebut sebagai provokasi politik yang serius.
Biro Investigasi Federal AS (FBI) sebelumnya menuding kelompok peretas binaan pemerintah Korut, TraderTraitor, sebagai dalang di balik serangan siber terbesar sepanjang sejarah tersebut pada Sabtu (31/10/2026). Kim menyebut tuduhan itu sebagai retorika konyol yang bertujuan merusak citra internasional negaranya. Dia juga menegaskan bahwa pemerintah Korut konsisten menentang segala bentuk tindakan jahat di ruang siber.
1. Kim Yo Jong kecam tudingan FBI dan singgung sikap bermusuhan AS

Kim Yo Jong menerima kunjungan mantan Menteri Luar Negeri AS, Michael Pompeo di Pyongyang, Korea Utara pada 2018. (U.S. Department of State from United States, Public domain, via Wikimedia Commons) Melalui kantor berita pemerintah KCNA, Kim Yo Jong menuduh AS berupaya menyesatkan opini publik internasional. Dia menilai Washington selalu mengaitkan berbagai insiden kejahatan siber global dengan Korut.
"FBI berusaha mencap Republik Rakyat Demokratik Korea (RRDK) sebagai negara kriminal siber dengan mengklaim telah memperoleh informasi bahwa organisasi peretas yang didukung RRDK terlibat dalam insiden tersebut. Namun, klaim AS itu adalah retorika konyol dan bukan hal baru," ujar Kim, dilansir CNA.
Pernyataan ini muncul saat Presiden AS Donald Trump berulang kali melempar sinyal ingin memulihkan diplomasi dan bertemu Kim Jong Un di sela KTT APEC di Shenzhen, China, pada 18-19 November mendatang.
Menariknya, Trump justru meragukan temuan FBI saat berbicara kepada wartawan di kediamannya di Florida karena menilai penyelidik belum mengetahui pasti keterlibatan Pyongyang. Meski begitu, tudingan FBI membuat Korut berencana meninjau ulang sejumlah hal akibat sikap permusuhan AS, sembari meningkatkan uji coba hulu ledak baru untuk rudal jelajah strategis mereka.
2. Pencurian melibatkan ribuan dompet kripto

logo FBI. (unsplash.com/David Trinks) Peretasan yang terjadi pada Kamis (29/10/2026) ini bermula dari peretasan laptop milik seorang karyawan Binance sebelum meluas ke titik celah keamanan lainnya. Peneliti perusahaan analitik blockchain Elliptic mencatat pelaku menguras dana melalui sekitar 12 ribu dompet dan lebih dari 40 ribu transaksi di 11 jaringan blockchain selama empat hari pertama. Aktivitas ini berlangsung otomatis dengan rata-rata satu dompet baru digunakan setiap 25 detik.
Para peretas awalnya menyebarkan dana curian ke sekitar 7.700 alamat di jaringan Tron sebelum memindahkannya ke jaringan Ethereum dan Solana menggunakan jembatan lintas jaringan. Pelaku juga menukar aset stablecoin senilai 786 juta dolar AS (sekitar Rp14,2 triliun) ke mata uang kripto Ether agar tidak bisa dibekukan oleh perusahaan penerbit seperti Tether dan Circle. Selain itu, sekitar 28 keping Bitcoin senilai 2,2 juta dolar AS (sekitar Rp39,9 miliar) telah dimasukkan ke dalam 18 transaksi pengacakan guna mengaburkan jejak aliran uang.
Dari total pasti 6,43 miliar dolar AS (sekitar Rp116,7 triliun) aset yang dicuri menurut hitungan Elliptic, sekitar 2,85 miliar dolar AS (sekitar Rp51,7 triliun) telah berhasil dibekukan atau disita. Sisa dana sekitar 3,24 miliar dolar AS (sekitar Rp58,8 triliun) masih tertahan di berbagai alamat dompet yang terhubung dengan pelaku dalam bentuk Bitcoin dan Ether. Pergerakan pencucian uang kali ini dinilai lebih lambat dibandingkan peretasan bursa Bybit senilai 1,5 miliar dolar AS (sekitar Rp27,2 triliun) pada Februari 2025 yang juga dituduhkan kepada kelompok TraderTraitor.
3. Respons Binance atas pencurian

logo Binance (unsplash.com/Kanchanara) Setelah pencurian tersebut, Binance sempat menghentikan sementara layanan penarikan aset sebelum membukanya kembali secara bertahap sejak Minggu. Keputusan ini memicu penarikan dana besar-besaran oleh para pengguna yang khawatir akan keamanan aset mereka.
"Antara pukul 06.00 dan 15.30 UTC pada 1 November, kami memproses penarikan sebesar 4,649 miliar dolar AS (sekitar Rp84,3 triliun) dan deposit sebesar 1,01 miliar dolar AS (sekitar Rp18,3 triliun), sehingga menghasilkan arus keluar bersih sekitar 3,64 miliar dolar AS (sekitar Rp66 triliun). Yakinlah bahwa kondisi pasar tetap stabil," kata pihak Binance melalui platform X, dilansir CNBC.
Perusahaan pimpinan Changpeng Zhao ini menegaskan telah menanggung sekitar 95 persen dari total aset yang terdampak menggunakan dana internal, sementara lima persen sisanya masih diupayakan bersama mitra industri.
Di sisi lain, laporan Tim Pemantau Sanksi Multilateral yang beranggotakan 11 negara mencatat Korut mengandalkan peretasan kripto sejak 2017 untuk menghindari sanksi PBB serta mendanai program senjata pemusnah massal dan rudal balistik. Kelompok TraderTraitor di bawah kendali Biro Pengintaian Umum Korea Utara tercatat mencuri sedikitnya 2,58 miliar dolar AS (sekitar Rp46,8 triliun) sepanjang Januari 2024 hingga September 2025 dan memanfaatkan sedikitnya 15 bank serta pialang di China untuk mencairkan koin curian menjadi uang tunai.





















