ilustrasi bayar pajak (IDN Times/Aditya Pratama)
Ia mengaku khawatir kinerja penerimaan di kuartal I hanya kuat di permukaan, namun rapuh secara fondasi, mengingat realisasi semakin jauh dari target dan hilangnya momentum musiman. Strategi belanja agresif di awal tahun juga berisiko menekan ruang fiskal untuk menghadapi tekanan geopolitik dan subsidi energi pada sisa tahun.
“Jika penerimaan lemah di triwulan berikutnya, tekanan defisit dan kebutuhan pembiayaan akan meningkat,” ujar Akhmad.
Lebih rinci, pendapatan negara tercatat mencapai Rp574,9 triliun atau 18,2 persen dari APBN, tumbuh 10,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu (yoy). Rinciannya, penerimaan perpajakan mencapai Rp462,7 triliun atau 17,2 persen dari APBN, tumbuh 14,3 persen (yoy). Di dalamnya, penerimaan pajak terealisasi sebesar Rp394,8 triliun atau 16,7 persen dari target APBN, dengan pertumbuhan yang sangat kuat sebesar 20,7 persen (yoy).
Sementara itu, realisasi Belanja Negara hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp815,0 triliun atau 21,2 persen dari APBN, tumbuh 31,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Akselerasi belanja ini menunjukkan APBN bergerak cepat sejak awal tahun untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Di sisi Belanja Pemerintah Pusat (BPP), realisasi tercatat sebesar Rp610,3 triliun atau 19,4 persen dari APBN. Angka ini mencerminkan percepatan pelaksanaan program kerja prioritas nasional, belanja Kementerian/Lembaga, perlindungan sosial, serta berbagai program yang langsung menyentuh masyarakat. Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) terealisasi Rp204,8 triliun atau 29,5 persen dari APBN.