Presiden Prabowo Subianto (kiri) ketika berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) sebelum mengikuti jamuan makan siang di Vladivostok pada September 2026. (Dokumentasi Biro Pers Istana)
Kerja sama Danantara dan RDIF berpotensi menjadi salah satu kanal untuk mengembangkan proyek bersama Indonesia-Rusia. Namun, dalam pidatonya, Prabowo tidak merinci proyek spesifik apa saja yang akan langsung dibiayai melalui kedua lembaga tersebut.
Peluang kerja sama investasi dapat berkaitan dengan sejumlah bidang yang sebelumnya disebut Prabowo sebagai ruang pengembangan hubungan bilateral, termasuk energi, teknologi, infrastruktur, dan sektor ekonomi lainnya.
Pendekatan berbasis investasi juga dapat memberikan dimensi baru bagi hubungan Indonesia-Rusia. Jika perdagangan berfokus pada arus barang dan jasa, investasi memungkinkan kedua negara terlibat dalam pengembangan proyek serta penciptaan nilai ekonomi dalam jangka panjang.
Bagi Indonesia, kehadiran lembaga seperti Danantara juga dapat menjadi instrumen untuk menarik modal dan mitra internasional ke proyek nasional. Sementara bagi Rusia, kerja sama dengan lembaga investasi Indonesia dapat membuka akses ke peluang proyek dan pasar yang lebih luas di Asia Tenggara.
Prabowo dalam pidatonya menekankan pentingnya membangun hubungan ekonomi yang saling menguntungkan. Karena itu, gagasan menghubungkan Danantara dan RDIF tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari agenda yang lebih besar untuk memperluas kerja sama investasi dan memperkuat hubungan ekonomi Indonesia-Rusia.
Jika ditindaklanjuti secara konkret, kolaborasi kedua lembaga tersebut dapat menjadi salah satu mekanisme untuk menerjemahkan kedekatan politik Indonesia dan Rusia ke dalam proyek ekonomi. Tantangan berikutnya adalah menentukan sektor prioritas, struktur pembiayaan, serta proyek yang memenuhi kepentingan kedua negara.