Dony Oskaria Ungkap Peluang KAI Lolos dari Kerugian akibat Whoosh

- Dony Oskaria menyatakan penurunan kinerja keuangan KAI akibat proyek Whoosh berpeluang segera ditangani setelah Menteri Keuangan mengambil alih seluruh saham BUMN di proyek tersebut.
- Kepemilikan BUMN di KCIC berada melalui PSBI yang menguasai 60 persen saham; KAI menjadi pemegang saham terbesar PSBI dengan porsi 58,53 persen.
- Laba bersih KAI Group semester I-2026 turun 74,12 persen menjadi Rp305,37 miliar, meski pendapatan naik 6,61 persen menjadi Rp17,96 triliun, akibat rugi entitas asosiasi dan ventura bersama.
Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria memastikan penurunan kinerja keuangan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI akibat proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh bisa segera ditangani.
Hal itu menyusul keputusan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengambil alih seluruh saham BUMN di proyek Whoosh.
Adapun kepemilikan saham BUMN di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) selaku pengelola Whoosh tercatat dalam payung PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).
PSBI adalah konsorsium BUMN yang terdiri dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) atau PTPN VIII. PSBI mengantongi 60 persen saham di KCIC.
Sementara itu, konsorsium China, Beijing Yawan HSR Co. Ltd mengantongi 40 persen saham KCIC.
“Ya insyaallah mudah-mudahan itu beres lah besok,” kata Dony di kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Di dalam PSBI, KAI adalah pemegang saham mayoritas, yakni 58,53 persen. Kemudian, WIKA mengantongi 33,36 persen saham PSBI, Jasa Marga 7,08 persen, dan PTPN 1,03 persen.
Besarnya kepemilikan saham KAI di proyek Whoosh turut mempengaruhi kinerja BUMN tersebut. Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026 KAI Group yang belum diaudit (unaudited), perusahaan membukukan laba bersih Rp305,37 miliar, turun 74,12 persen dibandingkan laba bersih pada semester I-2025 yang sebesar Rp1,18 triliun.
Penurunan laba itu dipicu oleh rugi bersih entitas asosiasi dan ventura bersama, senilai Rp2,99 triliun, naik tiga kali lipat dari semester I-2025 yang sebesar Rp948,19 miliar. Adapun penyumbang terbesarnya adalah PSBI. Padahal, pada semester I-2026, KAI berhasil membukukan pendapatan hingga Rp17,96 triliun, tumbuh 6,61 persen secara year on year (yoy).
Dengan diambil alih oleh Kemenkeu, maka PSBI akan melepas seluruh saham di KCIC. Pengelolaan Whoosh juga akan dilakukan oleh Kemenkeu melalui entitas Special Mission Vehicle atau SMV-nya. Nantinya, akan ada dua SMV Kemenkeu yang menjadi perwakilan Indonesia dalam daftar pemegang saham di KCIC.
Purbaya mengatakan, proses itu ditargetkan bisa rampung pada pertengahan September 2026 mendatang.
“Tadi pembahasan yang pertama adalah Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung ini akan diserahkan dari Danantara, kasih ke Kementerian Keuangan. Prosesnya akan kita percepat, mungkin pertengahan September akan clear,” tutur Purbaya.




.jpg)











