Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Efek Konflik Timur Tengah, 3 Pekan Lagi Harga Pakaian Bisa Naik
ilustrasi tekstil (pexels.com/Pixabay)
  • Harga minyak dunia naik akibat konflik Timur Tengah membuat harga bahan baku tekstil seperti paraxylene melonjak 40 persen hingga 1.300 dolar AS per ton.
  • Dalam tiga minggu ke depan, efek kenaikan harga bahan baku akan menjalar ke produsen kain dan pakaian jadi, memicu penyesuaian harga retail sekitar 10 persen.
  • Meskipun permintaan pasar masih stabil, tingkat utilisasi produsen polyester nasional hanya sekitar 40 persen dan rayon 70 persen karena praktik pasar domestik yang belum adil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Dua pekan lalu

Harga paraxylene tercatat lebih rendah sekitar 40 persen dibandingkan saat ini sebelum naik akibat dampak konflik Timur Tengah.

7 April 2026

Redma Gita Wirawasta menjelaskan harga paraxylene telah mencapai 1.300 dolar AS per ton dan memperkirakan efek kenaikan harga akan merambat ke industri hilir dalam tiga minggu ke depan.

Dalam seminggu kedepan

Kenaikan harga bahan baku diperkirakan mulai terdistribusi ke produsen kain.

Dua minggu berikutnya

Distribusi kenaikan harga diperkirakan berlanjut ke sektor pakaian jadi.

kini

Harga bahan baku tekstil tinggi, permintaan pasar stabil, dan tingkat utilisasi produsen polyester masih di bawah 40 persen sementara rayon sekitar 70 persen.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Harga pakaian diperkirakan naik dalam tiga pekan mendatang akibat lonjakan harga bahan baku tekstil yang terpengaruh oleh kenaikan harga minyak dunia imbas konflik di Timur Tengah.
  • Who?
    Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, bersama para produsen serat, benang, kain, dan sektor retail tekstil nasional.
  • Where?
    Kondisi ini terjadi di industri tekstil Indonesia dengan pusat pemantauan dan pernyataan resmi disampaikan dari Jakarta.
  • When?
    Pernyataan disampaikan pada Selasa, 7 April 2026, dengan proyeksi dampak kenaikan harga berlangsung bertahap selama tiga minggu ke depan.
  • Why?
    Kenaikan harga terjadi karena meningkatnya harga minyak dunia hingga 110 dolar AS per barel yang mendorong naiknya harga paraxylene sebagai bahan baku utama polyester sekitar 40 persen.
  • How?
    Kenaikan harga bahan baku akan diteruskan secara bertahap ke produsen kain dalam satu minggu pertama dan ke sektor pakaian jadi dua minggu berikutnya, memicu penyesuaian harga retail hingga sekitar 10 persen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Harga minyak di dunia jadi naik karena ada perang di Timur Tengah. Terus bahan buat kain juga jadi mahal. Pak Redma bilang nanti baju bisa jadi lebih mahal dalam tiga minggu lagi. Katanya toko mungkin naikin harga sampai sepuluh persen. Tapi orang-orang masih beli baju, cuma pabriknya belum bisa kerja penuh semua.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun tekanan harga bahan baku meningkat akibat konflik global, industri tekstil Indonesia menunjukkan ketahanan dengan pasokan dalam negeri yang tetap tersedia dan permintaan pasar yang stabil. Kondisi ini mencerminkan kemampuan produsen menjaga kesinambungan produksi serta peluang bagi produk lokal untuk lebih kompetitif di tengah kenaikan harga impor.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Industri dan produk tekstil semakin meradang akibat tekanan harga baku imbas konflik Timur Tengah yang mengerek harga minyak dunia ke level 110 dolar Amerika Serikat (AS) per barel.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta menerangkan, harga paraxylene yang merupakan bahan baku utama polyester saat ini sudah berada pada level 1.300 dolar AS per ton atau naik sekitar 40 persen dari dua pekan lalu.

Meski begitu, Redma menjelaskan, kenaikan harga tersebut belum sepenuhnya sampai ke industri hilir. Efek domino yang disebabkan kenaikan harga bahan baku tekstil akan berimbas secara bertahap hingga tiga minggu ke depan.

"Dalam seminggu kedepan, kenaikan harga ini akan terdistribusi ke produsen kain dan dua minggu berikutnya akan terdistribusi ke sektor pakaian jadi," kata Redma dalam pernyataan resminya, Selasa (7/4/2026).

1. Penyesuaian di sektor retail

ilustrasi pakaian (unsplash.com/Bennie Bates)

Selain itu, Redma mengungkapkan bakal terjadi penyesuaian harga di sektor retail. Penyesuaian harga barang jadi retail bisa sampai lebih dari lima persen.

"Diperkirakan kenaikan di sektor retail akan berada di sekitar 10 persen,” katanya.

2. Permintaan pasar masih stabil

ilustrasi bahan polyester (vietnamclothingmanufacturer.com)

Sementara itu dari sisi permintaan pasar, Redma melihat masih dalam level stabil dengan kecenderungan permintaan yang meningkat.

Hal itu lantaran kenaikan harga bahan baku impor juga jadi lebih tinggi dari produk lokal.

"Hingga saat ini bahan baku baik untuk polyester maupun rayon yang diproduksi di dalam negeri belum ada kendala, barangnya ada, hanya harganya yang tinggi," ujar Redma.

3. Tingkat utilisasi nasional produsen masih belum 100 persen

ilustrasi hijab bahan polyester (pexels.com/pixabay)

Meski begitu, secara keseluruhan tingkat utilisasi nasional produsen polyester masih di bawah 40 persen dan utilisasi produsen rayon sekitar 70 persen.

“Belum bisa jalan full karena yang sudah berhenti tidak mau jalan lagi selama pemerintah membiarkan praktik unfair terus terjadi di pasar domestik," kata Redma.

“Jadi saat ini para produsen yang masih jalan hanya melayani konsumen loyal saja, mereka yang biasa menggunakan bahan baku impor tidak diprioritaskan," sambung dia.

Editorial Team