Luke Ariefiandi, Jaga Imajinasi Masa Kecil hingga Mencari Keseimbangan

- Luke Ariefiandi memprioritaskan keluarga dengan melatih batas antara kerja dan kehidupan pribadi, termasuk makan malam, waktu berbincang, serta satu aktivitas bersama setiap akhir pekan.
- Kecintaan pada imajinasi sejak kecil mengarahkannya ke karier pemasaran, hobi mengoleksi action figure, dan eksplorasi 3D printing, diorama, serta pengecatan figur.
- Luke membiasakan perencanaan harian dan jangka panjang, mempelajari saham untuk persiapan pensiun, serta mengelola tekanan melalui olahraga, meditasi, pengaturan napas, dan musik 1990-an.
Jakarta, IDN Times -Di luar kesibukannya sebagai Head of Strategic Communications and Brand UOB Indonesia, Luke Ariefiandi punya sejumlah cara untuk menikmati waktu luang.
Mulai dari menghabiskan waktu bersama keluarga, mengoleksi action figure, hingga mengeksplorasi hobi 3D printing. Menariknya, ketertarikan Luke pada dunia figur dan kreativitas sudah tumbuh sejak kecil dan masih ia tekuni hingga sekarang.
Ia menjelaskan, keluarga tetap menjadi prioritas utama dan merasa senang menghabiskan waktu bersama istri dan anak, mulai dari berbincang santai, berjalan-jalan, hingga merencanakan liburan ke tempat-tempat baru.
Menurut Luke, liburan bukan sekadar kesempatan untuk melepas penat dari rutinitas pekerjaan. Pergi ke tempat baru juga memberikan pengalaman berbeda sekaligus menjaga kedekatan antaranggota keluarga.
“Liburan itu bisa memberikan suasana baru dan membuat hubungan di keluarga tetap terjaga erat,” ujarnya kepada IDN Times, Sabtu (24/10/2026).
1. Menata fokus antara pekerjaan dan keluarga

Head of Strategic Communications and Brand UOB Indonesia, Luke Ariefiandi memiliki hobi mengumpulkan action figure (Dok/Istimewa). Di tengah kesibukan profesional, Luke menyadari bahwa menjaga kedekatan keluarga tidak cukup hanya dengan meluangkan waktu. Kehadiran secara utuh, perhatian, dan energi saat bersama orang-orang terdekat juga menjadi hal yang penting.
Ia mencontohkan, menghabiskan dua jam bersama keluarga belum tentu berarti seseorang benar-benar hadir apabila pikirannya masih tertuju pada pekerjaan. Begitu pula ketika tubuh sudah lelah setelah bekerja, waktu bersama keluarga bisa terasa kurang maksimal karena energi yang tersisa terbatas.
Karena itu, Luke terus belajar membangun batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance. Ia berusaha memisahkan waktu dan fokus agar bisa memberikan perhatian penuh, baik ketika bekerja maupun saat bersama keluarga.
"Dari sisi focus dan energi, saya sendiri masih terus belajar untuk compartmentalise membuat boundaries dan memisahkan baik waktu dan fokus saat di pekerjaan dan kehidupan, tujuannya supaya saya bisa lebih fully present (kehadiran)saat saya di kerjaan ataupun bersama keluarga," ujar Luke.
Baginya, upaya tersebut membutuhkan latihan, perencanaan, dan disiplin. Salah satu caranya adalah membiasakan diri makan malam bersama keluarga, kemudian meluangkan waktu sekitar 15–30 menit untuk berbincang dan berbagi cerita.
Ia juga berusaha merencanakan setidaknya satu kegiatan bersama keluarga setiap akhir pekan. Kegiatannya tidak harus selalu istimewa. Bermain gim bersama, menonton film, atau mencoba tempat makan baru pun bisa menjadi cara sederhana untuk mempererat hubungan.
"Kita planning one family activity setiap weekend, mau itu main game bersama, nonton film, cari tempat makan yang baru dan liburan bersama keluarga," ungkapnya.
2. Imajinasi masa kecil yang terus hidup

Head of Strategic Communications and Brand UOB Indonesia, Luke Ariefiandi memiliki hobi mengumpulkan action figure (Dok/Istimewa). Di luar waktu bersama keluarga, Luke memiliki ketertarikan pada dunia kreatif yang sudah tumbuh sejak kecil. Ia senang bermain dengan mainan dan menggunakan imajinasinya untuk menciptakan cerita sendiri.
Ketertarikan itu ternyata terus terbawa hingga dewasa. Meski menempuh pendidikan sarjana di bidang teknik industri atau industrial engineering, Luke justru berkarier di dunia pemasaran dan pengembangan merek. Ia menduga, kecintaannya pada kreativitas dan cerita sejak kecil ikut membentuk perjalanan kariernya.
“Sejak kecil saya selalu suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan kreativitas dan imajinasi,” kata Luke.
Tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an turut memengaruhi cara pandangnya. Pada masa itu, film, musik, dan berbagai hiburan populer menjadi sumber inspirasi yang membekas dalam ingatannya.
Luke menyebut sejumlah film dan waralaba populer, seperti Star Wars, Star Trek, Teenage Mutant Ninja Turtles, dan Transformers, sebagai bagian dari pengalaman masa kecilnya.
Bukan sekadar menikmati jalan cerita, ia juga mengingat nilai-nilai yang hadir melalui karakter-karakter di dalamnya, seperti rasa ingin tahu, keberanian, dan kepemimpinan. Nilai-nilai tersebut membuat cerita yang ia kenal sejak kecil tetap relevan hingga sekarang.
Ketertarikan itu kemudian berlanjut menjadi hobi mengoleksi action figure. Namun, Luke tidak membatasi koleksinya pada karakter dari satu film atau waralaba tertentu.
Hal yang lebih menarik perhatiannya adalah detail dan kualitas pengerjaan setiap koleksi. Ia mengapresiasi bagaimana sebuah figur dibuat sedemikian rupa sehingga karakter yang direpresentasikan terlihat hidup dan nyata.
Baginya, ada kepuasan tersendiri ketika melihat detail dan craftsmanship atau keterampilan pengerjaan di balik sebuah koleksi.
3. Mulai eksplorasi 3D printing

ilustrasi action figure (pexels.com/TBD) Kini, ketertarikan tersebut berkembang ke aktivitas yang lebih teknis. Dalam beberapa tahun terakhir, Luke mulai mengeksplorasi teknologi 3D printing, pembuatan diorama, dan pengecatan figur.
Aktivitas itu bukan semata-mata untuk menambah koleksi. Luke juga menyimpan keinginan untuk suatu hari menciptakan sesuatu yang bisa membawa imajinasi menjadi nyata.
Ia membayangkan, ketika memasuki masa pensiun nanti, dirinya bisa membuat karya yang membantu anak-anak dengan kreativitas dan imajinasi tinggi mewujudkan ide-ide mereka. Tidak menutup kemungkinan, karya tersebut juga bisa dinikmati orang dewasa yang memiliki ketertarikan serupa.
Keinginan itu memperlihatkan bahwa bagi Luke, imajinasi bukan hanya bagian dari kenangan masa kecil. Imajinasi juga bisa menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan sesuatu yang bermakna pada masa mendatang.
"Jadi sejak dulu saya suka mengkoleksi action figure, saya gak tahu apakah ini bisa dikategorikan sebagai hobi, tapi itu hal yang saya enjoy. Yang saya suka adalah detail dari suatu koleksi, seberapa karakter atau koleksi itu bisa terlihat ‘hidup’ dan real. Jadi koleksi saya beragam dan bukan ditentukan karena saya suka misalnya star wars jadi hanya itu yang saya koleksi," tegasnya.
4. Merencanakan hari, menyiapkan masa depan

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern) Kebiasaan Luke merencanakan sesuatu tidak hanya terlihat dalam kehidupan keluarga dan hobinya. Perencanaan juga menjadi bagian penting dari kesehariannya.
Menurut dia, hari yang baik selalu dimulai dengan secangkir kopi dan rencana yang jelas. Sebelum mulai bekerja, ia terbiasa memetakan tugas-tugas yang perlu diselesaikan pada hari itu.
Bahkan, sebelum pekan dimulai, Luke sudah melihat gambaran pekerjaan yang menantinya selama beberapa hari ke depan. Ia juga menetapkan target tahunan untuk kehidupan pribadi dan keluarga.
Kebiasaan tersebut membuatnya terbiasa memikirkan beberapa langkah ke depan. Meski begitu, Luke menyadari bahwa tidak semua rencana akan berjalan sesuai harapan karena selalu ada faktor tak terduga dalam kehidupan.
“Planning tidak menjamin keberhasilan, tetapi membuat kita lebih siap saat ada tantangan dan memberikan peluang lebih besar untuk berhasil,” ujarnya.
Prinsip serupa ia terapkan ketika mempelajari pasar saham. Luke menikmati proses menganalisis pergerakan pasar sekaligus terus memperdalam pengetahuannya mengenai investasi.
Ketertarikan itu tidak hanya berangkat dari kesukaannya pada analisis dan perencanaan. Ia juga melihatnya sebagai salah satu bentuk persiapan untuk menghadapi masa pensiun.
Dengan mempelajari pasar saham, Luke memiliki ruang untuk mengasah kemampuan analitis sekaligus memikirkan perencanaan keuangan jangka panjang.
"Selain itu saya juga suka menganalisa stock market sambil terus belajar, selain karena saya suka analisa dan planning, buat saya itu persiapan juga nanti untuk masa pensiun;" ujarnya.
Di tengah rutinitas pekerjaan, Luke juga memiliki cara untuk mengelola tekanan. Salah satunya melalui olahraga. Saat pikirannya mulai terasa penuh, ia memilih berolahraga dan mengeluarkan keringat. Aktivitas fisik membantunya mengalihkan perhatian sejenak dari pekerjaan dan rutinitas yang menuntut konsentrasi.
Saat ini, ia berlangganan pusat kebugaran atau gym di dekat kantor agar lebih mudah menyempatkan diri berolahraga.
Selain itu, Luke sesekali meluangkan waktu untuk bermeditasi. Baginya, duduk diam dan menenangkan pikiran bisa membantu dirinya merasa lebih tenang dan kembali fokus.
Ia juga menerapkan cara sederhana yang bisa dilakukan kapan saja, yakni mengatur napas. Ketika merasa tertekan atau menghadapi situasi yang menuntut banyak energi, Luke berusaha berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu mengatur ritmenya secara perlahan.
Di luar cara-cara tersebut, ada pula kebiasaan sederhana yang ia nikmati untuk memperbaiki suasana hati: mendengarkan musik favorit dari era 1990-an dan ikut bernyanyi.













![[QUIZ] Dari Karakter Upin Ipin, Kamu Tebak Kamu Perintis atau Pewaris](https://image.idntimes.com/post/20250509/untitled-design-8-a8d895374ad15b64e137e3070b058e48.jpg)






