FinDev Canada Suntik 30 Juta Dolar AS ke IIF, Perkuat Pembiayaan Hijau

- Indonesia menjadi pasar ekspor terbesar di Kanada, menawarkan peluang strategis bagi pembangunan berkelanjutan.
- Pinjaman difokuskan untuk memperluas pembiayaan proyek energi terbarukan dan infrastruktur rendah karbon, seiring dengan target transisi energi nasional.
- Fasilitas ini akan memperkuat kapasitas IIF dalam mendukung transisi energi dan pembangunan infrastruktur tangguh iklim, serta memperluas akses pembiayaan jangka panjang untuk proyek energi terbarukan dan infrastruktur berkelanjutan.
Jakarta, IDN Times – Lembaga pembiayaan pembangunan bilateral asal Kanada, FinDev Canada, menyalurkan fasilitas pinjaman senilai 30 juta dolar Amerika Serikat (AS) kepada PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF). Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung pembiayaan proyek infrastruktur berkelanjutan di Indonesia.
Penandatanganan fasilitas dilakukan dalam ajang Canada-in-Asia Conference (CIAC) yang diselenggarakan di Singapura oleh Asia Pacific Foundation of Canada pada Rabu (11/2). Melalui transaksi ini, FinDev Canada resmi memasuki pasar Indonesia dan menandai investasi perdananya di Tanah Air.
1. Indonesia jadi pasar ekspor terbesar di Kanada

Vice President & Chief Investment Officer FinDev Canada, Paulo Martelli menilai Indonesia merupakan pasar ekspor terbesar Kanada di kawasan ASEAN, sehingga menawarkan peluang strategis bagi pembangunan berkelanjutan. Di sisi lan, pinjaman juga bertujuan untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi rendah karbon di Indonesia melalui pembiayaan proyek-proyek infrastruktur berkelanjutan.
“Melalui kemitraan kami dengan Indonesia Infrastructure Finance sebagai salah satu pelaku utama infrastruktur berkelanjutan, kami dapat memperkuat pengembangan energi terbarukan sekaligus mendukung kemakmuran bersama di kawasan Indo-Pasifik,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (13/2/2026).
2. Pembiayaan difokuskan untuk perluas proyek EBT

Ia menjelaskan, pinjaman tersebut difokuskan untuk memperluas pembiayaan proyek energi terbarukan dan infrastruktur rendah karbon. Itu sejalan dengan target transisi energi nasional.
Apalagi, pemerintah Indonesia menargetkan bauran energi terbarukan mencapai 31 persen pada 2050 dan net zero emission pada 2060.
3. IIF dukung proyek energi terbarukan 709,9 MW

Presiden Direktur/CEO IIF, Rizki Pribadi Hasan mengatakan, fasilitas ini akan memperkuat kapasitas perseroan dalam mendukung transisi energi dan pembangunan infrastruktur tangguh iklim.
“Kemitraan ini memperluas akses pembiayaan jangka panjang untuk proyek energi terbarukan dan infrastruktur berkelanjutan yang sejalan dengan agenda pertumbuhan rendah karbon Indonesia,” katanya.
Sebagai lembaga pembiayaan infrastruktur, IIF telah beroperasi selama 16 tahun dan berperan sebagai katalis pembangunan infrastruktur nasional. Hingga saat ini, IIF mendukung proyek energi terbarukan berkapasitas sekitar 709,9 megawatt (MW) yang mampu memasok listrik bagi lebih dari 709.900 rumah tangga serta berpotensi menurunkan emisi sekitar 4,92 juta ton CO₂ per tahun.
Selain sektor energi, IIF juga memperluas akses air bersih bagi sekitar 7,2 juta masyarakat serta mendukung pembangunan fasilitas kesehatan dengan lebih dari 1.000 tempat tidur rumah sakit di berbagai wilayah Indonesia. Masuknya FinDev Canada memperkuat dukungan pembiayaan internasional bagi agenda infrastruktur rendah karbon Indonesia sekaligus mempererat kerja sama bilateral Kanada–Indonesia di sektor pembangunan berkelanjutan

















