Pengusaha Indonesia Akan Ikut Prabowo ke AS Pekan Depan

- Kesepakatan tarif diharapkan perkuat hubungan dagang kedua negara. Pelaku usaha ingin tarif yang menjaga daya saing produk ekspor Indonesia di pasar AS, terutama sektor padat karya.
- Sejumlah pelaku usaha akan ikut kunjungan ke AS. Potensi ekspor ke AS masih terbuka lebar, termasuk sektor tekstil, garmen, alas kaki, furnitur, dan kelapa sawit.
- Nilai neraca dagang Indonesia-AS capai 21,12 miliar dolar AS. Surplus nonmigas mencapai 21,12 miliar dolar AS dengan komoditas penyumbang surplus terbesar berasal dari mesin dan perlengkapan elektrik serta pakaian rajutan.
Jakarta, IDN Times - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memastikan kesiapan pelaku usaha menjelang penandatanganan perjanjian tarif resiprokal (Agreement on Reciprocal Tariff/ART) dengan Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan pada 19 Februari 2025.
Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, pemerintah dan dunia usaha telah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk mengoptimalkan peluang dari kesepakatan tersebut.
“Persiapannya sudah matang. Kami akan membawa asosiasi dan pelaku usaha dari berbagai sektor yang memiliki kepentingan dengan AS,” ujarnya di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kamis (12/2/2026) malam.
1. Kesepakatan tarif diharapkan perkuat hubungan dagang kedua negara

Ia berharap kesepakatan ini dapat memperkuat hubungan dagang kedua negara, khususnya melalui skema tarif yang lebih kompetitif. Menurutnya, pelaku usaha menginginkan tarif yang mampu menjaga daya saing produk ekspor Indonesia di pasar AS. Di sisi lain, ia menambahkan, sektor padat karya menjadi salah satu prioritas yang diharapkan memperoleh perlakuan tarif lebih baik.
“Kami berharap sektor-sektor padat karya bisa mendapatkan tarif yang lebih kompetitif,” katanya.
2. Sejumlah pelaku usaha akan ikut kunjungan ke AS

Shinta menilai potensi ekspor ke AS masih terbuka lebar. Sejumlah pelaku usaha juga dijadwalkan ikut dalam kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke AS. Sektor yang akan terlibat antara lain tekstil dan produk tekstil, garmen, alas kaki, furnitur, hingga kelapa sawit. Di sisi lain, Indonesia juga masih mengimpor sejumlah komoditas dari AS seperti kedelai, gandum, jagung, dan kapas.
“Pelaku usaha akan turut mendukung pemerintah dalam penyelesaian perjanjian ini. Saat ini kami masih mengoordinasikan peserta karena waktunya cukup terbatas,” ucap Shinta.
3. Nilai neraca dagang Indonesia-AS capai 21,12 miliar dolar AS

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia dengan AS mencatat surplus 18,11 miliar dolar AS sepanjang 2025. Surplus nonmigas bahkan mencapai 21,12 miliar dolar AS.
Komoditas penyumbang surplus terbesar berasal dari mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya sebesar 5,09 miliar dolar AS, pakaian dan aksesori rajutan 2,81 miliar dolar AS, serta alas kaki 2,75 miliar dolar AS.

















