Seorang pekerja mengendarai forklift mengangkut ingot yang diproduksi PT Inalum di Smelter Kuala Tanjung, Batubara, Selasa (2/9/2025) (IDN Times/Doni Hermawan)
Sejumlah proyek strategis yang tengah dikembangkan antara lain Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I dan II serta Smelter Aluminium II. Proyek tersebut menjadi bagian dari penguatan ekosistem hilirisasi mineral nasional.
Di sisi pasar, Inalum juga memiliki posisi yang kuat sebagai satu-satunya produsen aluminium primer di Indonesia. Prospek permintaan aluminium dinilai masih positif, baik dari pasar domestik maupun global.
Ia menjelaskan dari sisi biaya, daya saing Inalum tercermin dari posisi cash cost yang berada di kuartil pertama dalam kurva biaya global. Perusahaan juga didukung basis pelanggan yang terdiversifikasi serta sumber energi dari pembangkit listrik tenaga air.
Meski demikian, kebutuhan pendanaan Inalum diproyeksikan meningkat pada 2026-2029 seiring pengembangan SGAR II dan Smelter Aluminium II. Inalum menyatakan akan memenuhi kebutuhan tersebut melalui strategi pendanaan yang terukur dan terdiversifikasi, sembari menjaga struktur permodalan, likuiditas, dan kemampuan menghasilkan arus kas.
Kenaikan peringkat menjadi idAA/Stable diharapkan memperkuat akses Inalum terhadap pendanaan sekaligus menopang agenda ekspansi perusahaan.
"Setiap langkah ekspansi perusahaan tidak hanya meningkatkan daya saing INALUM, tetapi menciptakan nilai perusahaan dalam jangka panjang sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap terwujudnya kemandirian industri aluminium nasional," kata Melati.