G7 Gelar Panggilan Darurat Bahas Pelepasan Cadangan Minyak Dunia

- Negara-negara G7 menggelar panggilan darurat yang difasilitasi IEA untuk membahas pelepasan cadangan minyak strategis global sekitar 300–400 juta barel guna menstabilkan pasokan energi dunia.
- Harga minyak melonjak tajam akibat konflik militer AS dan Israel melawan Iran, memicu gangguan pasokan serta kenaikan harga Brent crude hingga lebih dari 100 dolar AS per barel.
- Produksi minyak di Timur Tengah terganggu karena ancaman keamanan di Selat Hormuz, membuat beberapa negara OPEC menurunkan produksi dan distribusi energi menjadi terbatas.
Jakarta, IDN Times – Menteri keuangan dari negara-negara anggota G7 dijadwalkan melakukan panggilan darurat pada Senin (9/3/2026) pukul 08.30 waktu New York. Pertemuan ini difasilitasi oleh Badan Energi Internasional (IEA) untuk mendiskusikan opsi pelepasan cadangan minyak strategis secara kolektif, dan tiga anggota G7 termasuk Amerika Serikat (AS) telah menyatakan dukungan.
Dilansir dari The Guardian, pejabat pemerintah AS mengajukan skema pelepasan sekitar 300-400 juta barel minyak. Volume itu setara sekitar 25-35 persen dari total cadangan darurat IEA yang mencapai 1,2 miliar barel dan tersimpan di 32 negara anggota.
1. Sistem cadangan energi IEA dibentuk pascakrisis minyak 1974

Sistem cadangan minyak darurat milik IEA dibangun pada 1974 setelah embargo minyak dari negara-negara Arab memicu lonjakan harga dan menyebabkan kelangkaan bahan bakar di sejumlah negara Barat. Sejak pembentukannya, lembaga tersebut telah lima kali mengoordinasikan pelepasan cadangan dalam skala besar, termasuk dua langkah terbaru yang dilakukan untuk merespons dampak invasi Rusia ke Ukraina.
Selain itu, kelompok koordinasi pasokan minyak dan gas Uni Eropa dijadwalkan bertemu pada Kamis (12/3/2026) guna menilai pengaruh konflik terhadap ketersediaan energi di kawasan tersebut. Regulasi Uni Eropa mewajibkan setiap negara anggota menjaga cadangan minyak minimal untuk memenuhi kebutuhan konsumsi selama 90 hari.
2. Perang AS-Israel melawan Iran mengerek harga minyak dunia

Lonjakan tajam harga minyak global dipicu konflik militer antara AS dan Israel melawan Iran. Patokan internasional Brent crude sempat melesat 29 persen hingga mencapai 119,50 dolar AS (setara Rp2 juta) per barel, kemudian terkoreksi menjadi 106,73 dolar AS (setara Rp1,79 juta) namun masih menunjukkan kenaikan sekitar 15 persen. Selain itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate naik 8,6 persen menjadi 98,74 dolar AS (setara Rp1,67 juta) per barel dan bahkan sempat menembus 110 dolar AS (setara Rp1,86 juta), tertinggi sejak pertengahan 2022.
Kontrak berjangka minyak mentah AS juga mencatat lonjakan mingguan sekitar 35 persen, yang menjadi kenaikan terbesar sejak perdagangan berjangka mulai dicatat pada 1983. Gangguan pasokan akibat konflik menjadi pemicu utama, termasuk serangan terhadap setidaknya lima fasilitas energi di wilayah Teheran dan sekitarnya serta terhentinya pelayaran kapal tanker di Selat Hormuz yang biasanya mengangkut sekitar seperlima minyak dunia dan gas laut karena ancaman keamanan dari Iran.
3. Konflik Timur Tengah mengganggu produksi dan distribusi energi

Dilansir dari CNBC, sejumlah negara utama dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mulai mengurangi produksi sebagai langkah antisipasi. Kuwait Petroleum Corporation menurunkan volume produksi serta operasi kilangnya karena kekhawatiran terhadap ancaman Iran terhadap keselamatan kapal di Selat Hormuz, meskipun besaran pengurangan belum diumumkan.
Di Irak, produksi dari tiga ladang minyak besar di wilayah selatan merosot sekitar 70 persen menjadi 1,3 juta barel per hari dari sebelumnya 4,3 juta barel per hari menurut keterangan tiga pejabat industri. Pada saat yang sama, Uni Emirat Arab menyesuaikan produksi lepas pantai secara lebih berhati-hati untuk mengatur kapasitas penyimpanan, sementara Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) memastikan operasi di darat tetap berjalan normal.
Negara-negara Teluk lainnya turut menurunkan tingkat produksi karena tangki penyimpanan darat maupun terapung hampir penuh. Kondisi tersebut diperparah oleh keengganan kapal tanker melintasi Selat Hormuz sehingga minyak yang sudah diproduksi sulit dikirim ke pasar.
Presiden AS Donald Trump turut menanggapi lonjakan harga minyak melalui unggahan di Truth Socialsetelah harga menembus 100 dolar AS (setara Rp1,7 juta). Ia menyatakan bahwa kenaikan harga minyak dalam jangka pendek merupakan harga yang sangat kecil untuk dibayar demi menghancurkan ancaman nuklir Iran, dan menurutnya hanya orang bodoh yang berpikir sebaliknya. Trump juga menggambarkan kenaikan harga tersebut sebagai harga kecil demi keselamatan dan perdamaian AS serta dunia, sekaligus menyebutnya sebagai konsekuensi jangka pendek dari perang tersebut.
Seorang juru bicara Korps Garda Revolusi Iran merespons serangan terhadap fasilitas energi dengan memperingatkan potensi lonjakan harga minyak hingga melampaui 200 dolar AS (setara Rp3,39 juta) per barel jika konflik terus berlanjut.
Menteri Energi Chris Wright juga menilai arus kapal tanker melalui Selat Hormuz akan kembali pulih setelah AS menghilangkan kemampuan Iran mengancam pelayaran.
“Kita tidak akan lama lagi sebelum kalian melihat pemulihan lalu lintas kapal yang lebih teratur melalui Selat Hormuz. Saat ini kita masih jauh dari lalu lintas normal. Itu akan memakan waktu. Tapi lagi-lagi, skenario terburuk itu beberapa minggu, bukan berbulan-bulan,” katanya kepada CNN.
Laporan lain menyebutkan Iran telah menunjuk Mojtaba, putra Ayatollah Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi baru setelah kematian Khamenei pada hari-hari awal konflik.


















