Gonjang-Ganjing Elite Politik, Rupiah Lesu Lagi

Rupiah ditutup melemah 8 poin atau 0,04 persen ke Rp18.168 per dolar AS, setelah sempat menguat pada perdagangan pagi.
JISDOR Bank Indonesia mencatat rupiah menguat ke Rp18.140 per dolar AS dibandingkan Rp18.148 sehari sebelumnya.
Sentimen konflik elite politik dan penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 membuat investor berhati-hati; rupiah diperkirakan kembali melemah pada perdagangan Kamis.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah atas mata uang dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu, (4/11/2026).
Mengutip Bloomberg, kurs rupiah ditutup melemah 8 poin atau 0,04 persen ke Rp18.168 per dolar AS sore ini. Pagi tadi, kurs rupiah sempat menguat 26 poin ke Rp18.134 per dolar AS.
1. Nilai tukar rupiah berdasarkan kurs tengah BI
Sementara itu, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah menyentuh Rp18.140 per dolar AS.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kurs rupiah kemarin, Selasa (3/11/2026) yang ada di level Rp18.148 per dolar AS. Data JISDOR BI menunjukkan rupiah mengalami penguatan pada sore ini dibandingkan dengan sehari sebelumnya.
2. Sentimen negatif selimuti rupiah
Analis pasar keuangan, Ibrahim Assuaibi, mengatakan, pelemahan rupiah didorong sentimen negatif pelaku pasar terhadap konflik elite politik Tanah Air.
Sehari sebelumnya, Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Jenderal Pol Listyo Sigit ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto, sejumlah pejabat, politisi, media hingga LSM.
Terungkap, Listyo Sigit bersama mantan Sekretaris Pribadinya, Irjen Pol Ahrie Sonta serta Irjen Eko Hadi Santoso selaku Widyaiswara Kepolisian Utama Tk. 1 Sespim Lemdiklat Polri diduga memerintahkan penyadapan tanpa prosedur seperti diatur dalam tata cara penyadapan Polri di Perkap Nomor 5 Tahun 2010.
Penyadapan telah dilakukan sejak 2025 hingga 2026.
“Perkembangan kasus ini berpotensi meningkatkan ketidakpastian politik dan membuat investor lebih berhati-hati. Pasar akan mencermati stabilitas pemerintahan, soliditas institusi keamanan, serta kepastian penegakan hukum,” kata Ibrahim dalam keterangan resmi.
3. Rupiah diprediksi masih melemah besok
Di sisi lain, proyeksi Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 hanya berada di kisaran 5,4-5,5 persen, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,6-6 persen, menjadi perhatian pelaku pasar. Penurunan proyeksi ini mencerminkan adanya tantangan dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Ibrahim mengatakan, kondisi tersebut berpotensi membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk saham dan rupiah. Pasar akan mencermati apakah perlambatan ekonomi hanya bersifat sementara atau mulai menunjukkan pelemahan daya beli, konsumsi masyarakat, dan investasi. Jika pertumbuhan terus melambat, tekanan terhadap sentimen pasar dan kepercayaan investor dapat meningkat.
Atas faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi masih melemah terhadap dolar AS untuk perdagangan besok, Kamis (5/11/2026).
“Untik perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp18.050-18.120,” ujar Ibrahim.




















