Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Belanja Hunian dan Pangan Warga AS Capai Rekor Tertinggi 15 Tahun

3 min read
Belanja Hunian dan Pangan Warga AS Capai Rekor Tertinggi 15 Tahun
Ilustrasi penjualan rumah (magnific.com/magnific)
  • Pengeluaran keluarga AS untuk hunian dan makanan mencapai 46,9 persen dari total belanja 2025, atau 38.423 dolar AS, menjadi porsi tertinggi dalam 15 tahun.
  • Biaya hunian naik 5,8 persen dan pangan meningkat, terutama protein hewani; tambahan kebutuhan pokok 1.988 dolar AS menggerus dampak kenaikan pendapatan sebelum pajak 6,4 persen.
  • Tekanan biaya hidup mempersempit tabungan; 49 persen keluarga penyewa membayar sewa di atas 30 persen pendapatan, sementara keterjangkauan menjadi isu menjelang pemilu paruh waktu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pengeluaran rumah tangga di Amerika Serikat (AS) untuk kebutuhan tempat tinggal dan makanan mencapai hampir separuh dari total anggaran belanja keluarga sepanjang 2025. Data resmi Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mencatat, porsi gabungan kedua kebutuhan pokok tersebut mencapai 46,9 persen, tertinggi dalam 15 tahun terakhir.

Peningkatan pengeluaran ini terutama dipicu oleh kenaikan biaya hunian, operasional rumah tangga, serta harga daging sapi. Secara rata-rata, setiap keluarga harus mengeluarkan tambahan 1.988 dolar AS (Rp36,04 juta) untuk kebutuhan tempat tinggal dan makanan dibandingkan dengan 2024.

  1. 1. Belanja tempat tinggal dan makanan catat rekor tertinggi sejak 2010

    bulan baik untuk mendirikan rumah menurut primbon
    ilustrasi rumah (unsplash.com/Sieuwert Otterloo)

    Menurut data BLS, rata-rata pengeluaran keluarga untuk kebutuhan tempat tinggal dan makanan mencapai 38.423 dolar AS (Rp696,53 juta) dari total belanja tahunan sebesar 81.905 dolar AS (Rp1,48 miliar) pada 2025. Di luar masa pandemik pada 2020, porsi pengeluaran untuk kedua kebutuhan dasar tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2010.

    Kebutuhan hunian menyerap porsi terbesar, yakni 33,9 persen atau sekitar 27.790 dolar AS (Rp503,77 juta) per keluarga. Angka tersebut meningkat 5,8 persen dan menjadi yang tertinggi sejak 2010. Sementara itu, pengeluaran untuk makanan mencapai 13 persen dari total anggaran keluarga atau setara dengan 10.633 dolar AS (Rp192,75 juta). Angka ini merupakan yang tertinggi sejak 2011.

    BLS mencatat, pengeluaran untuk kedua kebutuhan pokok tersebut meningkat tajam, sedangkan pos belanja lainnya cenderung stabil. Kenaikan pengeluaran untuk pangan terutama didorong oleh harga protein hewani. Pengeluaran untuk daging, unggas, ikan, dan telur meningkat 11,7 persen menjadi rata-rata 1.579 dolar AS (Rp28,62 juta).

  2. 2. Kenaikan upah pekerja tergerus lonjakan biaya hidup dasar

    Ilustrasi upah atau tunjangan karyawan (pexels.com/@karolina-grabowska)
    Ilustrasi upah atau tunjangan karyawan (pexels.com/@karolina-grabowska)

    Pendapatan masyarakat AS sebelum pajak sebenarnya meningkat 6,4 persen menjadi rata-rata 110.847 dolar AS (Rp2,01 miliar) pada 2025. Pertumbuhan tersebut melampaui laju inflasi sebesar 2,6 persen dan kenaikan total pengeluaran sebesar 4,3 persen. Kendati demikian, peningkatan pendapatan tidak serta-merta memperbesar kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan lainnya.

    Dari total tambahan pengeluaran sebesar 1.988 dolar AS (Rp36,04 juta) untuk kebutuhan pokok, biaya hunian menyumbang kenaikan terbesar, yakni 1.524 dolar AS (Rp27,63 juta). Angka tersebut dipengaruhi oleh peningkatan biaya tempat tinggal sebesar 8 persen. Sementara itu, pengeluaran untuk bahan makanan yang dikonsumsi di rumah bertambah 464 dolar AS (Rp8,41 juta).

    Beban keuangan pemilik rumah juga meningkat akibat kenaikan pajak properti lokal sebesar 31 persen dan premi asuransi hunian hingga 72 persen sejak 2019. Kenaikan premi tersebut dipicu oleh meningkatnya risiko akibat perubahan iklim.

  3. 3. Beban biaya hidup picu pesimisme ekonomi masyarakat jelang pemilu

    Warga Amerika Serikat di Los Angeles, Califronia.
    potret warga Amerika Serikat di Los Angeles, Califronia (pexels.com/Gabriel Graves)

    Besarnya pendapatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok semakin mempersempit ruang keluarga di AS untuk menabung. Riset Universitas Harvard pada 2026 mencatat, sebanyak 22,7 juta keluarga penyewa atau 49 persen harus mengalokasikan lebih dari 30 persen pendapatan mereka untuk membayar sewa rumah. Dari jumlah tersebut, 12,1 juta keluarga bahkan menghabiskan lebih dari separuh pendapatannya.

    Tekanan keuangan tersebut turut meningkatkan pesimisme masyarakat terhadap kondisi perekonomian nasional. Akibatnya, keterjangkauan biaya hidup menjadi salah satu isu utama dalam perdebatan menjelang pemilu paruh waktu di AS.

    Peluang pemulihan daya beli masyarakat juga dinilai semakin tidak pasti. Hal ini seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik global yang membuat harga pangan olahan dan energi tetap tinggi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More