Di sisi lain, proyeksi Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 hanya berada di kisaran 5,4-5,5 persen, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,6-6 persen, menjadi perhatian pelaku pasar. Penurunan proyeksi ini mencerminkan adanya tantangan dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Ibrahim mengatakan, kondisi tersebut berpotensi membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk saham dan rupiah. Pasar akan mencermati apakah perlambatan ekonomi hanya bersifat sementara atau mulai menunjukkan pelemahan daya beli, konsumsi masyarakat, dan investasi. Jika pertumbuhan terus melambat, tekanan terhadap sentimen pasar dan kepercayaan investor dapat meningkat.
Atas faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi masih melemah terhadap dolar AS untuk perdagangan besok, Kamis (5/11/2026).
“Untik perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp18.050-18.120,” ujar Ibrahim.