Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Harga Berubah Lebih Mahal Saat Check Out? Ini Penjelasan Drip Pricing
Ilustrasi checkout (pexels.com/Julio Lopez)
  • Drip pricing menampilkan harga awal rendah, lalu menambahkan biaya wajib saat check out, sehingga konsumen sulit mengetahui total harga dan membandingkan penawaran.

  • Praktik ini umum pada tiket pesawat dan hotel, dengan tambahan seperti bagasi, pemilihan kursi, pajak, resort fee, atau biaya fasilitas yang muncul menjelang pembayaran.

  • Uni Eropa mewajibkan pajak dan biaya wajib tercantum sejak awal, sedangkan regulator Amerika Serikat belum mengambil sikap tegas terkait drip pricing.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kadang harga tiket pesawat atau hotel terlihat murah. Tapi saat mau bayar, ada biaya lain jadi lebih mahal. Ini namanya drip pricing. Maskapai dan hotel bisa menambah biaya bagasi, pajak, atau fasilitas di akhir. Di Uni Eropa, biaya wajib harus sudah terlihat dari awal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pernah menemukan harga tiket pesawat atau kamar hotel yang terlihat murah, tetapi total tagihannya naik saat hampir menyelesaikan pembayaran? Praktik seperti ini dikenal sebagai drip pricing.

Drip pricing merupakan strategi penetapan harga yang hanya menampilkan sebagian biaya di awal. Sementara itu, biaya yang wajib dibayar baru dimunculkan pada tahap akhir proses check out. Pola ini banyak ditemui di industri perjalanan dan perhotelan, terutama pada layanan daring.

Dilansir Investopedia, praktik tersebut dapat membuat konsumen kesulitan mengetahui harga sebenarnya sejak awal. Selain menyulitkan saat membandingkan harga, drip pricing juga menjadi perhatian regulator perlindungan konsumen, termasuk di Uni Eropa.

1. Memahami cara kerja drip pricing

ilustrasi booking tiket pesawat (freepik.com/pikisuperstar)

Pada praktiknya, harga yang ditampilkan dalam iklan, email, atau situs web belum tentu menjadi jumlah akhir yang harus dibayar konsumen. Perusahaan lebih memilih menampilkan harga awal yang lebih rendah, sedangkan biaya wajib baru ditambahkan pada tahap berikutnya dalam proses pembelian.

Cara ini membuat konsumen lebih sulit membandingkan harga antarpenjual. Di sisi lain, penjual yang sejak awal menampilkan harga secara lengkap bisa terlihat lebih mahal meski total biaya yang dibayar sebenarnya serupa.

Pendekatan tersebut memanfaatkan proses pengambilan keputusan konsumen. Setelah menghabiskan waktu memilih produk atau layanan, sebagian pembeli cenderung tetap melanjutkan transaksi meski baru mengetahui adanya biaya tambahan di tahap akhir.

Karena itu, drip pricing digunakan untuk menarik konsumen agar masuk ke proses pembelian terlebih dahulu. Ketika biaya tambahan muncul, sebagian konsumen memilih tetap menyelesaikan transaksi daripada mengulang pencarian dari awal.

2. Contoh drip pricing di dunia nyata

ilustrasi pesan hotel (pexels.com/Joshua Mayo)

Drip pricing paling sering dijumpai pada layanan perjalanan dan perhotelan. Maskapai penerbangan, misalnya, dapat menampilkan harga kursi pesawat tanpa memasukkan biaya bagasi, pemilihan kursi, pajak, maupun biaya lain yang harus dibayar penumpang.

Praktik serupa juga ditemukan di hotel. Harga kamar yang ditampilkan bisa belum mencakup pajak daerah, resort fee, atau biaya penggunaan fasilitas seperti pusat kebugaran, kolam renang, dan spa. Akibatnya, total biaya baru diketahui ketika proses pemesanan hampir selesai.

Strategi ini umumnya digunakan pada produk atau layanan yang memiliki persaingan harga tinggi. Karena konsumen terbiasa membandingkan harga, perusahaan terdorong menampilkan angka awal serendah mungkin, meski bukan harga akhir yang nantinya dibayar.

3. Bagaimana aturan mengenai drip pricing?

ilustrasi aturan (pexels.com/Joshua Miranda)

Di Amerika Serikat (AS), regulator belum menetapkan sikap yang tegas terkait praktik drip pricing. Meski demikian, pandangan konsumen dinilai dapat memengaruhi keputusan regulator untuk membatasi atau melarang praktik tersebut pada masa mendatang.

Sementara itu, Uni Eropa telah mengatur pajak, biaya, dan pungutan wajib tidak boleh ditambahkan melalui mekanisme drip pricing. Dengan demikian, komponen biaya tersebut harus sudah tercantum dalam harga yang ditampilkan kepada konsumen sejak awal.

Curated For You

Editorial Team

Related Article