Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Harga Jarum Suntik Korsel Naik 20 Persen akibat Konflik Timur Tengah

Harga Jarum Suntik Korsel Naik 20 Persen akibat Konflik Timur Tengah
Jarum suntik (unsplash.com/Mufid Majnun)
Intinya Sih
  • Ketegangan di Timur Tengah membuat pasokan petrokimia terganggu, menyebabkan harga jarum suntik di Korea Selatan naik hingga 20 persen dan pembelian alat medis mulai dibatasi.
  • Ketergantungan tinggi pada minyak dari Timur Tengah memicu lonjakan harga naphta, mengancam produksi plastik medis dan menekan produsen kecil yang hanya memiliki stok bahan baku beberapa hari.
  • Pemerintah Korea Selatan mengambil langkah darurat seperti penggunaan cadangan minyak negara, izin cepat bahan alternatif, serta negosiasi impor naphta dengan India untuk menjaga stabilitas pasokan medis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran mulai berdampak nyata pada pasokan medis di Korea Selatan. Konflik ini memicu krisis pasokan bahan baku petrokimia yang sangat penting untuk memproduksi alat kesehatan, seperti jarum suntik, sarung tangan, dan kemasan medis.

Pemerintah dan industri kesehatan Korea Selatan kini dalam posisi siaga tinggi menghadapi ancaman kelangkaan yang dapat mengganggu layanan kesehatan nasional. Berbagai langkah darurat sedang disiapkan untuk mengamankan bahan baku dan mencari sumber pasokan alternatif demi mencegah dampak ekonomi yang lebih luas.

1. Harga alat medis naik dan jumlah pembelian mulai dibatasi

Industri pembuat alat kesehatan di Korea Selatan mulai menaikkan harga jual akibat melonjaknya biaya plastik medis di pasar global. Korea Vaccine, salah satu pemasok utama alat medis dalam negeri, telah mengumumkan kenaikan harga jarum suntik sekali pakai sebesar 15 hingga 20 persen. Kenaikan ini berlaku untuk semua pengiriman selama dua bulan ke depan sejak awal April sebagai langkah antisipasi.

Pihak manajemen Korea Vaccine menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak mentah dunia membuat biaya produksi bahan berbasis minyak menjadi tidak terkendali.

"Akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, harga bahan berbasis minyak telah melonjak, yang menyebabkan ketidakstabilan pasokan. Harga akan segera disesuaikan kembali setelah kondisi pasokan stabil," tulis perusahaan dalam surat resminya, dilansir Korea Herald.

Selain kenaikan harga, para pemasok juga membatasi jumlah pembelian guna mencegah penimbunan barang. Langkah ini diambil agar stok yang terbatas bisa disalurkan secara merata ke rumah sakit yang membutuhkan. Saat ini, berbagai toko daring khusus alat medis di Korea Selatan sudah mulai memasang peringatan mengenai pembatasan jumlah pembelian.

Kebijakan ini menjadi beban berat bagi keuangan rumah sakit. Sebagian besar alat medis sekali pakai tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan nasional, sehingga rumah sakit harus menanggung biaya tambahan tersebut sendiri tanpa bisa membebankannya kepada pasien.

"Dalam jangka pendek, kami berharap pemerintah menanggulangi kenaikan harga bahan medis esensial agar perawatan pasien tidak terganggu," kata Dr. Kim Seong-geun, juru bicara Asosiasi Medis Korea Selatan, dilansir The Straits Times.

Krisis ini berpotensi mengganggu penanganan medis darurat jika pasokan jarum suntik tidak mencukupi. Beberapa rumah sakit besar bahkan sudah mulai melakukan penghematan dan memprioritaskan alat medis hanya untuk pasien dengan kondisi yang paling mendesak.

2. Produksi alat medis terancam karena ketergantungan pada minyak Timur Tengah

Sektor kesehatan Korea Selatan sangat bergantung pada produk petrokimia, terutama naphta yang menjadi bahan dasar pembuatan plastik medis. Produk penting seperti kantong infus, botol desinfektan, hingga kemasan obat semuanya dibuat dari olahan minyak bumi ini. Sekitar 45 persen kebutuhan naphta Korea Selatan berasal dari impor, dan 77 persen di antaranya didatangkan dari Timur Tengah.

Ketergantungan yang tinggi ini membuat pasokan medis Korea Selatan sangat rapuh jika terjadi gangguan di Selat Hormuz. Ketegangan militer saat ini menghambat pengiriman minyak mentah dan gas untuk pabrik-pabrik petrokimia lokal. Akibatnya, harga naphta di pasar dalam negeri melonjak drastis dari rata-rata 640 dolar AS (Rp10,87 juta) menjadi lebih dari 1.220 dolar AS (Rp20,73 juta) per metrik ton.

Kondisi ini memukul produsen kecil dan menengah yang memproduksi kemasan plastik medis. Banyak dari perusahaan ini dilaporkan hanya memiliki sisa bahan baku untuk produksi lima hingga enam hari ke depan.

Lonjakan harga bahan baku plastik juga merembet ke sektor lain yang menunjang operasional rumah sakit, seperti cat dan perlengkapan interior. Federasi Koperasi Industri Plastik Korea (KFPIC) melaporkan bahwa lebih dari 90 persen anggotanya telah menerima pemberitahuan kenaikan harga atau pemotongan pasokan dari pabrik petrokimia.

"Industri plastik menyumbang sekitar 83 persen dari biaya produksi, dan harga bahan baku memiliki dampak besar pada harga produk akhir," kata ketua KFPIC, Chae Jung-mook, dilansir Korea Joongang Daily.

Penurunan produksi di kilang minyak juga membuat pasokan polipropilena kelas medis menjadi sangat langka. Jika pasokan alternatif tidak segera ditemukan, produksi alat kesehatan di Korea Selatan terancam berhenti total, yang berisiko melumpuhkan sistem perawatan intensif di banyak rumah sakit.

3. Langkah darurat dari pemerintah

Untuk mencegah krisis semakin meluas, Kementerian Keamanan Makanan dan Obat-obatan (MFDS) mulai memeriksa stok cairan infus dan obat-obat penting. Pemerintah dan Partai Demokrat telah sepakat untuk memprioritaskan distribusi cairan infus dan mempertimbangkan izin cepat bagi produsen yang ingin menggunakan bahan kemasan alternatif agar operasional medis tetap berjalan.

Selain itu, pemerintah meluncurkan program pinjaman cadangan minyak negara (oil swap) sebanyak 20 juta barel untuk kilang domestik. Langkah ini bertujuan menutupi kekosongan stok akibat keterlambatan pengiriman dari Timur Tengah.

"Ini adalah penggunaan stok fleksibel untuk menutupi jeda waktu pengiriman bagi kilang yang telah mengamankan kargo dari wilayah lain," ujar Yang Ki-wook, Deputi Menteri Keamanan Sumber Daya.

Pemerintah juga sedang bernegosiasi dengan India untuk menambah impor naphta guna mengurangi ketergantungan pada kawasan Teluk. Menteri Perdagangan Yeo Han-koo telah menyampaikan permintaan darurat ini secara langsung kepada pemerintah India.

"Kami mengajukan permintaan darurat karena naphta adalah komoditas impor terbesar dari India, yang menyumbang sekitar 20-21 persen dari total impor kami," ujar Yeo.

Meski pemerintah telah bertindak, rumah sakit tetap dihantui ancaman finansial yang serius. Data dari Korea Health Industry Development Institute menunjukkan bahwa margin keuntungan rumah sakit umum sudah menyentuh angka minus 3,1 persen pada tahun 2023. Kerugian ini diperkirakan akan semakin parah akibat naiknya harga bahan medis serta biaya pengiriman udara dan laut yang melonjak 15 hingga 20 persen.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More