Harga Minyak Dunia Melejit Lagi, Rupiah Ditutup Keok Lawan Dolar AS

- Rupiah ditutup melemah tipis ke level Rp16.893 per dolar AS akibat tekanan dari gejolak pasar energi global dan lonjakan harga minyak dunia.
- Harga minyak Brent sempat menembus 100 dolar AS per barel setelah serangan terhadap kapal di Teluk dan penutupan Selat Hormuz, meski IEA melepas cadangan minyak besar-besaran.
- Rupiah diperkirakan masih fluktuatif dan cenderung melemah pada akhir pekan, dengan kisaran perdagangan antara Rp16.890 hingga Rp16.920 per dolar AS.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (12/3/2026). Mata uang Garuda belum mampu lepas dari tekanan gejolak pasar energi global.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sore ini parkir di level Rp16.893 per dolar AS, mengalami pelemahan tipis sebesar 7 poin atau 0,04 persen dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp16.886 per dolar AS.
1. Investor waspada usai harga minyak kembali meroket
Harga minyak melonjak tajam hingga sempat melewati angka 100 dolar AS per barel hari ini, dipicu laporan mengenai dua kapal tanker minyak internasional yang dihantam di dekat Irak, serta evakuasi terminal ekspor minyak utama oleh Oman.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, kondisi diperparah dengan aksi Iran yang memblokir Selat Hormuz, jalur nadi bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Ibrahim menjelaskan, tingginya harga minyak ini membuat pasar waspada terhadap peningkatan inflasi jangka panjang, yaitu kenaikan harga barang dan jasa secara terus-menerus.
"Hal ini pada gilirannya memicu kekhawatiran atas kebijakan bank sentral yang lebih agresif dalam beberapa bulan mendatang," ujar dia.
2. Minyak Brent naik hingga 9 persen
Melansir laporan BBC, harga minyak global kembali merangkak naik setelah tiga kapal kargo lagi menjadi sasaran serangan di kawasan Teluk. Pasar energi dunia dilaporkan terguncang akibat serangan yang terus menyasar infrastruktur pelayaran dan energi.
Minyak jenis Brent bahkan sempat melesat lebih dari 9 persen dalam perdagangan Asia hingga melampaui angka 100 dolar AS per barel, sebelum akhirnya stabil di kisaran 97,50 dolar AS.
Kenaikan tersebut tetap terjadi meski Badan Energi Internasional (IEA) telah mengumumkan pelepasan rekor 400 juta barel minyak untuk meredam dampak ekonomi dari perang antara AS-Israel dengan Iran.
Hingga saat ini, Selat Hormuz masih ditutup secara efektif karena tingginya risiko serangan terhadap kapal-kapal yang melintas.
3. Rupiah diprediksi masih melemah di akhir pekan
Jika melihat laju sejak awal tahun, rupiah mencatatkan pelemahan sebesar 1,28 persen. Sementara itu, dalam kurun waktu satu tahun terakhir atau 52 minggu, rupiah bergerak di rentang antara Rp16.079 hingga Rp17.224 per dolar AS.
Untuk perdagangan Jumat (13/3), pergerakan rupiah diprediksi masih akan fluktuatif namun cenderung ditutup melemah. Mata uang Garuda diperkirakan berada pada rentang Rp16.890 hingga Rp16.920 per dolar AS.


















