Pejabat tersebut memprediksi bahwa AS dan Israel akan melakukan serangan terbaru ke Iran. Sebab, ia melihat Washington dan Tel Aviv kini sedang melakukan diskusi dan persiapan untuk melanjutkan perang dengan Teheran. Jika serangan baru benar-benar terjadi, ia mengatakan, Teheran pasti akan melakukan balasan.
Iran Ancam Serang Aset Politik-Infrastruktur AS jika Perang Berlanjut

- Pejabat keamanan senior Iran mengancam menyerang aset politik dan infrastruktur AS jika Washington melanjutkan perang, menyusul dugaan persiapan serangan baru bersama Israel.
- Iran menilai pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio soal senjata nuklir sebagai sinyal serangan, serta menuduh Israel mendorong Washington meninggalkan negosiasi.
- Bentrokan AS-Iran mereda sejak September, tetapi ketegangan bertahan akibat klaim saling bertentangan atas kontrol Selat Hormuz dan kewajiban koordinasi kapal.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran mengancam akan menyerang aset politik dan infrastruktur milik Amerika Serikat (AS) jika Washington memutuskan untuk melanjutkan perang. Ancaman ini disampaikan oleh seorang pejabat keamanan senior Iran anonim kepada Fars News Agency, Rabu (21/10/2026) kemarin.
1. AS sudah memberikan isyarat akan menyerang Iran

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, sedang diwawancarai oleh Brian Kilmeade dari Fox News di Gedung Departemen Luar Negeri di Washington D.C., pada 25 Februari 2025. (flickr.com/U.S. Department of State via commons.wikimedia.org/U.S. Department of State) Pejabat tadi menambahkan, sinyal serangan baru dari AS semakin kuat usai Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, berpidato dalam kunjungannya di Athena, Yunani, pada 7 Oktober lalu. Dalam pidatonya, Rubio kala itu mengatakan Negeri Paman Sam tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.
Menurut pejabat tersebut, ini merupakan isyarat dari Rubio bahwa AS akan menyerang Iran. Sebab, dalam pernyataannya, Rubio mengatakan bahwa perang dengan Iran yang pecah sejak 28 Februari lalu dipicu karena isu senjata nuklir. “Iran tidak mungkin memiliki senjata nuklir. Sederhana, titik, selesai. Itulah posisi kami. Itulah alasan mengapa ini dimulai,” kata Rubio, seperti dilansir Radio Free Europe.
2. AS dihasut Israel untuk melanjutkan serangan ke Iran

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, didampingi Wakil Presiden, Mike Pence, berpartisipasi dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington D.C., pada 27 Januari 2020. (flickr.com/The Wihte House via commons.wikimedia.org/The White House) Pejabat tersebut menjelaskan, rencana AS untuk menyerang Iran juga tidak terlepas dari peran Israel. Sebab, menurutnya, Tel Avivlah yang selama ini menghasut Washington untuk melanjutkan perang daripada bernegosiasi. Ia mengatakan, Israel juga telah memengaruhi kebijakan Donald Trump soal perang dengan Iran agar AS kembali melakukan serangan.
Oleh karena itu, pejabat tersebut mengatakan bahwa Iran akan tetap berwaspada. Langkah ini diperlukan untuk melindungi diri dari serangan lanjutan AS dan Israel. Sebab, menurutnya, kedua negara tersebut bisa melakukan serangan kapan pun dan di mana pun tanpa memberikan aba-aba terlebih dahulu. Tindak seperti ini sudah menjadi pola sejak Washington dan Tel Aviv memulai perang dengan Teheran pada Februari lalu.
3. Perang AS dan Iran masih mereda

ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art) Saat ini, perang antara AS dan Iran masih mereda. Sebab, Washington dan Teheran sudah tidak terlibat bentrokan sejak September lalu. Kendati demikian, ketegangan di antara kedua negara masih terasa hingga saat ini. Sebab, mereka masih berseteru soal kekuasaan dan kontrol di Selat Hormuz.
Di satu sisi, Iran mengklaim bahwa Selat Hormuz kini masih ditutup dan masih berada di bawah kekuasaannya. Oleh karena itu, semua kapal yang ingin berlayar di sana wajib berkoordinasi terlebih dahulu dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Jika melanggar, maka blokade bahkan serangan akan dilakukan. Di sisi lain, AS justru mengklaim Selat Hormuz kini sudah 100 persen berada di bawah kekuasaannya. Oleh karena itu, Iran tidak berhak sedikit pun mengontrol lalu lintas kapal di selat itu.























