Comscore Tracker

Biografi Bung Hatta dan Jejak Pemikiran Ekonomi Kerakyatan

Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia

Jakarta, IDN Times - Dr. (H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta atau lebih kita kenal dengan nama Bung Hatta adalah Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.

Ia dikenal sebagai pejuang kemerdekaan, organisatoris, aktivis partai politik, negarawan, proklamator. Tidak hanya itu, ia juag merupakan tokoh ekonomi, termasuk pelopor koperasi yang membuatnya dijuluki sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Berikut ini adalah biografi Bung Hatta akan ekonomi kerakyatan dilansir dari berbagai sumber.

1. Arti nama Bung Hatta dan masa kecilnya

Biografi Bung Hatta dan Jejak Pemikiran Ekonomi KerakyatanIDN Times/Uni Lubis

Bung Hatta lahir di Fort de Kock, Hindia Belanda, 12 Agustus 1902. Ia adalah anak dari pasangan Muhammad Djamil dan Siti Saleha yang berasal dari Minangkabau.
Tahu kah kamu kalau Bung Hatta lahir dengan nama Muhammad Athar? Athar, dalam bahasa Arab memiliki arti "harum".

Ia mengenyam di sekolah swasta dan sempat berpindah-pindah. Ia juga sempat belajar agama dari seorang ulama pelopor pembaruan Islam dari Minangkabau pada awal abad ke-20, Muhammad Jamil Jambek serta Abdullah Ahmad dan beberapa ulama lainnya.

Baca Juga: Mengintip 9 Linimasa Sejarah Perjalanan Rupiah, Mata Uang Indonesia

2. Awal minat terhadap ekonomi

Biografi Bung Hatta dan Jejak Pemikiran Ekonomi KerakyatanBung Hatta (kepustakaan-presiden.perpusnas.go.id)

Perhatian Hatta terhadap ekonomi tidak lepas dari sosok ibunya yang berasal dari keluarga pedagang di Bukittinggi. Di Padang, ia mengenal pedagang-pedagang yang masuk anggota Serikat Oesaha dan aktif dalam Jong Sumatranen Bond sebagai bendahara.

Pada masa remajanya, Hatta pergi dari Minang dan melanjutkan studi ke Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School, Batavia sejaj 1919 hingga 1921. Di sana ia menjabat sebagai bendahara di Jakarta meski berada di Jakarta.

3. Keseriusan dalam bidang ekonomi yang semakin didalami Hatta

Biografi Bung Hatta dan Jejak Pemikiran Ekonomi KerakyatanDok. Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia

Hatta melanjutkan perjalanan ekonominya dengan masuk Nederland Handelshogeschool, Rotterdam, Belanda pada 1921-1932. Di sana ia bergabung dengan Perhimpunan Indonesia. Ia kemudian lulus dalam ujian ekonomi perdagangan pada 1923.

Di Perhimpunan Indonesia, Hatta menjadi bendahara pada 1922 dan menjadi ketua pada 1925. Setahun berselang, pidatonya membuat ia semakin dikenal sebagai pemikir ekonomi. Pidatonya kala itu berjudul “Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen” atau "Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan Kekuasaan". Pada pidatonya itu ia berbicara soal struktur ekonomi dunia berdasarkan landasan kebijakan non-kooperatif.

Pada masa ini juga, Hatta memperdalam ilmunya tentang ekonomi koperasi. Ia bahkan sampai mengunjungi Denmark untuk belajar soal koperasi.

Baca Juga: 7 Fakta Tentang Bung Hatta yang Jarang Diketahui Banyak Orang

4. Ekonomi kerakyatan dan gelar Bapak Koperasi Indonesia

Biografi Bung Hatta dan Jejak Pemikiran Ekonomi KerakyatanInstagram.com/tukangpulas_asli

Hatta aktif menulis berbagai artikel tentang politik dan ekonomi. Bahkan saat ia dipenjara oleh Belanda di Glodok, Hatta menghabiskan waktunya dengan menulis buku berjudul “Krisis Ekonomi dan Kapitalisme”.

Setelah menjabat sebagai Wakil Presiden Pertama Indonesia, Hatta tetap aktif dengan pemikiran ekonomi kerakyatannya. Yang terkenal adalah ketika ia berpidato pada 12 Juli 1951 dalam memperingati Hari Koperasi di Indonesia. Selang 5 hari 2 tahun kemudian, ia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi di Bandung. Pemikirannya tentang koperasi tertuang dalam buku berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971).

 

Memperingati HUT ke-75 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, IDN Times meluncurkan kampanye #MenjagaIndonesia. Kampanye ini didasarkan atas pengalamanan unik dan bersejarah bahwa sebagai bangsa, kita merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI dalam situasi pandemik COVID-19, di mana kita bersama-sama harus membentengi diri dari serangan virus berbahaya. Di saat yang sama, banyak hal yang perlu kita jaga sebagai warga bangsa, agar tujuan proklamasi kemerdekaan RI, bisa dicapai.

Baca Juga: Kisah Bung Hatta dengan 16 Koper Bukunya yang Menemani di Pengasingan

Topic:

  • Anata Siregar
  • Septi Riyani

Berita Terkini Lainnya