Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hunian di Lisbon Kian Mahal, Butuh 19 Tahun Kerja demi Punya Rumah
ilustrasi Lisbon, Portugal, Eropa (pexels.com/Lisa from Pexels)
  • Harga rumah di Lisbon melonjak hingga hampir 19 kali pendapatan tahunan warga, menjadikannya salah satu pasar perumahan paling tidak terjangkau di Eropa.
  • Dalam sepuluh tahun terakhir, harga properti naik sekitar 240 persen sementara gaji hanya tumbuh 59 persen, membuat generasi muda makin sulit membeli rumah.
  • Pasokan hunian baru jauh di bawah kebutuhan nasional dan proses perizinan yang lambat memperparah krisis keterjangkauan, memicu protes publik serta kekhawatiran ekonomi jangka panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Memiliki rumah sendiri masih menjadi impian banyak orang, termasuk kamu yang ingin punya tempat tinggal tanpa harus terus menyewa. Namun, di sejumlah kota besar dunia, impian tersebut semakin sulit diwujudkan karena harga properti terus melesat.

Salah satu contohnya adalah Lisbon, ibu kota Portugal, yang kini masuk dalam jajaran kota dengan pasar perumahan paling tak terjangkau di Eropa. Harga rumah di kota ini tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan pendapatan masyarakat setempat.

Akibatnya, banyak warga harus bekerja hampir dua dekade hanya untuk membeli sebuah rumah sederhana. Kondisi tersebut juga menjadi perhatian berbagai lembaga internasional yang menilai Portugal menghadapi tantangan serius dalam menyediakan hunian yang terjangkau.

1. Harga rumah di Lisbon sudah jauh melampaui kemampuan beli warga

ilustrasi Lisbon, Portugal, Eropa (pexels.com/Marcelo Verfe)

Lisbon saat ini memiliki rasio harga rumah terhadap pendapatan sebesar sekitar 18,7. Angka tersebut menunjukkan bahwa harga rumah rata-rata mencapai hampir 19 kali pendapatan tahunan rumah tangga. Sebagai perbandingan, para ekonom umumnya menganggap rasio di atas 10 sudah menandakan pasar perumahan yang mulai bermasalah bagi calon pembeli. Kondisi ini membuat Lisbon menjadi salah satu kota dengan pasar perumahan paling tak terjangkau di Eropa.

Kondisi tersebut membuat kepemilikan rumah semakin sulit dijangkau oleh masyarakat lokal. Sebuah apartemen sederhana seluas sekitar 50 meter persegi di pusat Lisbon dihargai sekitar 338 ribu euro atau sekitar Rp6,47 miliar (asumsi kurs Rp19.150 per euro). Sementara itu, rata-rata pendapatan bersih warga hanya sekitar 17 ribu euro atau sekitar Rp325 juta per tahun. Jika seluruh penghasilan digunakan untuk membeli rumah tanpa mengeluarkan biaya hidup sama sekali, seseorang tetap membutuhkan hampir 19 tahun untuk melunasi harga hunian tersebut.

2. Kenaikan harga rumah jauh meninggalkan pertumbuhan gaji

ilustrasi tram di Lisbon, Portugal, Eropa (pexels.com/Jing Zhan)

Selama sekitar sepuluh tahun terakhir, harga rumah di Portugal melonjak hampir 240 persen. Dalam periode yang sama, rata-rata gaji masyarakat hanya meningkat sekitar 59 persen. Perbedaan yang sangat lebar ini membuat daya beli masyarakat semakin tertinggal dibandingkan kenaikan nilai properti. Akibatnya, membeli rumah menjadi semakin sulit meskipun pendapatan terus mengalami kenaikan.

Banyak pekerja dengan penghasilan tetap kini harus menabung lebih lama untuk memiliki rumah sendiri. Kelompok usia muda menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya karena harus menghadapi harga properti yang terus meningkat sejak mereka mulai memasuki dunia kerja. Menurut OECD, tantangan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari hambatan investasi di sektor perumahan, pasar sewa yang belum berkembang optimal, hingga dukungan terhadap kelompok rentan yang masih terbatas. Kondisi tersebut membuat kesenjangan antara harga rumah dan kemampuan beli masyarakat semakin melebar dari tahun ke tahun.

3. Pasokan rumah belum mampu memenuhi permintaan

ilustrasi perumahan di Lisbon, Portugal, Eropa (pexels.com/Lajos Kristóf Kántor)

Banyak orang menganggap kenaikan harga rumah hanya disebabkan oleh minimnya pembangunan hunian baru. Memang, Portugal saat ini hanya mampu menyelesaikan sekitar 25 ribu hingga 30 ribu unit rumah setiap tahun, sementara kebutuhan diperkirakan mencapai 45 ribu hingga 50 ribu unit. Ketimpangan tersebut membuat pasokan sulit mengejar permintaan yang terus meningkat. Dampaknya, persaingan untuk mendapatkan rumah pun menjadi semakin ketat.

Namun, OECD menjelaskan bahwa persoalannya jauh lebih kompleks. Lembaga tersebut menilai akses terhadap perumahan di Portugal terhambat oleh berbagai tantangan struktural, seperti proses perizinan yang kurang fleksibel, pasar sewa yang belum efisien, serta investasi pembangunan rumah yang berjalan lambat.

OECD juga menjelaskanbahwa memperbaiki keterjangkauan perumahan membutuhkan reformasi yang menyeluruh, bukan hanya membangun rumah dalam jumlah lebih banyak. Langkah tersebut dinilai penting agar pasokan rumah dapat mengimbangi kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.

4. Dampaknya mulai terasa bagi masyarakat dan perekonomian

ilustrasi Lisbon, Portugal, Eropa (pexels.com/Lisa from Pexels)

Sulitnya mendapatkan rumah dengan harga terjangkau memicu gelombang protes di Portugal dalam beberapa tahun terakhir. Ribuan warga turun ke jalan untuk meminta pemerintah memperbanyak hunian terjangkau, memperketat pengendalian harga sewa, dan memanfaatkan bangunan kosong agar bisa digunakan sebagai tempat tinggal.

Aksi tersebut menunjukkan bahwa persoalan perumahan kini telah menjadi isu sosial yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Tekanan terhadap biaya hidup juga membuat semakin banyak keluarga kesulitan mencari tempat tinggal yang layak.

Di sisi lain, Jaime Luque menjelaskan bahwa mahalnya biaya perumahan bukan hanya berdampak pada calon pembeli rumah. Ketika guru, perawat, polisi, mahasiswa, hingga pekerja muda gak lagi mampu tinggal di kota tempat mereka bekerja, daya saing ekonomi sebuah kota ikut terancam.

Kota berisiko kehilangan tenaga kerja penting yang menjadi penopang berbagai sektor pelayanan publik dan ekonomi. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah karena semakin sedikit pekerja yang mampu bertahan tinggal di kota.

5. Harga rumah diperkirakan masih akan tetap tinggi

ilustrasi Lisbon, Portugal, Eropa (pexels.com/Newman Photographs)

Meskipun harga rumah sudah sangat mahal, sebagian besar ekonom belum memperkirakan akan terjadi penurunan harga secara drastis dalam waktu dekat. Menurut Banco de Portugal, keterbatasan pasokan rumah masih menjadi faktor utama yang terus mendorong kenaikan harga.

Di sisi lain, aturan pemberian kredit perumahan yang relatif ketat dinilai berhasil menjaga agar masyarakat gak mengambil pinjaman berisiko tinggi seperti yang sering memicu gelembung properti. Hal tersebut membuat kondisi pasar masih relatif stabil meski harga terus meningkat.

Artinya, pasar properti Portugal memang sangat mahal, tapi belum tentu berada dalam kondisi gelembung spekulatif yang siap pecah. Permintaan yang tetap tinggi, pasokan rumah yang terbatas, dan minat investor internasional masih menjadi penopang pasar.

Meski demikian, selisih yang semakin lebar antara harga rumah dan pendapatan masyarakat menjadi peringatan bahwa akses terhadap kepemilikan rumah di Lisbon semakin sulit bagi warga lokal. Selama belum ada peningkatan pasokan yang signifikan, harga rumah diperkirakan masih akan bertahan pada level yang tinggi.

Kasus Lisbon menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan popularitas sebuah kota gak selalu membuat masyarakatnya lebih mudah memiliki rumah. Ketika harga properti naik jauh lebih cepat daripada pendapatan, impian membeli hunian menjadi semakin sulit diwujudkan, terutama bagi generasi muda.

Berbagai lembaga seperti OECD dan Banco de Portugal juga menilai persoalan ini membutuhkan solusi yang menyeluruh, mulai dari memperbaiki regulasi hingga meningkatkan pasokan rumah yang terjangkau. Selama kesenjangan antara harga rumah dan kemampuan beli masyarakat masih melebar, memiliki rumah sendiri di Lisbon kemungkinan besar akan tetap menjadi tantangan besar bagi banyak orang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article