ilustrasi Lisbon, Portugal, Eropa (pexels.com/Newman Photographs)
Meskipun harga rumah sudah sangat mahal, sebagian besar ekonom belum memperkirakan akan terjadi penurunan harga secara drastis dalam waktu dekat. Menurut Banco de Portugal, keterbatasan pasokan rumah masih menjadi faktor utama yang terus mendorong kenaikan harga.
Di sisi lain, aturan pemberian kredit perumahan yang relatif ketat dinilai berhasil menjaga agar masyarakat gak mengambil pinjaman berisiko tinggi seperti yang sering memicu gelembung properti. Hal tersebut membuat kondisi pasar masih relatif stabil meski harga terus meningkat.
Artinya, pasar properti Portugal memang sangat mahal, tapi belum tentu berada dalam kondisi gelembung spekulatif yang siap pecah. Permintaan yang tetap tinggi, pasokan rumah yang terbatas, dan minat investor internasional masih menjadi penopang pasar.
Meski demikian, selisih yang semakin lebar antara harga rumah dan pendapatan masyarakat menjadi peringatan bahwa akses terhadap kepemilikan rumah di Lisbon semakin sulit bagi warga lokal. Selama belum ada peningkatan pasokan yang signifikan, harga rumah diperkirakan masih akan bertahan pada level yang tinggi.
Kasus Lisbon menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan popularitas sebuah kota gak selalu membuat masyarakatnya lebih mudah memiliki rumah. Ketika harga properti naik jauh lebih cepat daripada pendapatan, impian membeli hunian menjadi semakin sulit diwujudkan, terutama bagi generasi muda.
Berbagai lembaga seperti OECD dan Banco de Portugal juga menilai persoalan ini membutuhkan solusi yang menyeluruh, mulai dari memperbaiki regulasi hingga meningkatkan pasokan rumah yang terjangkau. Selama kesenjangan antara harga rumah dan kemampuan beli masyarakat masih melebar, memiliki rumah sendiri di Lisbon kemungkinan besar akan tetap menjadi tantangan besar bagi banyak orang.