Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan, Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi (kanan) dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik (kiri). (IDN Times/Vadhia Lidyana)
  • Likuiditas saham meningkat pada Oktober 2026, dengan rata-rata nilai transaksi harian Rp16,31 triliun dan capaian year-to-date Rp20,34 triliun.
  • Investor asing mencatat beli bersih SBN Rp9,55 triliun; tujuh ETF emas mengelola Rp110,26 miliar, sementara transaksi derivatif Januari–Oktober mencapai 441.636 lot.
  • Ketidakpastian global dan proposal konsultasi reklasifikasi MSCI menekan IHSG ke 5.057,05, turun 16,7 persen bulanan, saat asing menjual bersih saham Rp16,88 triliun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat likuiditas perdagangan di pasar saham Indonesia meningkat pada Oktober 2026, meskipun pasar modal masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian global dan dinamika sentimen investor.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan peningkatan likuiditas tercermin dari rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) yang mencapai Rp16,31 triliun pada Oktober 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan September 2026 yang sebesar Rp14,94 triliun.

"Dengan demikian, RNTH pasar saham secara year to date (YtD) hingga Oktober 2026 tercatat sebesar Rp20,34 triliun," ujar Hasan dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, Kamis (5/11/2026).

1. Aksi beli investor di SBN capai Rp9,55 triliun

Ilustrasi IHSG. (IDN Times/Aditya Pratama)

Selain itu, rata-rata rentang bid-ask spread pasar saham tetap terjaga di level 1,52 persen pada Oktober 2026.

Di sisi lain, minat investor terhadap instrumen pendapatan tetap juga masih terjaga. Hal ini tercermin dari aksi beli bersih atau net buy investor asing di pasar surat berharga negara (SBN) yang mencapai Rp9,55 triliun secara bulanan.

2. Investasi ETF emas kian dilirik, AUM tembus Rp110,26 miliar

ilustrasi emas batangan/emas antam (freepik)

Sementara itu, produk investasi berbasis emas juga terus berkembang. Sejak diluncurkan pada 10 Agustus hingga 30 Oktober 2026, terdapat tujuh produk exchange traded fund (ETF) emas yang diterbitkan oleh tujuh manajer investasi.

"Total dana kelolaan atau asset under management (AUM) dari ketujuh produk tersebut mencapai Rp110,26 miliar," jelasnya.

Di pasar keuangan derivatif, volume transaksi secara akumulatif sepanjang Januari hingga Oktober 2026 mencapai 441.636 lot.

3. Proposal konsultasi reklasifikasi MSCI pengaruhi pergerakan pasar modal

Ilustrasi IHSG. (IDN Times/Aditya Pratama)

Hasan menyebut ketidakpastian global, perubahan persepsi risiko investor, serta pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait proposal konsultasi reklasifikasi status Indonesia turut memengaruhi pergerakan pasar modal dalam negeri.

Tekanan tersebut tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup di level 5.057,05 pada akhir Oktober 2026. Posisi tersebut terkoreksi 16,7 persen secara month to date (MtD).

"Pada periode yang sama, investor asing membukukan penjualan bersih atau net sell saham senilai Rp16,88 triliun," ucapnya.

Adapun di bursa karbon, OJK mencatat sebanyak 160 pengguna jasa telah terdaftar hingga Oktober 2026. Volume transaksi mencapai 1,98 juta ton setara karbon dioksida (CO2e), dengan akumulasi nilai transaksi sebesar Rp94,2 miliar.

Meski aktivitas intermediasi dan transaksi di berbagai segmen pasar modal masih terjaga, pasar saham domestik tetap menghadapi tekanan sepanjang Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article