Laba PTBA Naik 218 Persen di Semester I-2026, Sentuh Rp2,65 Triliun

- PTBA mencetak laba bersih Rp2,65 triliun pada semester I-2026, melonjak 218 persen secara tahunan, dengan EBITDA Rp4,27 triliun.
- Pendapatan naik 8 persen menjadi Rp22,03 triliun meski volume penjualan turun 2 persen, didorong kenaikan harga batu bara global dan harga jual rata-rata 10 persen.
- Aset PTBA naik 10 persen menjadi Rp48,1 triliun; liabilitas meningkat 7 persen, sementara arus kas operasi tumbuh 108 persen menjadi Rp4,63 triliun.
Jakarta, IDN Times - PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) membukukan laba bersih Rp2,65 triliun per semester I-2026. Angka tersebut tumbuh 218 persen dibandingkan dengan semester I-2025 yang sebesar Rp833 miliar.
PTBA mencatatkan EBITDA sebesar Rp4,27 triliun, dengan net profit margin dan EBITDA margin berturut-turut di angka 12 dan 19 persen.
"Di tengah momentum penguatan harga batubara global, Perseroan mampu mengoptimalkan peluang pasar melalui strategi penjualan yang adaptif, yang didukung oleh pelaksanaan program efisiensi secara cermat dan tepat sasaran,” kata Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan, dikutip dari keterangan resmi, Rabu (2/9/2026).
1. Pendapatan tumbuh delapan persen

Operasional pertambangan batu bara PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA). (Dok. PTBA) PTBA membukukan pendapatan sebesar Rp22,03 triliun sampai dengan akhir Juni 2026, atau naik sebesar delapan persen secara year on year (yoy). Meskipun volume penjualan turun 2 persen (yoy), Newcastle Index naik 25 persen (yoy) dan ICI-3 naik 15 persen (yoy), yang turut mendorong penguatan harga jual rata-rata yang tercatat naik 10 persen (yoy).
Adapun untuk porsi penjualan sampai dengan akhir Juni 2026, penjualan domestik tercatat sebesar 51 persen, sedangkan sisanya 49 persen merupakan ekspor. Pada akhir periode tersebut, lima negara tujuan ekspor terbesar ditempati oleh Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand.
2. Perusahaan hadapi peningkatan biaya akibat perang di Selat Hormuz

Potret area kerja PT Bukit Asam Tbk (PTBA). (Dok. PTBA) Lebih lanjut, beban pokok pendapatan terealisasi sebesar Rp17,78 triliun, atau turun sebesar 2 persen (yoy). Penurunan itu seiring dengan penurunan volume operasional, baik produksi batu bara yang turun 10 persen (yoy) maupun angkutan yang juga turun 6 persen (yoy).
Adapun konflik di Selat Hormuz yang terjadi pada akhir Februari 2026 berdampak pada peningkatan harga BBM per liter menjadi Rp19.503 per liter sampai. 30 Juni 2026. Angka itu naik sebesar 34 persen (yoy).
PTBA menyatakan kondisi itu menyebabkan peningkatan biaya bahan bakar yang digunakan oleh perusahaan, baik untuk kebutuhan jasa penambangan maupun angkutan kereta api. Untuk menghadapi peningkatan biaya tersebut, perusahaan melakukan efisiensi.
Di samping itu, secara yoy, beban operasional naik sebesar Rp184,84 miliar atau 13 persen dari periode yang sama sebelumnya. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh adanya kenaikan pada komponen beban umum dan administrasi.
3. Liabilitas naik 7 persen

Potret area kerja PT Bukit Asam Tbk (PTBA). (Dok. PTBA) Total aset pada 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp48,1 triliun atau naik 10 persen dibandingkan dengan akhir 2025 yang tercatat sebesar Rp43,92 triliun. Hal tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan kas dan setara kas serta piutang usaha Perusahaan seiring dengan peningkatan pendapatan Perusahaan.
Total liabilitas pada 30 Juni 2026 tercatat naik 7 persen dari posisi pada akhir Desember 2025 sebesar Rp21,3 triliun, menjadi Rp22,76 triliun. Sedangkan ekuitas tercatat naik 12 persen dari posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp22,62 triliun menjadi Rp25,34 triliun pada 30 Juni 2026.
Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi tercatat naik dari sebelumnya Rp2,22 triliun menjadi Rp4,63 triliun atau naik 108 persen (yoy). Kenaikan itu terutama disebabkan oleh kenaikan penerimaan dari pelanggan.
Lalu, arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi tercatat turun dari periode sebelumnya Rp1,34 triliun menjadi Rp1,26 triliun sampai dengan 30 Juni 2026. Penurunan itu terutama disebabkan oleh penurunan perolehan aset tetap dan tanaman produktif.
Sementara, arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan tercatat naik dari periode sebelumnya Rp1 triliun menjadi Rp1,06 triliun sampai dengan 30 Juni 2026. Kenaikan itu seiring dengan adanya peningkatan atas pembayaran pinjaman bank.
Belanja modal sampai dengan 30 Juni 2026 terealisasi sebesar Rp1,09 triliun dengan mayoritas digunakan untuk pengembangan angkutan batu bara relasi Tanjung Enim-Kramasan.



















