Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Laju Ekonomi Global Diproyeksi Mentok di 3 Persen, Inflasi 4,6 Persen
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti. (Instagram/Bank Indonesia)
  • Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global 2026 hanya 3 persen, dengan inflasi 4,6 persen, di tengah perlambatan ekonomi dan ketidakpastian pasar keuangan.
  • Konflik Timur Tengah menjaga harga minyak serta komoditas global tetap tinggi, sementara kebijakan moneter dunia diperkirakan ketat lebih lama dan peluang kenaikan suku bunga AS masih terbuka.
  • Minat investor pada aset negara berkembang terbatas dan dolar AS menguat; BI menilai sinergi fiskal-moneter diperlukan untuk menjaga stabilitas, ketahanan eksternal, serta pertumbuhan domestik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) menyampaikan, prospek ekonomi global masih dibayangi perlambatan pertumbuhan dan tingginya ketidakpastian pasar keuangan. Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, eskalasi konflik di Timur Tengah (Timteng) turut mendorong harga minyak dan berbagai komoditas dunia bertahan tinggi.

"Pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan hanya mencapai 3 persen, sementara inflasi diproyeksikan berada di level 4,6 persen," kata dia dalam Konferensi Pers RDG BI, Rabu (21/10/2026).

Di sisi lain, kebijakan moneter global diperkirakan tetap ketat dalam waktu lebih lama atau higher for longer. Peluang kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) atau Fed Funds Rate juga masih terbuka. Kondisi tersebut berpotensi menjaga imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tetap tinggi.

"Selain ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter The Federal Reserve, pelebaran defisit anggaran pemerintah AS turut menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan imbal hasil," ujarnya.

Tekanan di pasar keuangan global juga tercermin dari terbatasnya minat investor terhadap aset portofolio di negara berkembang (emerging markets). Situasi ini turut menopang penguatan indeks dolar AS (DXY) terhadap mata uang negara maju maupun negara berkembang.

Menghadapi kondisi tersebut, diperlukan penguatan sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga ketahanan ekonomi domestik. Dengan demikian, koordinasi kedua kebijakan ini dinilai penting guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas ekonomi, dan menopang pertumbuhan nasional.

Curated For You

Editorial Team

Related Article