Mana yang paling enak menurutmu, usaha bareng teman atau merintisnya sendirian? Di awal, kamu ingin membangun usaha, adanya partner barangkali terasa sebagai kebutuhan utama. Dirimu gak percaya diri untuk memulai usaha apa pun tanpa kawan yang berjuang bersama.
Kapan Waktunya Out dari Usaha Bersama dan Bikin Usaha Sendiri?

Keluar dari usaha bersama bisa dipertimbangkan ketika beban kerja tidak seimbang, tetapi keuntungan tetap dibagi rata dengan partner.
Perpisahan usaha relevan bila ide selalu didominasi partner, arah bisnis berbeda, atau partner mempertahankan usaha yang terus merugi.
Konflik pribadi yang mengganggu operasional, maupun keinginan mandiri, perlu ditangani melalui komunikasi, pemberitahuan awal, dan transfer pekerjaan serta data secara transparan.
Memang partner dalam usaha bisa sangat membantu untuk berbagi gagasan, modal, sampai tenaga buat menjalankannya ketika belum ada karyawan. Akan tetapi, seiring waktu, usaha bersama kadang menemui terlalu banyak rintangan. Suasana kerja serta hubunganmu dengan teman makin tak menyenangkan.
Bagaimanapun sejarah usaha tersebut, dirimu harus berani mengambil keputusan out jika diperlukan. Bukan kamu lantas sama sekali tidak lagi menjalankan usaha. Boleh jadi sudah waktunya untuk mengelola usaha sendiri agar konsepnya persis seperti keinginanmu. Berikut tanda dirimu mending hengkang atau out dari usaha bersama dan bikin usaha sendiri.
1. Bagi hasilnya sama, tapi kamu yang paling capek

ilustrasi partner usaha (pexels.com/Pavel Danilyuk) Seharusnya, dengan adanya teman dalam membangun serta menjalankan usaha, segalanya terasa lebih ringan. Sebelum ada karyawan pun, pekerjaan sudah bisa dibagi dua. Faktanya, ini gak terjadi dalam usaha kalian.
Malah dirimu yang capek sendirian mengelola usaha itu. Temanmu cuma mau tahu semua urusan beres serta bagi hasilnya. Kamu dan dia masing-masing memperoleh 50 persen dari keuntungan bersih, tapi kerjamu 90 bahkan 100 persen.
Ini namanya bukan kerja sama, melainkan kamu diperbudak oleh kawan sendiri. Mending dirimu membuat usaha pribadi. Skill-mu dalam mengelola usaha sudah terbukti. Jangan kasih tempat buat penumpang gelap yang cuma mau numpang makan dari keringatmu.
2. Banyak idemu tidak bisa terlaksana karena dominasi partner

ilustrasi usaha bersama (pexels.com/🇻🇳🇻🇳Nguyễn Tiến Thịnh 🇻🇳🇻🇳) Tentu, keputusan menjalankan usaha bareng teman berarti kalian harus sama-sama mampu mengendalikan keinginan. Dua keinginan yang berbeda perlu didiskusikan dengan kepala dingin agar ada titik temu yang bisa dieksekusi bareng. Kalau pun titik temu sulit tercapai, pakai cara bergantian.
Hari ini ide siapa yang duluan dijalankan, next time gantian ide yang lain. Toh, kalian pasti sama-sama menginginkan hasil terbaik dalam usaha. Akan tetapi, apabila gagasanmu selalu dimentahkan kawan hingga tak pernah terlaksana, buat apa kamu tetap di situ?
Kedudukan kalian sebagai partner usaha setara. Masa dirimu tidak pernah didengarkan olehnya? Selain itu, artinya ia tak menghargai kamu. Boleh jadi ide-idemu bakal kasih lebih banyak keuntungan seandainya diberi kesempatan untuk dijalankan. Saatnya kamu merealisasikan pemikiran-pemikiranmu sendiri di luar tanpa perlu izin atau campur tangan.
3. Sudah beda arah

ilustrasi partner usaha (pexels.com/Kampus Production) Kamu dan teman dulu kompak menjalankan usaha bersama. Kalian saling melengkapi ide serta melihat tujuan besar yang sama. Namun, lambat laun sangat mungkin terjadi perbedaan arah usaha di antara kamu dan dia.
Misalnya, semula kalian menjalankan usaha minimarket. Kalian menjual kebutuhan sehari-hari. Kini dia ingin mengarahkan usaha khusus ke sembako saja. Menurutnya, itu lebih menguntungkan dan simpel. Sementara kamu ingin menjual produk siap makan dan minum.
Camilan-camilan masih ada, tapi tidak dengan sabun mandi, pasta gigi, dan sebagainya. Penambahan produk meliputi aneka nasi siap santap, salad buah dan sayur, serta minuman panas dan dingin seperti teh, kopi, dan jus. Dengan arah usaha yang berbeda ini, memang telah saatnya kalian jalan sendiri-sendiri.
4. Ia berkeras mempertahankan usaha yang tak terselamatkan lagi

ilustrasi usaha bersama (pexels.com/🇻🇳🇻🇳Nguyễn Tiến Thịnh 🇻🇳🇻🇳) Usaha kalian bukan hanya goyah, melainkan tinggal menunggu tumbang. Ini pun tak sekadar prediksimu yang dipenuhi pesimisme. Tanda-tanda ke arah sana telah sangat jelas. Seperti omzet yang terus menurun dan tak bisa menutup biaya operasional.
Kalian sudah mengurangi karyawan sampai tinggal kamu dan partner yang mengerjakan semuanya pun, usaha tetap bahkan tambah seret. Kalian tidak bisa terus merogoh kocek masing-masing buat menutup modal. Kalian juga harus memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dirimu sudah berulang kali mengajak kawan menyudahi usaha ini sebelum kerugian makin besar, tabungan kalian ludes, bahkan menumpuk utang. Namun, dia berkeras dengan idealismenya untuk mempertahankan usaha. Daripada kalian masuk jurang bareng mending kamu menyelamatkan diri. Bukan artinya dirimu gak setia, kawan, tetapi ia terlalu keras kepala padahal risikonya sangat besar.
5. Konflik pribadi berefek ke usaha atau sebaliknya

ilustrasi usaha bersama (pexels.com/destiawan nur agustra) Di setiap hubungan pertemanan dan usaha pasti ada masalah. Apalagi saat keduanya dicampur menjadi satu. Jangankan pertemanan, kadang hubungan persaudaraan saja dapat hancur ketika usaha yang dirintis bersama bermasalah.
Penting untukmu tahu kapan lebih baik mundur ketimbang situasi makin memanas. Ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, terdapat persoalan pribadi di antara kalian yang lalu merambat ke jalannya usaha.
Kedua, masalah muncul dalam usaha kalian dulu, kemudian hubungan pertemanan tambah renggang. Kalian sampai saling menghindar, komunikasi tidak lancar, karyawan bingung oleh dua instruksi yang berbeda, adanya tanggung jawab yang terbengkalai, dan sebagainya. Ketika usaha berbaikan gagal terus atau cuma bertahan sesaat, pisah jalan lebih kondusif buat perkembangan usaha masing-masing.
6. Gak harus ada masalah, kamu cuma ingin lebih mandiri dan berkembang

ilustrasi usaha bersama (pexels.com/Elizabeth Zernetska) Keputusan untuk lepas dari usaha bersama seseorang atau sejumlah teman yang telah berjalan sekian tahun tidak melulu karena ada masalah di antara kalian. Setiap hari kamu kudu menentukan langkah dalam hidup. Saat ada hal-hal yang terasa kurang sejalan dengan keinginanmu, dirimu berhak mundur.
Kamu gak bisa disebut tidak loyal pada teman selama rencanamu untuk keluar dari usaha tersebut sudah disampaikan sejak jauh-jauh hari. Ia menjadi punya kelonggaran untuk bersiap-siap mengurus sendiri usaha tersebut. Dirimu juga mesti terbuka terkait penyebabnya.
Kamu cuma merasa telah tiba waktunya untuk lebih mandiri dalam menjalankan usaha atau ada jalan hidup lain yang hendak ditempuh. Misalnya, dirimu ingin menjadi karyawan kantoran saja, pindah kota, dan sebagainya. Proses transfer semua pekerjaan dan data ke kawan mesti berjalan lancar serta transparan hingga tuntas.
Semuanya ada masanya. Termasuk usaha bersama yang tidak harus dipertahankan. Jika situasinya sudah tidak memungkinkan untuk dilanjutkan, lebih baik out dari usaha bersama dan bikin usaha sendiri. Hidupmu mesti berlanjut sekalipun usaha bersama terhenti.






















