Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Laporan PBB: 1 dari 3 Orang di Dunia Tak Mampu Beli Makanan Sehat
ilustrasi anak kecil di Afrika (pexels.com/Lagos Food Bank Initiative)
  • Lima badan PBB melaporkan 2,69 miliar orang, sekitar satu dari tiga penduduk dunia, belum mampu membeli pola makan sehat yang beragam dan bergizi.
  • Kelaparan global turun menjadi 7,8% pada 2025 dari 8,1% setahun sebelumnya, tetapi mahalnya buah, sayur, daging, dan susu tetap menghambat akses gizi.
  • Afrika paling terdampak: 66,6% penduduknya tidak mampu membeli makanan sehat dan 309 juta orang mengalami kelaparan; pola makan murah rendah gizi turut dikaitkan dengan kenaikan obesitas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makan sehat sering dianggap sebagai pilihan terbaik untuk menjaga tubuh tetap bugar. Sayangnya, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa gak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati makanan bergizi setiap hari.

Laporan terbaru dari lima badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan bahwa sekitar satu dari tiga orang di dunia masih belum mampu membeli pola makan sehat. Meski angka kelaparan global terus menurun selama tiga tahun berturut-turut, biaya makanan bergizi masih menjadi tantangan besar di banyak negara. Kondisi ini membuat para ahli mendesak pemerintah dan berbagai pihak untuk segera mengambil langkah agar makanan sehat menjadi lebih terjangkau bagi semua orang.

Lalu, seperti apa gambaran kondisi yang diungkap dalam laporan tersebut? Simak penjelasannya berikut ini.

1. Satu dari tiga orang masih kesulitan membeli makanan sehat

ilustrasi nasi atau beras merah, healthy food (magnific.com/topntp26)

Laporan PBB menyebutkan bahwa sekitar 2,69 miliar orang di dunia belum mampu membeli pola makan yang beragam dan memenuhi kebutuhan energi serta zat gizi harian. Artinya, bukan hanya soal cukup makan, tapi juga soal mendapatkan makanan dengan kandungan nutrisi yang lengkap. Kondisi ini menunjukkan bahwa akses terhadap makanan sehat masih menjadi masalah global yang belum terselesaikan.

Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa biaya rata-rata untuk menjalani pola makan sehat mencapai 4,28 dolar purchasing power parity (PPP) per hari, atau secara kasar setara dengan sekitar Rp70 ribu per hari. Nilai tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan garis kemiskinan ekstrem global yang berada di angka 3 dolar PPP per orang per hari, atau sekitar Rp49 ribu per hari. Perbedaan itu membuat banyak keluarga harus memilih makanan yang mengenyangkan, meski belum tentu memberikan nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

2. Angka kelaparan memang turun, tapi tantangannya belum selesai

ilustrasi kelaparan, kemiskinan (pexels.com/Damilola Saka)

Kabar baiknya, jumlah penduduk dunia yang mengalami kelaparan kembali menurun pada 2025. Laporan PBB mencatat sekitar 7,8% populasi dunia mengalami kelaparan, turun dari 8,1% pada tahun sebelumnya. Penurunan ini menjadi tahun ketiga berturut-turut sejak tren perbaikan mulai terlihat.

Namun, penurunan angka kelaparan gak otomatis berarti semua orang sudah bisa mengonsumsi makanan sehat. Kepala ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), Maximo Torero, menjelaskan bahwa tingginya harga makanan bergizi masih menjadi hambatan utama. Menurutnya, masih dibutuhkan upaya yang sangat besar agar target dunia mengakhiri kelaparan pada tahun 2030 benar-benar bisa tercapai.

3. Harga buah, sayur, dan produk susu masih menjadi kendala

ilustrasi almond milk, susu almon, susu kedelai, soy milk, susu nabati (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Selama ini, banyak kebijakan pemerintah di berbagai negara lebih berfokus pada subsidi bahan pangan pokok seperti serealia dan makanan bertepung. Kebijakan tersebut memang membantu masyarakat memperoleh sumber kalori dengan harga lebih murah. Akan tetapi, kebutuhan gizi bukan hanya bergantung pada kalori, melainkan juga keberagaman makanan.

Maximo Torero menjelaskan bahwa buah, sayuran, daging, dan produk susu justru masih relatif mahal bagi banyak masyarakat. Akibatnya, banyak orang mengonsumsi makanan yang mengenyangkan tapi kurang kaya vitamin, mineral, dan protein. Karena itu, laporan PBB mendorong investasi pada infrastruktur, penelitian, serta rantai pasok pangan agar biaya distribusi lebih efisien sehingga harga makanan sehat bisa ikut turun.

4. Pola makan yang kurang sehat ikut memicu obesitas

ilustrasi obesitas (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Ketika makanan bergizi sulit dijangkau, banyak orang akhirnya lebih sering memilih makanan yang murah, tinggi kalori, tapi rendah kandungan nutrisi. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh individu, tapi juga membebani sistem kesehatan di banyak negara.

Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa angka obesitas pada orang dewasa meningkat dari 12,1% pada 2012 menjadi 16,2% pada 2024. Maximo Torero menilai bahwa peningkatan obesitas terjadi dengan sangat cepat sehingga perlu segera diatasi. Menurutnya, kebijakan yang mendorong konsumsi buah dan sayuran dapat membantu mengurangi dampak ekonomi maupun kesehatan akibat pola makan yang kurang berkualitas.

5. Afrika masih menjadi wilayah yang paling terdampak

ilustrasi Niger, Afrika Barat (pexels.com/Kaybee Photography)

Laporan PBB juga menunjukkan bahwa Afrika menjadi kawasan dengan tantangan terbesar terkait akses terhadap makanan sehat. Pada 2025, sekitar 66,6% penduduk Afrika gak mampu membeli pola makan sehat. Angka ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan kawasan Asia maupun Amerika Latin dan Karibia.

Selain itu, Afrika kini menjadi wilayah dengan jumlah penduduk yang mengalami kelaparan terbanyak, yaitu sekitar 309 juta orang, melampaui Asia yang mencapai sekitar 292 juta orang. Meski demikian, terdapat secercah harapan karena proporsi penduduk yang mengalami kelaparan di Afrika mulai menurun untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Para penyusun laporan juga mengingatkan bahwa berbagai tantangan baru, termasuk gangguan rantai pasok akibat konflik geopolitik, berpotensi memengaruhi kondisi pangan global pada tahun-tahun mendatang.

Laporan terbaru dari lima badan PBB menjadi pengingat bahwa persoalan pangan bukan hanya soal menghilangkan rasa lapar, tapi juga memastikan setiap orang memiliki akses terhadap makanan yang bergizi. Walaupun angka kelaparan dunia menunjukkan tren membaik, biaya makanan sehat yang masih tinggi membuat miliaran orang belum bisa memenuhi kebutuhan nutrisi secara optimal.

Kondisi ini membutuhkan kerja sama pemerintah, pelaku industri, hingga masyarakat untuk menciptakan sistem pangan yang lebih efisien dan terjangkau. Dengan harga makanan sehat yang semakin mudah dijangkau, harapannya semakin banyak orang dapat hidup lebih sehat sekaligus mendukung tercapainya target dunia mengakhiri kelaparan pada 2030.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article