Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Lonjakan Harga Minyak Berpotensi Ganggu Target Inflasi The Fed
ilustrasi Federal Reserve (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
  • Konflik di Timur Tengah, terutama melibatkan Iran dan Selat Hormuz, memicu lonjakan harga minyak global hingga lebih dari 14 persen dalam sepekan terakhir.
  • Kenaikan harga energi meningkatkan tekanan inflasi di Amerika Serikat dan membuat pasar menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed.
  • Pejabat Federal Reserve mulai mencermati dampak kenaikan harga minyak terhadap prospek inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS yang berpotensi melambat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times  Lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah mulai memicu kekhawatiran baru terhadap prospek inflasi Amerika Serikat. Situasi tersebut juga memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Konflik yang melibatkan Iran dan ketegangan di kawasan Teluk Persia telah mengganggu jalur energi global, termasuk Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia. Kondisi ini mendorong harga minyak naik tajam dan memaksa pelaku pasar mengevaluasi kembali asumsi sebelumnya mengenai inflasi serta potensi pemangkasan suku bunga di AS.

1. Lonjakan harga minyak ubah ekspektasi suku bunga

ilustrasi suku bunga (IDN Times/Aditya Pratama)

Kenaikan harga minyak membuat pelaku pasar kembali mempertimbangkan dampaknya terhadap inflasi di Amerika Serikat. Dalam beberapa hari terakhir, imbal hasil obligasi Treasury AS meningkat sementara ekspektasi pemangkasan suku bunga mulai berkurang.

Para trader menilai kenaikan harga minyak mentah dapat memperlambat upaya The Fed mencapai target inflasi 2 persen. Hal ini membuat bank sentral AS harus menilai seberapa besar tekanan inflasi yang dapat muncul jika harga energi tetap tinggi dalam waktu lama.

Thierry Wizman dari Macquarie menjelaskan bahwa konflik bersenjata sering kali memicu tekanan inflasi karena menimbulkan gangguan pasokan.

“Seperti pada 2022, perang terbukti bersifat ‘inflasioner’ karena terkait dengan guncangan pasokan negatif,” tulis Wizman dalam catatan kepada klien.

Ia juga menambahkan bahwa situasi perang dapat mempersulit pekerjaan bank sentral dalam mengendalikan inflasi. “'Anjing-anjing' dari perang ini bisa menggigit tangan para bankir sentral, karena prospek inflasi yang kembali meningkat dapat memunculkan sinyal kebijakan moneter yang lebih hawkish,” tambahnya.

2. Selat Hormuz jadi titik kritis pasokan energi global

Peta Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en, free license)

Kenaikan harga minyak tidak terlepas dari kekhawatiran terhadap keamanan jalur energi di Timur Tengah. Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi perdagangan energi dunia.

Menurut analis energi, sekitar 20 juta barel minyak per hari serta sekitar 10 miliar kaki kubik gas alam cair melewati kawasan tersebut setiap hari.

Clay Seigle, peneliti senior di Center for Strategic and International Studies, mengatakan pasar kini menghadapi dua potensi gangguan utama: kemampuan kapal melewati selat dan operasional terminal ekspor energi di kawasan tersebut.

“Kami mulai melihat dua titik potensi kegagalan yang memengaruhi pasar saat ini,” kata Seigle, dilansir Yahoo Finance.

Ia juga menggambarkan kondisi tersebut sebagai kombinasi risiko yang sangat besar bagi pasokan minyak global. “Ini semacam badai sempurna bagi gangguan pasokan minyak,” tambahnya.

Seiring meningkatnya kekhawatiran tersebut, harga minyak Brent—acuan internasional—naik sekitar 15 persen dari penutupan Jumat minggu lalu. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di AS meningkat sekitar 14 persen.

3. Dampak ke inflasi dan pertumbuhan ekonomi

ilustrasi inflasi (IDN Times/Arief Rahmat)

Lonjakan harga minyak juga diperkirakan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan inflasi di Amerika Serikat. Goldman Sachs memperkirakan kenaikan harga minyak sebesar 10 dolar per barel secara berkelanjutan dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi AS pada 2026 sekitar 0,1 poin persentase, terutama karena menekan pendapatan riil konsumen.

Dalam hal inflasi, dampaknya dapat muncul lebih cepat. Goldman Sachs memperkirakan kenaikan harga minyak sebesar 10 persen berpotensi meningkatkan inflasi inti (core CPI) sekitar 4 basis poin dan inflasi utama (headline CPI) sekitar 28 basis poin. Jika harga minyak bertahan tinggi selama beberapa bulan, inflasi tahunan dapat kembali mendekati 3 persen untuk sementara waktu.

Torsten Sløk dari Apollo Global bahkan memperkirakan skenario yang lebih ekstrem. Menurutnya, jika harga minyak naik hingga 50 dolar per barel, inflasi kuartal kedua bisa meningkat satu poin persentase dibandingkan proyeksi dasar.

Kyle Rodda dari Capital juga menilai lonjakan harga energi memperkuat kekhawatiran pasar bahwa inflasi di Amerika Serikat bisa tetap tinggi. “Peristiwa ini memperkuat kekhawatiran yang sudah ada di pasar bahwa inflasi, setidaknya di Amerika Serikat, bisa cukup sulit turun,” ujar Rodda.

4. Pejabat The Fed mulai mencermati dampaknya

Gedung Federal Reserve (federalreserve.gov)

Beberapa pejabat Federal Reserve juga mulai menyoroti dampak konflik geopolitik terhadap prospek ekonomi. Presiden Federal Reserve New York John Williams mengatakan konflik di Iran dapat memengaruhi proyeksi inflasi serta menambah ketidakpastian ekonomi.

“Kenaikan harga energi jelas merupakan sesuatu yang akan memengaruhi prospek inflasi dalam jangka dekat,” ujar Williams, dilansir Bloomberg.

“Kita harus melihat seberapa lama dan seberapa persisten kondisi ini, tetapi hal tersebut akan berdampak pada inflasi secara keseluruhan,” tambahnya.

Sementara itu, Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari mengatakan dirinya kini tidak lagi seoptimistis sebelumnya mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga tahun ini.

“Dengan peristiwa geopolitik ini, kita perlu mendapatkan lebih banyak data,” kata Kashkari.

Saat ini, mayoritas pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen dalam pertemuan Maret. Bahkan semakin banyak prediksi yang menyebut suku bunga mungkin tetap tidak berubah hingga Juni.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team