Luhut Waspadai Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS

- Luhut Binsar Pandjaitan memperingatkan potensi guncangan ekonomi jika harga minyak dunia naik hingga 100 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi APBN yang ditetapkan sebesar 70 dolar.
- Ia menyoroti risiko penutupan Selat Hormuz akibat konflik di Timur Tengah yang bisa mengganggu pasokan energi nasional dan menekankan pentingnya kesiapan kontingensi energi Indonesia.
- Pemerintah mulai menjajaki sumber impor minyak alternatif dari negara lain seperti Amerika, Venezuela, dan Afrika untuk mengurangi ketergantungan pada wilayah konflik serta menjaga stabilitas pasokan energi.
Jakarta, IDN Times - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan memperingatkan potensi guncangan ekonomi nasional jika harga minyak dunia melonjak hingga 100 dolar AS per barel.
Saat ini, harga minyak berada di level 78 dolar AS, sementara asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dipatok pada angka 70 dolar AS. Situasi tersebut harus terus dipantau karena kenaikan harga yang berkelanjutan akan berdampak.
"Nah ekonomi kita juga bisa akan terkena juga kalau harga minyak tiba-tiba naik nanti bertahap tuh sampai 100 dolar. Sekarang 78 ya. Padahal kita bikin di APBN kita 70 ya. Jadi ini yang harus kita amati," kata Luhut dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Kamis (5/3/2026).
1. Waspadai dampak penutupan Selat Hormuz

Luhut menyoroti kerentanan ekonomi Indonesia terhadap stabilitas di Selat Hormuz akibat akibat eskalasi serangan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Hal itu berpotensi memicu gangguan terhadap energi nasional.
"Itu kan Hormuz kan berpengaruh, bagaimana besar pengaruhnya. Berapa hari cadangan strategis minyak kita, energi kita? Kalau tertutup Hormuz ini, berapa? Jadi kontingensi-kontingensi harus disusun," ujarnya.
2. Cadangan energi nasional harus dihitung dengan cermat

Luhut menekankan pentingnya akurasi data ketahanan cadangan minyak nasional untuk mengukur daya tahan energi selama konflik di Timur Tengah berlangsung.
"Jadi saya baru cek kemarin katanya (cadangan minyak) bisa 30 hari, bisa 18 hari. Kita harus betul-betul sekarang hitung dengan cermat," tuturnya.
Saat ini, Dewan Ekonomi Nasional terus mengkaji berbagai masukan secara terbuka untuk merumuskan rekomendasi kebijakan yang akan segera disampaikan kepada pemerintah.
"Dari sekarang harus kita lihat dari mana kita harus impor minyak, berapa cost-nya? berapa selisihnya? apa dampaknya pada APBN? Ya, kita juga diskusi-diskusi terbuka di Dewan Ekonomi," ujar Luhut.
3. Indonesia cari sumber impor minyak alternatif

Untuk mengurangi ketergantungan pada wilayah konflik di Timur Tengah, Luhut mengungkapkan pemerintah saat ini mulai menjajaki sumber minyak dari negara lain.
"Misalnya dengan Amerika, dengan mana lagi nanti kita lihat. Apakah Venezuela juga bisa mampu nggak men-supply? Karena Venezuela ini sekarang jadi source of energy juga buat Amerika sendiri. Apakah dari negara-negara Afrika?" paparnya.
Meski begitu, mantan Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman dan Investasi itu mengingatkan agar kendala logistik dan biaya angkut tetap diperhitungkan secara matang agar strategi diversifikasi ini berjalan efektif.


















