Luhut Akui Ada Faktor Domestik yang Sempat Bikin Rupiah-IHSG Rontok

Jakarta, IDN Times - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, mengaku menerima keluhan dari para investor global yang portofolionya merah di Indonesia.
Hal itu diungkapkannya saat menjadi pembicara talkshow Next-Gen Fiscal Policy: Integrating Technology for Inclusive Growth dalam Indonesia Summit 2026 yang digelar di The Tribrata, Dharmawangsa, Kamis (18/6/2026).
Keluhan itu dia dapatkan saat menghadiri forum internasional di Singapura bulan lalu. Luhut mengatakan, fenomena itu juga dialami berbagai negara, karena adanya konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dengan Iran.
"Jadi artinya, kalau kita fokus, kita bisa, dan saya cerita sama mereka, Indonesia itu bukan Banana Republic. Bahwa ada kita kurang di sana-sini, yang tadi ada investor lebih 60 itu, ya mungkin kalian ada rugi di sana-sini, saya minta maaf lah. Tapi itu kan mekanisme dunia, bukan hanya di kita. Jadi sekarang kejadian di Hormuz ini kita tidak tahu sampai kapan selesai," tutur Luhut.
Namun, saat ditanyakan mengapa penurunan nilai tukar rupiah dan indeks saham Indonesia lebih dalam dari negara lain, Luhut mengakui adanya faktor domestik. Meski begitu, dia enggan merincikannya.
"Ya ada faktor, saya juga jelaskan. Tapi saya kira Presiden juga. Dia tanya, bagaimana Dewan Ekonomi, saya jelaskan, Presiden kami ketemu, dan memberikan saran, dan beliau terima," kata Luhut.
Luhut menekankan, pemerintah sedang berproses memperbaiki seluruh layanan digital dan data publik, yang kemudian akan diadaptasikan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Dengan cara itu, dia meyakini efisiensi layanan di pemerintah dapat terwujud, dan bisa meningkatkan penerimaan negara. Dia bahkan meyakini periode pemerintahan Presiden Prabowo Subianto akan sangat bagus, karena adanya inisiatif percepatan digitalisasi dan adopsi AI.
"Karena Indonesia sangat kaya, jadi dengan tadi dikelola dengan AI, dengan digitalisasi, itu saya pikir Indonesia akan aman, jadi era Presiden Prabowo itu, menurut hemat saya era yang bagus," ujar Luhut.
IDN menggelar Indonesia Summit (IS) 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh Nusantara.
IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.
Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.














