Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) mencapai 8,63 persen pada 2025. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya memperkuat hubungan antara pendidikan dan dunia kerja.
Angka itu dinilai menunjukkan pentingnya memperbaiki proses transisi lulusan menuju pekerjaan, bukan mempertanyakan nilai pendidikan vokasi.
Direktur RMIT Indonesia Tantia Dian Permata Indah mengatakan sistem pendidikan tersier perlu menghubungkan pendidikan vokasi, pendidikan tinggi, dan industri. Keterampilan praktis juga perlu ditempatkan sejajar dengan pengetahuan akademik. Menurut dia, jalur pendidikan juga perlu dibuat lebih fleksibel agar peserta didik dapat berpindah dari satu jalur ke jalur lain sesuai perkembangan industri dan karier.
"Kami memahami bahwa sistem pendidikan tersier yang saling terhubung dapat lebih baik memenuhi kebutuhan peserta didik masa kini, pemberi kerja, dan tujuan nasional," kata dia dalam keterangan tertulis, Rabu (26/8/2026).
