Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Lulusan SMK Banyak Menganggur, Pendidikan Vokasi Perlu Dibenahi

Lulusan SMK Banyak Menganggur, Pendidikan Vokasi Perlu Dibenahi
Ilustrasi pencari kerja (Pexels.com/Ron Lach)
  • Tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK mencapai 8,63 persen pada 2025 menurut BPS.
  • Transisi lulusan menuju pekerjaan dinilai perlu diperbaiki melalui hubungan pendidikan dan dunia kerja yang lebih kuat.
  • RMIT mendorong jalur pendidikan fleksibel, pembelajaran terapan, dan kolaborasi pemerintah, industri, serta institusi pendidikan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) mencapai 8,63 persen pada 2025. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya memperkuat hubungan antara pendidikan dan dunia kerja.

Angka itu dinilai menunjukkan pentingnya memperbaiki proses transisi lulusan menuju pekerjaan, bukan mempertanyakan nilai pendidikan vokasi.

Direktur RMIT Indonesia Tantia Dian Permata Indah mengatakan sistem pendidikan tersier perlu menghubungkan pendidikan vokasi, pendidikan tinggi, dan industri. Keterampilan praktis juga perlu ditempatkan sejajar dengan pengetahuan akademik. Menurut dia, jalur pendidikan juga perlu dibuat lebih fleksibel agar peserta didik dapat berpindah dari satu jalur ke jalur lain sesuai perkembangan industri dan karier.

"Kami memahami bahwa sistem pendidikan tersier yang saling terhubung dapat lebih baik memenuhi kebutuhan peserta didik masa kini, pemberi kerja, dan tujuan nasional," kata dia dalam keterangan tertulis, Rabu (26/8/2026).

  1. 1. Pendidikan vokasi perlu sesuai kebutuhan industri

    ilustrasi siswa SMK (pexels.com/Thành Đỗ)
    ilustrasi siswa SMK (pexels.com/Thành Đỗ)

    Pengembangan tenaga kerja yang terampil dan adaptif dinilai penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang, terutama saat Indonesia menuju Visi Indonesia Emas 2045. Karena itu, jalur pendidikan perlu lebih responsif terhadap kebutuhan industri dan tujuan nasional. Peserta didik tidak hanya perlu menguasai pengetahuan akademik, tetapi juga kemampuan praktis.

    Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menempatkan transformasi sumber daya manusia dan pendidikan sebagai bagian penting dalam mencapai target Indonesia 2045.

    RMIT University Australia menilai pendidikan vokasi tidak semestinya dipandang sebagai jalur di bawah pendidikan universitas. Pendidikan vokasi dan pendidikan tinggi dapat menjadi bagian dari sistem pendidikan tersier yang saling terhubung.

    RMIT sendiri menggabungkan pendidikan vokasi dan pendidikan tinggi dalam satu institusi. Model tersebut memberikan pilihan bagi peserta didik untuk memperoleh pelatihan praktis, pembelajaran akademik, sekaligus pengalaman industri. Pihaknya juga menyediakan 350 jalur pendidikan yang terhubung di Australia. Jalur tersebut disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dari berbagai latar belakang dan usia, termasuk ketika kebutuhan profesional mereka berubah.

    Model tersebut dinilai relevan dengan kondisi Indonesia yang menghadapi perubahan kebutuhan tenaga kerja. Hubungan antara pendidikan dan dunia kerja dinilai perlu diperkuat.

  2. 2. Belajar sambil bekerja

    WhatsApp Image 2026-07-28 at 15.33.19 (2).jpeg
    ilustrasi pabrik mobil (IDN Times/Dwi Agustiar)

    Di Australia, RMIT mengembangkan sistem pendidikan tersier yang menghubungkan perguruan tinggi, industri, dan pemerintah. Salah satunya melalui program Earn and Learn. Program tersebut memungkinkan peserta didik memperoleh kualifikasi sambil bekerja penuh waktu dan mendapat bayaran dari mitra industri.

    Program itu mencakup sejumlah bidang, seperti teknik, keamanan siber, layanan kesehatan, dan ekonomi bersih. Kolaborasi antara institusi pendidikan dan pemberi kerja tersebut membuat pembelajaran lebih dekat dengan kebutuhan pekerjaan. Model itu juga membantu peserta didik berpindah dari pendidikan menuju dunia kerja sekaligus mengembangkan keterampilan sepanjang hayat.

    Pembahasan mengenai hubungan pendidikan, keterampilan, dan industri turut dilakukan dalam diskusi meja bundar bertajuk “Shaping Indonesia’s Workforce: Connecting Education, Skills and Industry”. Diskusi itu digelar RMIT University bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia serta Kedutaan Besar Australia di Indonesia.

    Diskusi tersebut membahas perlunya hubungan yang lebih kuat antara pendidikan dan industri, jalur pembelajaran yang fleksibel, peningkatan kapasitas pendidik, serta hubungan yang lebih erat antara pendidikan vokasi dan pendidikan tinggi. Keahlian teknis juga dinilai perlu dilengkapi kemampuan komunikasi, pemecahan masalah, kepemimpinan, adaptabilitas, dan penerapan praktis.

  3. 3. Pendidikan dan industri perlu berkolaborasi

    ilustrasi pabrik (IDN Times/Muhammad Surya)
    ilustrasi pabrik (IDN Times/Muhammad Surya)

    Pemerintah memandang tenaga kerja masa depan membutuhkan keahlian teknis dan kemampuan lain, seperti komunikasi, pemecahan masalah, kepemimpinan, dan adaptabilitas. Kolaborasi pemerintah, institusi pendidikan, dan industri diperlukan agar pembelajaran tetap sesuai kebutuhan serta lulusan lebih siap memasuki dunia kerja.

    Ekosistem pendidikan juga perlu menggabungkan kurikulum yang sesuai kebutuhan, pengalaman kerja, serta kesempatan untuk meningkatkan dan memperbarui keterampilan. Untuk mendukung hal tersebut, RMIT akan membuka RMIT Southeast Asia Hub di World Trade Centre 2 Jakarta pada 2026.

    Hub tersebut akan mempertemukan pemerintah, industri, dan institusi pendidikan untuk membahas kebutuhan tenaga kerja, bertukar keahlian, serta mengembangkan program yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Bidang yang dibahas mencakup pengembangan profesional, kursus singkat terapan, jalur pendidikan, teknologi digital, industri kreatif, masa depan regeneratif, serta MedTech dan kesehatan.

    Direktur RMIT Indonesia Tantia Dian Permata Indah mengatakan hub tersebut akan menjadi wadah bagi mitra pendidikan, industri, dan pemerintah untuk mencari solusi atas kebutuhan tenaga kerja Indonesia.

    "Kami ingin bekerja bersama para mitra di Indonesia untuk menerjemahkan kebutuhan tenaga kerja menjadi pembelajaran terapan, jalur pendidikan yang fleksibel, dan program yang terhubung dengan industri serta tetap relevan seiring perubahan kebutuhan tersebut,” kata Tantia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More