Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Mengenal Golden Handshake, Pesangon Mewah Buat Petinggi Perusahaan

Mengenal Golden Handshake, Pesangon Mewah Buat Petinggi Perusahaan
ilustrasi Chief Executive Officer (CEO) (pexels.com/Lukas Blazek)
Intinya Sih
  • Golden handshake adalah pesangon besar bagi eksekutif yang disepakati sejak awal kerja, bisa berupa uang tunai atau saham, dan tetap dibayarkan meski kinerja tidak maksimal.
  • Skema ini menuai kontroversi karena dianggap memberi imbalan berlebihan bahkan kepada eksekutif yang gagal atau melakukan pelanggaran, sehingga memicu kritik publik terhadap standar kompensasi korporasi.
  • Kasus BP dan Merrill Lynch menunjukkan bagaimana golden handshake bernilai jutaan dolar tetap diberikan kepada pimpinan perusahaan meski mereka terlibat dalam krisis besar yang merugikan perusahaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Dunia korporasi kerap kali diwarnai pemberian paket pesangon bernilai fantastis yang telah disepakati sejak awal bagi para eksekutif puncak, atau populer dengan istilah golden handshake, biasanya dicairkan dalam bentuk uang tunai maupun opsi saham.

Namun, dilansir Investopedia, skema ini sering kali memicu kontroversi di kalangan publik karena nilainya yang sangat besar tetap dibayarkan tanpa memandang bagaimana kinerja sang eksekutif selama memimpin perusahaan.

Salah satu contoh yang paling menonjol terjadi pada tahun 1989, ketika F. Ross Johnson menerima pembayaran dalam jumlah masif yang kemudian memicu perdebatan luas mengenai standar kompensasi bagi para petinggi perusahaan.

1. Mengenal golden handshake sebagai daya tarik rekrutmen

ilustrasi CEO (pexels.com/Antoni Skhraba Studio)
ilustrasi CEO (pexels.com/Antoni Skhraba Studio)

Kompensasi bagi jajaran eksekutif memiliki beragam bentuk yang umumnya dinegosiasikan sebelum mereka resmi bergabung dengan suatu perusahaan. Paket ini biasanya terdiri dari gaji pokok, opsi saham, uang tunai, hingga bonus.

Demi mendatangkan kandidat terbaik untuk mengisi posisi krusial, perusahaan sering kali menawarkan fasilitas serta insentif tambahan. Beberapa dari keuntungan tersebut bahkan tidak berkaitan langsung dengan performa kerja mereka di kemudian hari, salah satunya adalah golden handshake.

Kesepakatan golden handshake umumnya dirancang sebelum karyawan mulai bekerja. Fasilitas ini merujuk pada dana kompensasi yang dipastikan cair apabila karyawan tersebut kehilangan jabatannya akibat pemecatan, pemutusan hubungan kerja (PHK), restrukturisasi organisasi, faktor kelalaian, hingga masa pensiun.

Strategi ini sangat lazim digunakan oleh perusahaan sebagai instrumen untuk memikat figur-figur tertentu, khususnya calon pemimpin yang saat itu belum menjadi bagian dari internal perusahaan.

Nilai dari golden handshake bisa menembus angka jutaan dolar, sehingga menjadi perhatian serius bagi para investor. Sebagai gambaran, perusahaan R.J. Reynolds Nabisco pernah menggelontorkan dana sekitar 50 juta dolar AS pada tahun 1989 kepada F. Ross Johnson demi memenuhi klausul perjanjian tersebut.

Di sisi lain, pekerja non-eksekutif juga berpeluang mendapatkan paket serupa sebagai bonus dalam kondisi-kondisi tertentu, meskipun nominalnya jauh lebih kecil dibanding yang diterima oleh Chief Executive Officer (CEO) maupun jajaran direksi.

Perbedaan skala ekonomi ini membuat sebagian kalangan menjulukinya sebagai silver handshake. Walau nilainya berbeda jauh, fasilitas ini dinilai tetap menguntungkan daripada harus keluar dari perusahaan tanpa membawa kompensasi apa pun.

Contoh penerapan skema ini pada pekerja non-eksekutif dapat dilihat di industri otomotif, di mana perusahaan membeli kontrak kerja dari anggota serikat buruh demi menghemat modal jangka panjang guna merekrut tenaga kerja baru dengan biaya yang lebih efisien.

Selain itu, paket pesangon sejenis juga kerap ditawarkan kepada karyawan yang diminta mengambil pensiun dini agar posisi mereka bisa digantikan oleh talenta-talenta baru.

2. Sisi kontroversial di balik pembayaran pesangon fantastis

ilustrasi laki-laki merasa gagal
ilustrasi gagal dalam pekerjaan (freepik.com/DC Studio)

Pemberian golden handshake kerap memicu perdebatan sengit karena beberapa alasan mendasar. Poin utama yang dikritik adalah sifat dari kompensasi ini yang tidak selalu mengacu pada produktivitas atau pencapaian kerja.

Hal tersebut memungkinkan seorang eksekutif untuk tetap membawa pulang dana tambahan dalam jumlah besar, meskipun mereka dinilai gagal dalam mencapai target perusahaan.

Situasi yang dinilai lebih janggal oleh publik dan para kritikus adalah ketika seorang eksekutif tetap berhak menerima golden handshake penuh meski mereka didepak akibat faktor kelalaian atau pelanggaran berat lainnya.

Langkah korporasi yang mencairkan dana besar dalam situasi seperti ini dinilai dapat merusak reputasi perusahaan di mata publik, karena dianggap memberikan apresiasi atas kegagalan atau perilaku yang tidak semestinya.

Kritik juga bermuara pada fakta bahwa para pejabat teras tersebut pada dasarnya sudah menikmati fasilitas gaji yang jauh lebih tinggi ketimbang pekerja biasa di luar lingkar eksekutif.

3. Deretan kasus besar yang menyita perhatian publik

Laki-laki yang frustasi karena terus mengejar validasi orang lain
ilustrasi gagal melakukan pekerjaan (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Berikut adalah sejumlah kasus yang sempat mengemuka:

Kasus British Petroleum (BP):

Pada tahun 2010, perusahaan minyak British Petroleum (BP) menghadapi krisis hebat akibat insiden tumpahan minyak di Teluk Meksiko yang dipicu oleh meledaknya rig Deepwater Horizon. Fasilitas rig tersebut disewa oleh BP untuk operasional eksplorasi di ladang minyak Macondo Prospect yang berlokasi di lepas pantai Louisiana. Bencana lingkungan tersebut memicu kerugian finansial bagi perusahaan hingga melampaui angka 69 miliar dolar AS. Akibat tekanan yang begitu besar, CEO BP saat itu, Tony Hayward, didesak untuk meletakkan jabatannya. Kendati demikian, ia tetap berhak membawa pulang dana golden handshake setara satu tahun gaji senilai 1,5 juta dolar AS, di samping mengamankan dana pensiun pribadinya yang mencapai kisaran 17 juta dolar AS.

Kasus Merrill Lynch:

Pada periode krisis keuangan global tahun 2007–2008, Chairman sekaligus CEO Merrill Lynch, Stanley O'Neal, dipaksa untuk meninggalkan posisinya. Meski demikian, ia keluar dari perusahaan dengan membawa dana kompensasi sebesar 161,5 juta dolar AS. Pada momen yang bersamaan, Merrill Lynch dijatuhi sanksi denda oleh pemerintah sebesar 8,4 juta dolar AS akibat skandal subprime mortgage serta mencatatkan kerugian triwulanan mencapai 2,3 billion dolar AS. Banyak pihak internal menilai bahwa keputusan O'Neal yang agresif dalam mengejar pasar subprime mortgage dan portofolio investasi berisiko tinggi menjadi penyebab runtuhnya kemandirian Merrill Lynch, yang pada akhirnya harus diakuisisi oleh Bank of America. Kongres juga mengambil kesimpulan bahwa O'Neal turut memegang tanggung jawab atas terjadinya salah satu krisis finansial terparah sejak era Depresi Besar.

Share Article
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More