Dampak Perang, Harga Minyak Dunia Melambung Rp1,68 Juta per Barel

- Harga minyak dunia melonjak menembus 100 dolar AS per barel akibat konflik bersenjata antara AS-Israel melawan Iran yang mengganggu pasokan global sekitar 20 juta barel per hari.
- Penutupan Selat Hormuz membuat ekspor minyak Teluk terhenti, memaksa negara OPEC seperti Irak dan Kuwait mengurangi produksi serta mempertimbangkan deklarasi force majeure.
- Pemerintah AS merespons lonjakan harga dengan kebijakan darurat, termasuk penggunaan cadangan minyak strategis dan pengalihan rute ekspor untuk menjaga stabilitas energi global.
Jakarta, IDN Times – Harga minyak global pada Minggu (8/3/2026) menembus 100 dolar AS (setara Rp1,68 juta) per barel untuk pertama kali sejak Rusia melancarkan invasi ke Ukraina pada 2022. Lonjakan ini dipicu konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran yang bermula dari serangan gabungan pada 28 Februari 2026.
Dampak perang tersebut mengurangi suplai minyak ke pasar internasional sekitar 20 juta barel per hari. Patokan minyak internasional Brent crude melonjak hingga 20 persen, sempat menyentuh 111 dolar AS (setara Rp1,87 juta) per barel lalu bergerak di kisaran 108-108,10 dolar AS (setara Rp1,82 juta), sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga naik ke sekitar 108-108,72 dolar AS (sekitar Rp1,83 juta) dan sempat mencapai puncak sementara 110 dolar AS (setara Rp1,86 juta).
1. Penutupan Selat Hormuz menghambat jalur ekspor minyak teluk

Dilansir The Guardian, Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pengiriman sekitar seperlima minyak dunia serta gas alam cair melalui kapal kini secara efektif tertutup selama sepekan. Pengawal Revolusi Iran mengancam menyerang kapal tanker yang melintas sehingga ratusan kapal menghentikan perjalanan, sementara pemilik kapal, operator pelayaran, dan perusahaan asuransi memilih menghindari rute tersebut karena risiko dari kapal perang Iran, jet tempur, rudal, drone, perahu cepat, serta ranjau laut.
Situasi ini memaksa produsen minyak utama di kawasan Teluk yang tergabung dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), yakni Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, mengurangi produksi. Tangki penyimpanan mereka hampir penuh karena tak ada jalur ekspor yang bisa digunakan.
Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi menyampaikan peringatan bahwa penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan akan memaksa negara-negara pengekspor minyak di Teluk menghentikan produksi. Ia juga menyatakan kemungkinan deklarasi force majeure dalam waktu dekat.
“Semua yang belum menyatakan force majeure kami perkirakan akan melakukannya dalam beberapa hari ke depan jika ini berlanjut. Semua eksportir di kawasan Teluk akan harus menyatakan force majeure,” katanya, dikutip dari Al Jazeera.
Ia juga memperkirakan harga minyak dapat menembus 150 dolar AS (setara Rp2,52 juta) per barel.
2. Serangan balasan menargetkan infrastruktur energi kawasan

Di tengah konflik tersebut, instalasi energi menjadi target serangan dari kedua pihak yang bertikai. Israel menyerang setidaknya empat fasilitas penyimpanan minyak milik Iran serta satu pusat transfer produksi minyak di wilayah Teheran dan Provinsi Alborz, sementara media resmi Iran menggambarkan sebagian ibu kota berada dalam kondisi “apokaliptik”. Iran kemudian dituduh melancarkan serangan balasan terhadap fasilitas energi di Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait.
Seorang pejabat tinggi Iran menyebut situasi tersebut sebagai fase baru konflik dan menegaskan negaranya tak akan melepaskan kendali atas Selat Hormuz hingga tujuan yang diinginkan tercapai.
“Jika kalian bisa menoleransi minyak di atas 200 dolar AS (setara Rp3,39 juta) per barel, lanjutkan permainan ini,” kata Juru bicara Pengawal Revolusi Iran, dikutip dari The Guardian.
3. Pemerintah AS menyusun respons atasi lonjakan energi

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi lonjakan harga minyak melalui akun Truth Social. Ia menilai lonjakan harga minyak dalam jangka pendek merupakan harga yang sangat kecil untuk dibayar demi keselamatan serta perdamaian AS dan dunia, seraya meyakini harga tersebut akan turun cepat setelah ancaman nuklir Iran dihancurkan.
Menteri Energi AS Chris Wright menyampaikan bahwa kenaikan harga bensin hanya terjadi sementara dan menegaskan pemerintah AS tidak memiliki rencana menyerang industri minyak Iran atau infrastruktur energi lainnya.
Pemerintahan Trump juga mengajukan sejumlah langkah untuk mengatasi kekurangan pasokan minyak. Kebijakan itu meliputi penyediaan jaminan asuransi pemerintah bagi kapal tanker, pengawalan angkatan laut, pengalihan rute ekspor minyak mentah Arab Saudi melalui Laut Merah, serta penggunaan cadangan minyak mentah darurat AS.
Di AS, harga rata-rata bensin tercatat mencapai 3,45 dolar AS (setara Rp58,1 ribu) per galon pada Minggu (8/3/2026). Angka tersebut naik 16 persen dibandingkan pekan sebelumnya berdasarkan data American Automobile Association (AAA) yang dikutip CNN.
Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan setiap kenaikan harga minyak sebesar 10 persen yang berlangsung lama dapat meningkatkan inflasi global sekitar 0,4 persen dan memangkas pertumbuhan ekonomi dunia sekitar 0,15 persen.



















