Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Statistik Ungkap Pendapatan Anak Muda Korea Selatan Makin Susah Naik
ilustrasi menghitung gaji (pixabay.com/HeungSoon)
  • Mobilitas pendapatan nasional Korea Selatan turun menjadi 33 persen pada 2024, terendah sejak 2017 dan melanjutkan tren penurunan selama empat tahun berturut-turut.

  • Peluang penduduk usia 15–39 tahun naik ke kelompok pendapatan lebih tinggi turun menjadi 22,4 persen; 62,3 persen kelompok terbawah dan 84,8 persen kelompok teratas tetap berada di posisinya.

  • Persentase warga dengan pendapatan dari upah atau usaha yang meningkat turun menjadi 61,4 persen, meski ekonomi tumbuh 2,2 persen; pertumbuhan kompensasi pekerja tertinggal dari surplus perusahaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times  - Peluang anak muda Korea Selatan (Korsel) untuk berpindah ke kelompok pendapatan lebih tinggi kian menyempit. Berdasarkan laporan Kementerian Data dan Statistik Korsel (MODS) yang dirilis pada Kamis (29/10/2026), tingkat mobilitas ke kelompok pendapatan yang lebih tinggi di kalangan penduduk berusia 15 — 39 tahun turun menjadi 22,4 persen pada 2024. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak pencatatan dimulai pada 2017. 

Dilansir Korea JoongAng Daily, MODS mencatat mobilitas pendapatan nasional turun 1,2 poin persentase dari 34,1 persen pada 2023 menjadi 33 persen pada 2024. Angka itu juga menjadi yang terendah sejak pencatatan dimulai pada 2017.

1. Mobilitas pendapatan Korea Selatan turun ke rekor terendah

ilustrasi mata uang won Korea Selatan (pixabay.com/HeungSoon)

Mobilitas pendapatan dipandang sebagai tolok ukur dinamika sosial dan ekonomi lantaran mencerminkan sejauh mana seseorang dapat berpindah ke kelompok pendapatan yang lebih tinggi. Tingkat mobilitas pendapatan Korsel telah menurun selama empat tahun berturut-turut sejak mencapai 35,8 persen pada 2020.

Penurunan juga terjadi pada perpindahan ke kelompok pendapatan lebih tinggi maupun lebih rendah. Mobilitas ke kelompok pendapatan lebih tinggi turun 0,5 poin persentase menjadi 16,9 persen, sedangkan mobilitas ke kelompok pendapatan lebih rendah berkurang 0,7 poin persentase menjadi 16,1 persen.

2. Anak muda makin sulit naik ke kelompok pendapatan lebih tinggi

ilustrasi pekerja muda (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Pada kelompok usia 15 — 39 tahun, mobilitas pendapatan turun 1,1 poin persentase menjadi 39,3 persen. Secara khusus, tingkat perpindahan ke kelompok pendapatan lebih tinggi merosot 0,6 poin persentase menjadi 22,4 persen.

Data MODS juga memperlihatkan bahwa sebagian besar anak muda dari kelompok pendapatan terbawah maupun teratas masih bertahan di kelompoknya. Sebanyak 62,3 persen anak muda dari kelompok pendapatan 20 persen terbawah masih berada di kelompok tersebut pada 2024. Sementara itu, 84,8 persen anak muda dari kelompok pendapatan 20 persen teratas juga tetap bertahan di kelompoknya.

Kepala Divisi Riset Statistik Kebijakan di Institut Riset Data dan Statistik, Choe Ba Ul, mengatakan jumlah anak muda yang memasuki pekerjaan bergaji tinggi tidak lagi bertambah sebanyak sebelumnya. Mereka yang mempunyai pekerjaan stabil cenderung bertahan di kelompok pendapatan atas, sedangkan anak muda yang tidak memilikinya kian banyak menetap di kelompok bawah.

MODS menyebut lemahnya penyerapan tenaga kerja pada kalangan anak muda sebagai salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut.

3. Kenaikan pendapatan penduduk Korsel ikut melambat

ilustrasi pekerja senior (unsplash.com/krakenimages)

MODS mencatat persentase penduduk yang mengalami kenaikan pendapatan dari upah atau usaha turun 2,6 poin persentase menjadi 61,4 persen pada 2024. Sebaliknya, persentase penduduk yang pendapatannya menurun naik 2,1 poin persentase menjadi 36 persen.

Pelambatan kenaikan pendapatan tersebut terjadi ketika perekonomian Korsel justru tumbuh 2,2 persen pada 2024, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 1,5 persen pada 2023. Akan tetapi, pertumbuhan kompensasi pekerja tertinggal dari pertumbuhan surplus operasional perusahaan.

Choe berujar bahwa perusahaan mengambil porsi yang relatif lebih besar dari hasil pertumbuhan ekonomi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article