Momen AHY Tegur Kepala Balai yang Pergi saat Pengarahan Banjir

- AHY menegur Kepala Balai Ciliwung yang meninggalkan lokasi saat pengarahan penanganan banjir, menekankan pentingnya mendengarkan arahan terkait kebijakan normalisasi sungai.
- AHY menjelaskan normalisasi Sungai Ciliwung sebagai pekerjaan berat karena harus mampu menampung debit air 470 meter kubik per detik agar Jakarta terhindar dari banjir.
- Untuk mencegah banjir, AHY menegaskan perlunya pelebaran sungai hingga 35–50 meter serta peningkatan kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah ke aliran air.
Jakarta, IDN Times - Momen tak biasa dialami oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), Agus Harimurti Yudhoyono ketika melakukan peninjauan Kali Ciliwung, Jakarta Timur, Kamis (7/5/2026). Saat dia tengah menyampaikan pidato, Kepala Balai Ciliwung, David Partonggo Olan Marpaung, malah meninggalkan lokasi peninjauan.
AHY memergoki David yang hendak meninggalkan lokasi tempatnya berpidato. Saat itu, AHY sedang menjelaskan tentang lebar sungai dan bertanya kepada Kepala Balai Ciliwung dengan maksud memastikan penjelasannya.
"Idealnya lebar (sempadan) sungai 30-35 meter sehingga bisa menampung (air) 470 m kubik per detik. Betul, Pak Kepala Balai?" tanya AHY kepada David di momen tersebut, dikutip dari akun YouTube Kemenko Infra, Senin (11/5/2026).
AHY pun bingung ketika David tak merespons pertanyaannya dan memergoki David yang akan meninggalkan area berkumpulnya para pejabat itu.
"Eh, Pak Kepala Balai di sini dulu! Di sini dulu, Pak! Saya bicara untuk Bapak lho. Mau ke mana tadi?" tanya AHY lagi.
Ketika David merespons harus meninggalkan tempatnya berpidato, AHY menepisnya.
"No! No! Anda dengarkan saya dulu di sini! Gimana mau mendengarkan arahan kalau Bapak gak ada? Dua kali saya panggil Bapak, tapi malah gak ada gitu lho!" jkata AHY dengan nada emosi.
Dia kemudian meminta David untuk kembali duduk dan mendengarkan arahannya. Sebab, AHY menjabarkan kembali data yang dilaporkan kepadanya.
"Saya berharap Bapak mendengarkan agar menjadi utuh. Ini kebijakan penting sekali. Justru saya mendukung Bapak agar kita bisa laksanakan dengan baik. Urusan yang itu bisa belakangan," ujar dia.
1. AHY sebut normalisasi sungai Ciliwung adalah pekerjaan berat

Dalam arahannya, AHY mengatakan, normalisasi Sungai Ciliwung bukan pekerjaan mudah. Sebab, idealnya agar tidak banjir, Sungai Ciliwung harus mampu menampung debit air 470 meter kubik per detik supaya airnya tak meluap. Angka itu sudah dihitung dengan asumsi mendapat tambahan debit air dari Bogor.
"Maka, kita perlu lebarkan (sempadan sungai). Ini PR yang berat, ya, Bu Wamen (Kementerian PUPR). Bagaimana nanti bisa bekerja sama dengan semua termasuk men-deploy alat-alat berat yang bisa membantu dengan cepat upaya normalisasi," kata AHY.
AHY mengaku diberi penjelasan setiap tahun harus dilakukan normalisasi di Sungai Ciliwung. AHY juga menyoroti keadaan sungai-sungai di Jakarta dalam kondisi kritis. Sebab, air sungai malah dipenuhi sampah.
"Kalau asal buang sampah sudah pasti terjadi kebuntuan. Mau dibuat sodetan-sodetan sebanyak apa pun, sulit mengalirkan air yang deras. Apalagi jika debitnya tinggi," kata dia.
2. AHY tak anjurkan warga untuk bersahabat dengan banjir

Menurut AHY, sosialisasi untuk menjaga sungai sangat penting agar ketika terjadi hujan sewaktu-waktu tidak serta merta banjir.
"Saya berharap kita semua memahami kebutuhan dan urgensi agar tidak terjadi banjir yang meluap kapan saja yang akhirnya semua harus bersahabat dengan banjir. Padahal, itu bukan pilihan yang pertama," kata dia.
Pilihan pertamanya, ujar AHY, menghindari masyarakat dari banjir.
3. Sungai harus dilebarkan 35-50 meter untuk cegah banjir

AHY juga membedah masalah klasik sungai-sungai di Jakarta. Saat ini, rata-rata lebar sungai hanya berkisar 15–25 meter dengan kapasitas tampung 200 meter kubik per detik. Angka ini dinilai sangat jauh dari ideal.
Untuk menjamin Jakarta bebas dari genangan besar, AHY menegaskan sungai harus dilebarkan menjadi 35–50 meter agar mampu menampung debit air hingga 470 meter kubik per detik. Tantangan kian berat dengan adanya pendangkalan setinggi 20–50 sentimeter setiap tahunnya yang menuntut pengerukan rutin tanpa henti.
AHY mengatakan, banjir Jakarta adalah pekerjaan rumah raksasa yang membutuhkan sinergi dari Bogor (hulu), Depok (tengah), hingga DKI Jakarta (hilir). Namun, dia mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur fisik seperti tanggul dan sodetan akan sia-sia tanpa adanya pendekatan sosial.
"Kita tidak bisa hanya mengandalkan infrastruktur. Kesadaran kolektif masyarakat untuk tidak membuang sampah ke aliran air juga sangat menentukan," ujar dia.



















