ilustrasi mata uang asing, dolar AS, dolar Singapura (unsplash.com/Jason Leung)
Penyebab lainnya adalah perbedaan biaya pinjaman yang dihadapi setiap negara. Negara dengan kondisi ekonomi dan keuangan yang dianggap lebih berisiko biasanya harus menawarkan bunga lebih tinggi agar investor bersedia memberikan pinjaman. Akibatnya, negara berkembang dapat menghadapi beban pembayaran bunga yang lebih berat dibandingkan dengan negara maju. Ketika kondisi ekonomi global memburuk atau investor menjadi lebih berhati-hati, biaya pinjaman negara yang rentan juga bisa semakin meningkat.
Menurut UN Trade and Development (UNCTAD), utang publik global mencapai rekor US$111 triliun atau sekitar Rp1.776.000 triliun pada 2025, dengan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS. UNCTAD juga mencatat bahwa utang publik negara berkembang tumbuh lebih cepat daripada negara maju dalam beberapa tahun terakhir. Dalam laporan yang sama, pembayaran bunga utang publik negara berkembang mendekati US$1 triliun atau sekitar Rp16.000 triliun pada 2025.
Besarnya beban tersebut dapat mengurangi kemampuan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. UNCTAD melaporkan bahwa 3,4 miliar orang tinggal di negara-negara yang mengalokasikan lebih banyak dana untuk pembayaran bunga utang daripada untuk kesehatan atau pendidikan. Sementara itu, UNESCO menjelaskan bahwa tekanan pembayaran utang turut membatasi pembiayaan pendidikan di banyak negara berpendapatan rendah dan menengah ke bawah.
Dampaknya bisa terasa dalam kehidupan sehari-hari melalui terbatasnya fasilitas sekolah, kurangnya tenaga pengajar, atau layanan kesehatan yang belum memadai. Anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah berpotensi menghadapi hambatan lebih besar ketika akses terhadap layanan publik berkualitas semakin terbatas. Meski begitu, dampak utang gak selalu sama di setiap negara karena dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi, dan kemampuan mengelola keuangan negara.
Utang global yang membengkak tak terjadi karena satu penyebab saja, melainkan gabungan dari belanja saat krisis, kenaikan bunga pinjaman, penggunaan utang yang kurang produktif, kebutuhan negara yang semakin besar, dan tingginya biaya pinjaman di negara berkembang. Utang sebenarnya dapat membantu pembangunan apabila dikelola dengan baik dan digunakan untuk kegiatan yang memberikan manfaat jangka panjang.
Akan tetapi, ketika biaya pembayarannya terlalu besar, pemerintah bisa kehilangan ruang anggaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Karena itu, penting sekali untuk memahami perkembangan serta penyebab utang global membengkak dan dampaknya bagi warga agar kamu bisa waspada terhadap keuangan sehari-hari.