Pemerintah AS Tahan Tarif Impor Daging Sapi demi Pangkas Harga

- Pemerintah AS menangguhkan tarif impor daging sapi selama 90 hari, menyediakan kuota 300 ribu metrik ton untuk menekan harga daging giling hingga November 2026.
- Peternak dan organisasi industri menolak kebijakan karena harga sapi hidup turun 3,4 persen; impor September juga jauh di bawah kuota, sementara harga daging giling turun 1,9 persen.
- Penyusutan kawanan sapi dan tingginya biaya pinjaman, bahan bakar, pupuk, pakan, serta kebakaran menekan peternak; pemerintah menyiapkan bantuan pertanian 8 miliar dolar AS di Kansas.
Jakarta, IDN Times – Pemerintah Amerika Serikat (AS) menangguhkan tarif impor tertentu untuk daging sapi selama 90 hari pada akhir Agustus. Kebijakan yang diumumkan Presiden Donald Trump itu bertujuan menekan harga daging giling dengan menyediakan kuota 300 ribu metrik ton potongan daging tanpa lemak bertarif lebih rendah, masing-masing hingga 100 ribu metrik ton untuk September, Oktober, dan November 2026.
Kebijakan tersebut menuai penolakan ketika peternak AS bersiap menjual sapi. Harga sapi hidup langsung merosot 3,4 persen pada hari proklamasi ditandatangani, sehingga Asosiasi Peternak Amerika Serikat (USCA), Asosiasi Daging Sapi Nasional (NCBA), dan Biro Pertanian (FB) menyampaikan penentangan keras.
Table of Content
1. Impor daging sapi AS jauh di bawah kuota

ilustrasi pengolahan daging (pexels.com/Mark Stebnicki) Data Badan Bea dan Perlindungan Perbatasan Amerika Serikat (CBP) yang dikutip The New York Times menunjukkan bahwa volume impor daging sapi jauh dari target yang ditetapkan. Sebanyak 37.486 metrik ton daging masuk pada September, sedangkan hingga Minggu (19/10/2026), jumlahnya baru mencapai 21.937 metrik ton.
Ekonom peternakan di Universitas Arkansas, James Mitchell menjelaskan bahwa impor dari Australia, Kanada, Brasil, Meksiko, dan Selandia Baru mencapai 1,9 juta metrik ton pada tahun sebelumnya. Menurutnya, sekitar 41-79 persen dari impor pada September tetap akan masuk meski proklamasi tersebut tak diberlakukan.
Sementara itu, Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) mencatat harga rata-rata daging giling turun 1,9 persen pada September, dari 6,92 dolar AS menjadi 6,79 dolar AS per pon. Penurunan itu dinilai masih wajar oleh ekonom peternakan di Universitas Negeri Kansas Ted Schroeder karena musim memanggang telah berakhir.
2. Penyusutan kawanan Sapi membayangi pasokan domestik

ilustrasi sapi (pexels.com/Pixabay) Tekanan terhadap populasi ternak dalam jangka panjang dinilai lebih dominan dibandingkan dampak kebijakan pemerintah dalam waktu singkat. Ekonom pertanian di Universitas Texas A&M yang menjadi penasihat peternak, David Anderson menilai, kebijakan impor murah justru mengirimkan sinyal yang keliru kepada pelaku industri dalam negeri.
“Ini benar-benar bertentangan dengan sinyal pasar untuk berkembang dan berproduksi lebih banyak di dalam negeri,” ungkap Anderson, dikutip Al Jazeera.
Pandangan serupa disampaikan Ford Drummond, Presiden Asosiasi Peternak Oklahoma (OCA), yang memperingatkan risiko gangguan pasokan pada masa mendatang. Ia khawatir peternak memilih mengirim sapi betina ke tempat pemotongan karena takut pemerintah kembali melakukan intervensi terhadap pasar.
3. Biaya produksi membebani peternak di Kansas

ilustrasi peternakan sapi (pexels.com/Freek Wolsink) Peternak menghadapi beragam tekanan biaya, mulai dari bunga pinjaman, bahan bakar, pupuk yang terdampak perang dengan Iran, hingga harga pakan yang mahal. Kebakaran hutan di Kansas dan Nebraska turut menambah beban yang harus mereka tanggung.
Menanggapi kondisi tersebut, Juru Bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan bahwa Trump tetap berkomitmen menurunkan harga daging sekaligus mendorong pertumbuhan populasi sapi di AS.
Di sisi politik, peternak dari Pretty Prairie, Kansas, Chad Basinger menyebut bahwa sebagian peternak kecewa dan mulai mempertimbangkan untuk mengubah pilihan politik mereka. Meski demikian, pergeseran dukungan diperkirakan tak akan terlalu besar, sementara pemerintah telah mengumumkan bantuan pertanian senilai 8 miliar dolar AS (setara Rp143,2 triliun) di Kansas pada 19 Oktober.
Persoalan regenerasi juga menjadi pertimbangan bagi keluarga peternak, terutama bagi ahli waris yang harus memutuskan apakah akan melanjutkan usaha tersebut.





















