Harga Minyak Brent Tembus US$114, Risiko Inflasi Kembali Menguat!

Harga Brent pada 26 Oktober 2026 turun 1,9 persen menjadi 114,51 dolar AS per barel, tetapi tetap tinggi karena kekhawatiran gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Konflik, ancaman terhadap infrastruktur energi, kapal tanker, dan jalur Selat Hormuz membuat pasar sensitif; rata-rata Brent September mencapai 114 dolar AS per barel, naik 23 dolar AS dari bulan sebelumnya.
Minyak mahal berpotensi menaikkan biaya produksi, transportasi, dan distribusi, menekan pengeluaran rumah tangga serta memperumit pertimbangan bank sentral terkait inflasi dan suku bunga.
Harga minyak dunia kembali menjadi perhatian setelah minyak mentah Brent bertahan di atas 114 dolar Amerika Serikat (AS) per barel pada perdagangan 26 Oktober 2026. Harga kontrak Brent turun sekitar 1,9 persen menjadi 114,51 dolar AS per barel setelah sempat menguat tajam pada pekan sebelumnya. Pergerakan ini menunjukkan kekhawatiran terhadap pasokan energi masih membayangi pasar meskipun harapan meredanya konflik mulai muncul.
Brent merupakan salah satu patokan harga minyak mentah yang digunakan dalam perdagangan internasional. Ketika harganya meningkat, biaya pengadaan energi dapat ikut naik dan memengaruhi pengeluaran perusahaan maupun rumah tangga. Jika kenaikan tersebut berlangsung lama, tekanan biaya energi berpotensi menyebar ke harga barang dan jasa sehingga meningkatkan risiko inflasi.
Table of Content
1. Gangguan pasokan membuat harga miinyak sulit turun

ilustrasi kapal tanker minyak (pexels.com/Zifeng Xiong) Konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran pengiriman minyak dari kawasan penghasil energi utama dunia. Selat Hormuz menjadi jalur penting karena kapal tanker menggunakannya untuk mengangkut minyak dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional. Gangguan pada jalur tersebut dapat membatasi pasokan yang tersedia dan mendorong pembeli mencari sumber minyak alternatif.
Serangan terhadap infrastruktur energi dan kapal tanker juga menambah ketidakpastian dalam perdagangan minyak. Pada September 2026, harga rata-rata minyak mentah Brent mencapai 114 dolar AS per barel, meningkat 23 dolar AS dibandingkan bulan sebelumnya. Harga minyak yang tinggi membuat pasar semakin sensitif terhadap perkembangan konflik, keamanan jalur pelayaran, dan kemampuan produsen memulihkan pasokan.
2. Minyak mahal dapat mendorong inflasi

ilustrasi inflasi (freepik.com/freepik) Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya produksi karena banyak sektor menggunakan energi untuk menjalankan kegiatan operasionalnya. Perusahaan transportasi, manufaktur, dan logistik dapat menghadapi pengeluaran lebih besar ketika harga bahan bakar serta ongkos pengiriman meningkat. Sebagian perusahaan mungkin meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen melalui harga barang dan jasa.
Dampak tersebut dapat memicu inflasi, yaitu kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam suatu periode. Ketika biaya energi meningkat, rumah tangga juga perlu mengeluarkan lebih banyak uang untuk transportasi dan kebutuhan lain yang terpengaruh oleh biaya distribusi. Namun, besarnya dampak terhadap inflasi bergantung pada lamanya kenaikan harga minyak, kondisi permintaan, serta kemampuan perusahaan menyerap tambahan biaya.
3. Harga BBM dan biaya hidup ikut menjadi perhatian

ilustrasi mengisi bensin (pexels.com/Engin Akyurt) Kenaikan harga minyak dunia tidak otomatis membuat harga BBM di Indonesia naik pada hari yang sama. Harga BBM domestik juga dipengaruhi kebijakan pemerintah, nilai tukar rupiah, biaya pengadaan, serta mekanisme penetapan harga untuk setiap jenis bahan bakar. Meski begitu, kenaikan harga minyak yang bertahan lama dapat meningkatkan tekanan terhadap biaya pengadaan energi.
Masyarakat juga dapat merasakan dampaknya melalui harga transportasi dan barang yang membutuhkan distribusi jarak jauh. Ketika biaya angkutan meningkat, pelaku usaha menghadapi tekanan untuk menjaga harga jual atau menyesuaikan tarif layanan. Jika tekanan biaya meluas ke banyak sektor, pengeluaran rumah tangga berpotensi meningkat meskipun pendapatan tidak berubah.
4. Harga minyak tinggi bisa membatasi ruang bank sentral

ilustrasi suku bunga (pexels.com/Nataliya Vaitkevich) Bank sentral memperhatikan harga energi karena kenaikannya dapat memengaruhi inflasi dan ekspektasi masyarakat terhadap harga pada masa mendatang. Jika tekanan inflasi bertahan, bank sentral dapat menghadapi pilihan yang lebih sulit dalam menentukan kebijakan suku bunga. Suku bunga yang lebih tinggi dapat membantu mengendalikan permintaan, tetapi juga berpotensi meningkatkan biaya pinjaman bagi rumah tangga dan perusahaan.
Investor juga memantau hubungan antara harga minyak, inflasi, dan kebijakan suku bunga untuk menilai prospek pasar keuangan. Biaya energi yang meningkat dapat menekan keuntungan perusahaan, sedangkan ekspektasi suku bunga tinggi dapat mengurangi daya tarik sebagian aset berisiko. Namun, harga minyak bukan satu-satunya penentu keputusan bank sentral karena data tenaga kerja, konsumsi, dan inflasi inti juga menjadi pertimbangan.
Harga Brent yang masih berada di atas 114 dolar AS per barel menunjukkan bahwa risiko pasokan energi tetap menjadi perhatian pasar meskipun harga sempat terkoreksi. Jika gangguan pasokan berlanjut, tekanan biaya energi dapat memperbesar risiko inflasi dan memengaruhi keputusan bisnis maupun kebijakan ekonomi. Karena itu, perkembangan konflik, kelancaran pengiriman minyak, dan pergerakan harga energi perlu dipantau untuk memahami arah tekanan inflasi selanjutnya.























