ilustrasi pelajar sekolah, Indonesia, lab komputer, guru (pexels.com/Haidar Azmi)
Posisi Indonesia di peringkat ke-63 dapat menjadi pengingat bahwa pengembangan keterampilan digital perlu melampaui kemampuan mengoperasikan perangkat. Siswa perlu mendapat kesempatan untuk berlatih menganalisis persoalan, mengenali pola, menyusun langkah penyelesaian, dan mengevaluasi hasilnya.
Kemampuan tersebut relevan ketika mereka menghadapi persoalan matematika, mengerjakan proyek sekolah, maupun mempersiapkan diri memasuki dunia kerja yang semakin banyak menggunakan teknologi. Penguatan literasi membaca dan matematika juga penting karena keduanya membantu siswa memahami persoalan sebelum menentukan solusi.
Di sisi lain, hasil PISA gak seharusnya dijadikan satu-satunya tolok ukur kualitas pendidikan suatu negara. Penilaian ini menggambarkan performa rata-rata peserta didik dalam aspek tertentu, bukan seluruh kemampuan mereka atau potensi setiap individu.
Meski begitu, hasilnya dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah, sekolah, guru, dan orangtua untuk mengevaluasi pendekatan pembelajaran. Fokusnya bukan sekadar meningkatkan penggunaan komputer di kelas, melainkan memastikan teknologi benar-benar membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan sistematis.
Pada akhirnya, pemeringkatan kemampuan komputasi dunia 2026 menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara Asia yang unggul. Akses internet dan perangkat digital memang penting, tapi keduanya perlu diimbangi dengan pembelajaran yang melatih logika, matematika, dan pemecahan masalah. Semakin kuat kemampuan tersebut dibangun sejak usia sekolah, semakin besar peluang generasi muda Indonesia untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.