5 Target Keuangan yang Perlu Kamu Capai Sebelum Punya Anak, Sudah?

- Sebelum punya anak, pasangan perlu memastikan karier dan penghasilan stabil, cukup untuk kebutuhan tambahan, serta mendukung tanggung jawab pengasuhan melalui fleksibilitas kerja dan fasilitas yang tersedia.
- Dana darurat setara tiga hingga enam bulan pengeluaran rutin perlu disiapkan untuk menghadapi sakit, kerusakan, atau kehilangan pekerjaan, sementara dana pensiun tetap harus dibangun sejak dini.
- Perencanaan keluarga juga mencakup tabungan pendidikan bertahap dan perlindungan kesehatan untuk kehamilan, persalinan, serta anak; target disesuaikan dengan kondisi, penghasilan, dan prioritas masing-masing.
Memutuskan untuk punya anak merupakan salah satu langkah besar dalam kehidupan, terutama kalau kamu dan pasangan ingin membangun keluarga yang sejahtera. Selain kesiapan mental dan hubungan yang sehat, kondisi keuangan juga perlu mendapat perhatian sebelum menyambut anggota keluarga baru.
Pasalnya, membesarkan anak membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mulai dari kebutuhan sehari-hari, layanan kesehatan, hingga pendidikan. Kalau gak dipersiapkan dengan baik, pengeluaran tersebut bisa membuat keuangan rumah tangga terasa semakin berat.
Karena itu, ada beberapa target keuangan yang sebaiknya mulai kamu capai sebelum memutuskan untuk menjadi orangtua.
1. Memiliki karier dan penghasilan yang stabil

ilustrasi gaji (vecteezy.com/Miftachul Huda) Salah satu hal penting yang perlu dipersiapkan sebelum punya anak adalah kestabilan karier dan penghasilan. Kamu gak harus bekerja sebagai karyawan tetap untuk bisa membangun keluarga yang sejahtera. Menjadi freelancer, menjalankan bisnis sendiri, atau memiliki beberapa sumber penghasilan juga bisa menjadi pilihan selama kamu mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga secara konsisten.
Selain besarnya penghasilan, pertimbangkan juga apakah pekerjaanmu memungkinkan untuk tetap menjalankan tanggung jawab sebagai orangtua. Misalnya, apakah kamu memiliki fleksibilitas waktu ketika anak sakit atau membutuhkan pendampingan? Kalau bekerja sebagai karyawan, fasilitas seperti cuti melahirkan, cuti orangtua, asuransi kesehatan, dan cuti sakit berbayar juga layak dipertimbangkan. Berbagai fasilitas tersebut dapat membantumu menghadapi kebutuhan keluarga tanpa harus terlalu khawatir kehilangan penghasilan.
2. Memiliki penghasilan yang cukup untuk kebutuhan anak

ilustrasi bayi (pexels.com/MART PRODUCTION) Sebelum punya anak, kamu perlu menghitung apakah penghasilan bulananmu cukup untuk menanggung kebutuhan tambahan tanpa mengorbankan kebutuhan pokok keluarga. Pengeluaran untuk anak bisa meliputi popok, pakaian, makanan, pemeriksaan kesehatan, pengasuhan, hingga biaya pendidikan. Jumlahnya tentu berbeda-beda, tergantung usia anak, tempat tinggal, pilihan pengasuhan, dan kondisi keluarga. Karena itu, penting untuk membuat perkiraan anggaran sesuai situasi keuanganmu sendiri.
Sebagai gambaran, United States Department of Agriculture (USDA) pernah memperkirakan biaya membesarkan seorang anak yang lahir pada 2015 hingga usia 17 tahun mencapai US$233.610, atau sekitar Rp3,74 miliar dengan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS. Jika disesuaikan dengan kenaikan harga barang dan jasa akibat inflasi, angkanya diperkirakan mendekati US$284.570, setara sekitar Rp4,55 miliar dengan asumsi kurs yang sama. Angka tersebut merupakan perkiraan untuk konteks Amerika Serikat, sehingga gak bisa langsung dijadikan patokan biaya membesarkan anak di Indonesia. Meski begitu, gambaran ini menunjukkan bahwa pengeluaran untuk anak merupakan komitmen keuangan jangka panjang yang perlu direncanakan sejak awal.
3. Menyiapkan dana darurat untuk keluarga

ilustrasi emergency fund (vecteezy.com/amonlada 33) Kehidupan bersama anak tidak selalu berjalan sesuai rencana. Kamu mungkin menghadapi kondisi ketika anak tiba-tiba sakit, kendaraan rusak saat harus mengantarnya berobat, atau salah satu orangtua kehilangan pekerjaan. Situasi seperti ini bisa mengganggu keuangan rumah tangga apabila kamu gak memiliki simpanan khusus untuk menghadapi kebutuhan mendesak.
Idealnya, kamu mulai membangun dana darurat setara tiga hingga enam bulan pengeluaran rutin sebelum punya anak. Sebagai contoh, kalau kebutuhan rumah tanggamu mencapai Rp5 juta per bulan, target dana darurat yang bisa kamu kejar adalah Rp15 juta hingga Rp30 juta. Jumlah tersebut dapat disesuaikan dengan kestabilan penghasilan, jumlah tanggungan, dan risiko pekerjaanmu. Simpan dana ini di tempat yang relatif mudah dicairkan dan terpisah dari rekening untuk kebutuhan sehari-hari supaya gak gampang terpakai.
4. Mulai mempersiapkan dana pensiun

ilustrasi saving (vecteezy.com/Teerasan Phutthigorn) Ketika memikirkan masa depan anak, kamu mungkin lebih sering berfokus pada biaya persalinan, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari. Padahal, masa pensiunmu sendiri juga perlu dipersiapkan sejak dini, lho. Jangan sampai seluruh penghasilan habis untuk memenuhi kebutuhan keluarga sampai kamu gak memiliki kesempatan membangun tabungan untuk masa tua.
Memulai persiapan pensiun sebelum memiliki anak bisa memberikan waktu lebih panjang bagi tabunganmu untuk berkembang. Kamu dapat mempertimbangkan instrumen yang sesuai dengan tujuan, jangka waktu, dan profil risiko, misalnya melalui program pensiun atau investasi jangka panjang yang dipahami dengan baik. Gak perlu menunggu penghasilan menjadi sangat besar untuk mulai menyisihkan uang. Kamu bisa memulainya dari nominal yang realistis, lalu meningkatkannya seiring pertumbuhan penghasilan.
Persiapan ini juga membantu mengurangi risiko ketergantungan finansial kepada anak ketika kamu sudah gak produktif bekerja. Nantinya, anak tetap bisa memberikan perhatian dan dukungan sesuai kemampuannya tanpa harus memikul seluruh tanggung jawab keuanganmu. Dengan begitu, kamu dan pasangan memiliki kesempatan lebih besar untuk menikmati masa tua dengan tenang.
5. Mempersiapkan biaya pendidikan dan perlindungan kesehatan

ilustrasi anak sedang belajar (pexels.com/Gustavo Fring) Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan jangka panjang yang perlu masuk dalam perencanaan keuangan keluarga. Biayanya bisa mencakup uang pangkal, uang sekolah, buku, perlengkapan belajar, hingga pendidikan tinggi ketika anak beranjak dewasa. Karena pengeluaran tersebut berlangsung selama bertahun-tahun, akan lebih mudah jika kamu mulai menyiapkannya secara bertahap daripada mengumpulkan seluruh biaya dalam waktu singkat.
Kamu bisa membuat tabungan pendidikan khusus dan menentukan target berdasarkan jenjang pendidikan yang ingin dipersiapkan. Perhitungkan juga kemungkinan kenaikan biaya pendidikan seiring berjalannya waktu. Meski belum mengetahui sekolah atau universitas yang akan dipilih anak kelak, kamu tetap bisa memulai dengan nominal yang sesuai kemampuan keuangan saat ini.
Selain pendidikan, pastikan kamu dan pasangan memiliki perlindungan kesehatan yang memadai sebelum menyambut anak. Periksa apakah asuransi kesehatan yang dimiliki mencakup pemeriksaan kehamilan, persalinan, dan kebutuhan medis lain yang relevan. Kamu juga perlu menyiapkan dana untuk biaya yang mungkin tidak ditanggung asuransi, termasuk pemeriksaan tambahan atau perawatan setelah persalinan. Setelah anak lahir, segera periksa ketentuan untuk mendaftarkannya ke dalam perlindungan kesehatan keluarga supaya gak melewatkan batas waktu yang berlaku.
Mencapai lima target keuangan tersebut bisa membantumu dan pasangan menjalani kehidupan sebagai orangtua dengan persiapan yang lebih matang. Meski begitu, kamu gak harus menunggu sampai seluruh kondisi keuangan benar-benar sempurna untuk mulai merencanakan keluarga, ya.
Setiap orang memiliki situasi, penghasilan, dan prioritas yang berbeda, sehingga target keuangannya pun bisa disesuaikan. Hal terpenting adalah memahami tanggung jawab finansial yang akan dihadapi, menyusun rencana yang realistis, dan mulai mengambil langkah kecil sedini mungkin.























