Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Premi Asuransi Jiwa Syariah Drop 20,2 Persen, Tertekan Proses Spin-Off
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat total pendapatan premi industri asuransi jiwa mencapai Rp94,75 triliun. (Dok/Istimewa).
  • Pendapatan premi asuransi jiwa syariah turun 20,2 persen secara tahunan, dari Rp11,99 triliun pada semester I-2025 menjadi Rp9,57 triliun pada semester I-2026.
  • AAJI menyebut proses spin-off unit usaha syariah mengalihkan fokus perusahaan ke pemindahan portofolio dan persiapan entitas baru, sehingga menahan pertumbuhan premi jangka pendek.
  • Sebaliknya, premi asuransi jiwa konvensional tumbuh 12,7 persen menjadi Rp85,18 triliun; AAJI tetap menekankan pentingnya kualitas dan kesehatan bisnis jangka panjang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat pendapatan premi asuransi jiwa syariah terkoreksi hingga 20,2 persen secara tahunan (year-on-year). Angkanya menyusut dari Rp11,99 triliun pada semester I-2025 menjadi Rp9,57 triliun pada semester I-2026.

Ketua Dewan Pengurus AAJI, Albertus Wiroyo, menjelaskan penurunan ini dipicu kesibukan industri dalam mengawal proses pemisahan (spin-off) unit usaha syariah (UUS).

"Tahun ini adalah batas akhir spin-off unit usaha syariah, tentunya kesibukan ini sedikit banyak berpengaruh," ujar Albertus dalam konferensi pers Kinerja Industri Asuransi Jiwa Semester I-2026 di Grha AAJI, Jakarta, Senin (31/8/2026).

1. Segmen syariah tetap punya peran strategis

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)

Meski kontribusinya masih berada di bawah bayang-bayang unit konvensional, Albertus menegaskan segmen syariah tetap memegang peran krusial. Sektor ini menjadi instrumen penting untuk memperluas akses proteksi berbasis prinsip syariah bagi masyarakat.

Ia menekankan, penguatan struktur internal serta kesiapan ekosistem industri menjadi kunci utama mendorong pertumbuhan yang berkesinambungan di masa depan.

2. Premi asuransi jiwa konvensional tumbuh Rp85,18 triliun

ilustrasi dokumen asuransi (pexels.com/RDNE Stock project)

Berbanding terbalik dengan sektor syariah, lini bisnis konvensional justru menunjukkan performa impresif. Pendapatan premi asuransi jiwa konvensional melonjak 12,7 persen secara tahunan hingga mencapai Rp85,18 triliun.

Capaian dua digit ini menjadi sinyal kebangkitan industri setelah sempat tertahan di level satu digit pada beberapa periode sebelumnya.

Kendati demikian, AAJI mengingatkan pelaku industri agar tak hanya berfokus pada kuantitas premi, tetapi juga menjaga kualitas dan kesehatan bisnis jangka panjang.

3. Proses spin-off memang berpotensi menahan pertumbuhan premi dalam jangka pendek

ilustrasi asuransi (vecteezy.com/tapanakornkaow39714)

Ketua Bidang Keuangan, Permodalan, Investasi, dan Pajak AAJI, Meylindawati Tjoa, menilai tertahannya pertumbuhan premi syariah merupakan konsekuensi logis dari masa transisi. Perusahaan asuransi saat ini harus membagi fokus mengalihkan portofolio sekaligus menyiapkan entitas baru.

Namun, Meylindawati optimistis pasca-spin-off rampung, perusahaan asuransi jiwa syariah yang mandiri akan memiliki ruang gerak yang jauh lebih lincah dan berdaya saing tinggi.

"Kalau berdiri sendiri, saya percaya ke depan syariah akan bergerak lebih cepat. Semua sendiri, direktur dan komisaris terpisah, sehingga geraknya bisa lebih cepat," ujar Meylindawati.

Dengan demikian, penurunan premi syariah pada semester I-2026 lebih mencerminkan dampak proses transisi menuju pemisahan unit usaha. Setelah spin-off selesai, industri berharap entitas syariah dapat lebih fokus, mandiri, dan agresif menangkap potensi pasar yang masih besar.

Curated For You

Editorial Team

Related Article