Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Produk yang Viral Belum Tentu Bertahan Lama?

4 min read
Kenapa Produk yang Viral Belum Tentu Bertahan Lama?
ilustrasi belanja produk viral (unsplash.com/Dmitrii E.)
  • Produk viral sering menarik karena keunikan visual atau efek yang mudah dibagikan, tetapi rasa penasaran konsumen dapat menurun setelah produk terlalu sering muncul.
  • Popularitas tidak menjamin kebutuhan nyata; produk lebih berpeluang bertahan bila manfaatnya relevan untuk rutinitas, kualitasnya konsisten, dan mendorong pembelian ulang.
  • Algoritma cepat berganti tren serta kemunculan produk tiruan memperketat persaingan, sehingga bisnis perlu alasan kuat agar konsumen tetap memilih produknya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ada produk yang tiba-tiba terasa ada di mana-mana. Baru beberapa hari lalu belum pernah mendengarnya, sekarang produknya muncul terus di TikTok, Instagram, Threads, marketplace, sampai obrolan grup. Banyak orang kemudian ikut membeli karena penasaran atau takut ketinggalan tren.

Namun, popularitas seperti ini ternyata tidak selalu bertahan lama. Tidak sedikit produk yang sempat viral, tetapi beberapa bulan kemudian sudah jarang terdengar lagi. Sebenarnya, produk yang viral belum tentu bertahan lama di pasaran, ya?

  1. 1. Hanya viral karena menawarkan sesuatu yang baru

    ilustrasi jajanan viral
    ilustrasi jajanan viral (pexels.com/César O'neill)

    Salah satu alasan produk bisa viral adalah karena terlihat berbeda dari barang yang sudah ada. Bentuknya unik, cara menggunakannya menarik, kemasannya lucu, atau punya efek yang mudah ditampilkan dalam video pendek. Contohnya bisa dilihat dari minuman yang berubah warna, alat dapur dengan cara penggunaan yang tidak biasa, produk kecantikan dengan hasil before-after yang mencolok, sampai mainan koleksi yang menarik untuk dibuat konten unboxing.

    Media sosial memang sangat cocok untuk produk seperti ini. Dalam beberapa detik saja, orang bisa langsung memahami apa yang membuat sebuah produk menarik. Masalahnya, unsur keunikan ini biasanya tidak bertahan selamanya.

    Setelah terlalu sering melihat produk yang sama, rasa penasaran konsumen bisa berkurang. Video yang awalnya menarik untuk dibagikan akhirnya terasa biasa saja. Jutaan views pun belum tentu berarti jutaan orang benar-benar membutuhkan produk tersebut

  2. 2. Banyak produk viral tidak menyelesaikan masalah yang nyata

    ilustrasi fashion content creator
    ilustrasi konten viral (pexels.com/Miriam Alonso)

    Produk yang bisa bertahan lebih lama biasanya punya manfaat yang tetap dicari setelah tren selesai. Botol minum yang nyaman digunakan, skincare yang cocok dengan kulit, atau aplikasi yang membantu pekerjaan sehari-hari adalah contoh produk yang bisa masuk ke rutinitas konsumen. Sebaliknya, ada produk yang dibeli hanya karena sedang ramai. Konsumen melihat teman atau figur publik menggunakannya lalu merasa ingin ikut mencoba. Dorongan untuk membeli datang dari tren, bukan karena produknya benar-benar dibutuhkan.

    Pola seperti ini cukup mudah ditemukan dalam produk kecantikan, fashion, makanan, hingga gadget. Sebuah produk mungkin terlihat sangat menarik dalam video, tetapi belum tentu cocok untuk semua orang ketika digunakan sendiri. Di sinilah perbedaan antara perhatian dan kebutuhan menjadi penting. Orang bisa saja senang menonton konten tentang suatu produk tanpa benar-benar ingin menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

  3. 3. Algoritma media sosial cepat beralih ke tren baru

    ilustrasi TikTok
    ilustrasi TikTok (unsplash.com/Aaron Weiss)

    Produk viral juga harus berhadapan dengan sifat media sosial yang memang cepat berubah. TikTok, Instagram, YouTube Shorts, dan platform lainnya terus menyajikan konten baru kepada pengguna. Sebuah produk bisa ikut naik karena muncul bersama sound tertentu, challenge, format video, atau tren yang sedang ramai. Ketika perhatian pengguna mulai bergeser, produk tersebut bisa kehilangan kesempatan untuk muncul di beranda sebanyak sebelumnya.

    Siklus seperti ini membuat tren produk semakin pendek. Hari ini orang membicarakan satu produk sebagai barang yang wajib dimiliki, minggu berikutnya sudah muncul produk lain yang disebut-sebut lebih menarik.

    Kalau sebuah bisnis hanya mengandalkan algoritma untuk mendapatkan pembeli, penjualan bisa ikut turun ketika tren tersebut selesai. Karena itu, viral memang bisa mendatangkan perhatian besar, tetapi bisnis tetap perlu memikirkan apa yang membuat konsumen bertahan setelah perhatian tersebut hilang.

  4. 4. Produk tiruan muncul dengan cepat

    ilustrasi belanja oleh-oleh
    ilustrasi belanja produk viral (unsplash.com/Dmitrii E.)

    Begitu sebuah produk terbukti laris, biasanya tidak butuh waktu lama sampai muncul barang serupa. Hal ini cukup umum terjadi pada aksesori, kosmetik, perlengkapan rumah, fashion, sampai berbagai gadget murah. Konsumen akhirnya punya lebih banyak pilihan. Jika produk lain menawarkan fungsi yang hampir sama dengan harga lebih murah, akibatnya orang-orang tidak merasa perlu membeli produk yang pertama kali viral. Selain perihal harga, munculnya produk serupa juga bisa mengurangi kesan eksklusif. Barang yang awalnya dianggap unik karena hanya dimiliki oleh kelompok tertentu lama-kelamaan menjadi sesuatu yang mudah ditemukan di berbagai toko.

    Untuk bisnis, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri. Produk yang viral tidak cukup hanya untuk menarik perhatian. Brand juga perlu punya alasan yang membuat konsumen memilih produk tersebut dibandingkan dengan versi lain yang bermunculan.

  5. 5. Produk harus punya alasan untuk dibeli lagi

    ilustrasi toko kue
    ilustrasi toko kue viral (freepik.com/ASphotofamily)

    Satu hal yang membedakan produk viral dengan produk yang mampu bertahan adalah pembelian berulang. Konsumen mungkin tertarik untuk mencoba sesuatu satu kali karena melihatnya di media sosial. Namun, apakah mereka akan membelinya lagi setelah produk tersebut tidak lagi ramai? Belum tentu.

    Untuk produk makanan dan minuman, jawabannya bisa bergantung pada rasa, harga, kemudahan mendapatkan produk, dan pengalaman setelah membeli. Sementara pada skincare atau produk rumah tangga, konsumen mungkin akan kembali membeli jika manfaatnya memang terasa dan kualitasnya konsisten. Artinya, bisnis perlu mengubah pembeli yang datang karena tren menjadi pelanggan yang datang karena percaya. Ini tentu tidak bisa hanya mengandalkan promosi.

    Produk yang viral belum tentu bertahan lama karena satu-satunya daya tarik dari produk tersebut hanyalah ramai diperbincangkan. Sebaliknya, produk yang benar-benar berguna, kualitasnya konsisten, dan sesuai kebutuhan konsumen masih punya peluang untuk bertahan meskipun perhatian media sosial sudah berpindah ke tren berikutnya. Bagaimana menurutmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More